
Tepat pukul sepuluh malam, mobil yang dikemudikan Daffa tiba di halaman kediaman Dirgantara. Ia segera keluar dari mobil, dan masuk kedalam rumah, dan langsung saja berjalan menuju lantai dua, dimana kamarnya berada. Ia membuka pintu kamarnya, dan mendapati kamar dalam keadaan kosong.
Daffa tampak bertanya dalam hati, dimana istrinya berada. Namun ia tidak terlalu ambil pusing, dan dirinya langsung berjalan menuju kamar mandi. Selesai dengan membersihkan tubuhnya, ia keluar dari kamar mandi, berharap menemukan istrinya. Namun ia masih belum melihat adanya istrinya di kamar. Daffa segera keluar dari kamar, dan mencari istrinya
"Dimana dia?" monolog-nya
Daffa segera mencari Sekar ke setiap sudut rumah. Hingga akhirnya ia menangkap adanya istrinya yang tampak tertidur di meja makan. Daffa berjalan pelan menuju meja makan, melihat masakan yang sudah tersedia diatas meja makan tersebut, dan semua makanan itu merupakan makanan favoritnya yang ia ucapkan tadi siang. Tanpa terasa, senyum kecil terbit di sudut bibir Daffa. Ia segera menggendong istrinya, dan membawanya menuju kamar
"Selamat malam" Entah dorongan darimana, yang pasti satu ciuman ia labuhkan di pucuk kepala istrinya, dengan senyum yang masih terpatri. Setelah meyakini istrinya tidur dengan nyaman, Daffa segera naik keatas ranjang, dan ikut berbaring bersama sang istri
__ADS_1
*
Sekar terbangun tepat pukul tiga dini hari. Ia menatap ruangan yang terasa tidak asing untuknya, ia melirik ke samping, ada suaminya yang tampak masih tertidur pulas. Sekar mulai mengingat ingat apa yang terjadi semalam, karena seingatnya ia tertidur di meja makan karena menunggu kepulangan suaminya, dan kini ia berada didalam kamar, dan satu ranjang bersama suaminya. Apa mungkin suami tampannya ini yang telah memindahkannya?
Sekar tidak mau terlalu ambil pusing. Ia segera menuju kamar mandi, dan mulai membersihkan wajahnya, setelah itu ia mengerjakan tugas biasanya, berwudhu dan lanjut shalat tahajud. Selesai dengan semua itu, ia kembali menadahkan tangannya dengan rapalan do'a yang hanya ia ucapkan dalam hati. Namun air mata tetap menetes di kedua matanya, menandakan betapa dirinya sangat khusyuk dalam do'a nya.
"Apa kau mendo'a-kan aku?" tanya Daffa dengan suara serak khas bangun tidur
"Selalu" jawab Sekar pasti
__ADS_1
"Terimakasih"
Tubuh Sekar menegang saat mendapati lagi lagi suaminya memperlakukannya begitu hangat. Bahkan kini ia sedang berada dalam pelukan hangat suaminya. Sekar tersenyum menerima pelukan ini, ia mendekap erat tubuh suaminya, seakan tidak ingin jika kehangatan ini berakhir
Perlahan ia merasakan suaminya mengangkat wajahnya, hingga kini wajah keduanya sudah berhadapan. Bahkan hidung keduanya sudah bersentuhan karena terlalu dekat. Dada Sekar seakan ingin meledak saat menerima perlakuan suaminya, ia memejamkan mata, bersiap menerima sesuatu yang mungkin akan suaminya lakukan padanya. Namun didetik berikutnya, ia merasakan tubuhnya di dorong, dan tanpa kata suaminya langsung berjalan menuju kamar mandi
Sekar hanya diam, menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Entah mengapa ada sisi hatinya yang terluka mendapati suaminya yang terkesan enggan menyentuhnya. Namun Sekar menggelengkan kepala, menghalau segala pemikiran buruk yang kini hinggap di kepalanya. Ia melepas mukena yang masih ia kenakan, dan menunggu suaminya yang tampak masih betah di kamar mandi
Terhitung satu jam suaminya berada didalam sana. Namun belum ada tanda tanda bahwa suaminya akan keluar. Merasa bosan, akhirnya Sekar memilih turun ke dapur untuk membantu Bik Wati, dan Mama Carissa yang pasti tengah memasak
__ADS_1