
Daffa menginjakkan kakinya di rumah setelah jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia berjalan menuju kamar, saat membuka pintu kamar terlihat istrinya yang sudah tertidur pulas. Daffa masuk perlahan menuju ranjang, menatap wajah istrinya yang tampak tidur dengan damai. Tangannya bergerak untuk mengusap dahi istrinya, menyingkirkan helaian anak rambut yang menutupinya, dan melabuhkan satu kecupan hangat di sana. Setelah itu ia berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya
Sekar membuka matanya perlahan saat merasakan suaminya tidak ada lagi di sisinya. Sedari tadi ia tidak tertidur, karena sejak beberapa jam yang lalu ia menunggu kepulangan suaminya seperti biasa. Namun saat melihat mobil suaminya memasuki gerbang, ia memilih berbaring di ranjang, dan pura pura tertidur. Ia belum ingin memulai interaksi apapun pada suaminya, sebab rasa sakit atas penolakan suaminya masih sangat terasa, walaupun kata kata yang diucapkan suaminya saat itu diucapkan dengan nada yang sangat amat lembut. Namun penolakan mampu menyadarkan Sekar tentang kedudukannya di hati suaminya
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Sekar segera menutup matanya kembali saat melihat suaminya yang kini kembali melangkah menuju ranjang. Dirasakannya kehangatan saat suaminya membawanya untuk tidur dalam pelukan suaminya tersebut. Jika tidak mengingat saat ini dirinya tengah berpura pura tidur, maka Sekar akan mengeluarkan kata makian untuk laki laki yang berstatus suaminya ini. Sebab dengan seenak hati membuat hatinya terluka, lalu tanpa ras bersalah membawanya kedalam pelukannya
"Maafkan aku..."
Sekar kembali merasakan pucuk kepalanya di kecup. Kehangatan dari kecupan itu benar benar menjalar ke seluruh tubuhnya. Sekar mati matian menahan air mata yang kini siap menetes. Selama ini suaminya terkesan sangat terpaksa melakukan segala apapun padanya. Keterpaksaan yang berawal dari kesepakatan untuk memperbaiki hubungan. Namun malam ini, ia merasakan sebuah ketulusan yang benar benar nyata atas ucapan dan perlakuan suaminya.
__ADS_1
*
Sekar terbangun dari tidurnya, Ia melihat sisi pembaringan yang di tempati suaminya. Suaminya masih tampak terlelap dengan begitu nyaman. Sekar segera memalingkan pandangannya, karena jika ia terlalu lama memandang wajah tampan itu, maka ia tidak akan bisa mengontrol dirinya untuk menyentuh atau bahkan mencium wajah tampan itu. Sekar beranjak menuju kamar mandi, berwudhu lalu shalat subuh seperti biasa. Namun yang berbeda sejak beberapa hari ini adalah, ia tidak lagi melabuhkan kecupan hangat di wajah suaminya.
Sekar duduk diatas sajadah dengan bersandar pada nakas yang berada di dekatnya. Ia memandang wajah suaminya yang masih asik berkelana ke alam mimpinya. Tanpa terasa air mata yang sudah berusaha Sekar tahan sejak semalam kini luruh tanpa bisa ia cegah
"Salahkah jika hamba menginginkan suami hamba sendiri ya Allah? Salahkah jika hamba mendambakan hal yang memang seharusnya hamba dapatkan?"
Ya, jauh didalam lubuk hatinya, Sekar merasa harga dirinya benar benar di injak injak. Hanya dengan alasan tidak ingin menyakiti, suaminya memilih untuk tidak menyentuhnya. Padahal rasa sakit dari penolakan itu lebih besar dari apapun. Entah mengapa Sekar merasa semua usahanya untuk mendekati suaminya terasa sia sia
"Nyonya belum keluar dari kamar nona"
__ADS_1
Sekar menatap jam yang terpajang di dinding dapur yang menunjukkan pukul lima tiga puluh. Tidak biasanya Mama Mertuanya tidak ke dapur di jam memasak seperti ini. "Bibi masak apa pagi ini?" tanya Sekar
"Masakannya sudah selesai non, hanya tinggal membuat sayur sop" balas Bik Wati
"Kalau begitu biar aku yang membuat sayur sop" Sekar langsung mengolah berbagai macam sayuran yang ada di meja. Mulai dari mengupas kentang, memotong kol, dan mengikis kulit wortel. Selesai dengan itu, ia segera memasak semua sayuran tersebut dengan begitu cekatan. Setelah di rasa matang, kini Sekar membalik badannya hendak mengambil daun bawang. Namun sayang daun bawang yang akan ia gunakan lupa untuk ia potong, yang akhirnya memaksanya untuk memotong daun bawang tersebut
"Awww..." Sekar mengibaskan tangannya yang kini mengeluarkan darah segar
"Non, Nona tidak apa apa?" tanya Bik Wati
"Tidak Bik, ini luka kecil. Tapi tolong selesaikan sayurnya ya Bik" pinta Sekar
__ADS_1
"Baik Nona"
Sekar segera melangkah kembali menuju kamarnya "Padahal sedari tadi memotong sayuran sebanyak itu aku tidak terluka, kenapa hanya karena memotong daun bawang sedikit saja aku malah terluka begini" gerutu Sekar.