
Daffa kembali bergelut dengan pekerjaannya setelah menghabiskan makan siang yang dibawakan Sekar. Sedangkan Sekar hanya duduk di sofa seperti orang bingung, sebab ia tidak memiliki tempat untuk bicara, dan ia pun tidak memiliki ponsel untuk menghilangkan kebosanannya. Akhirnya ia memilih beranjak, dan. mendekati meja kerja suaminya
"Mas butuh kopi tidak?" tanya Sekar
"Boleh" ucap Daffa tanpa mengalihkan tatapannya dari berkas didepannya "Kau tinggal ke pantry saja, letaknya di ujung lantai ini" ucap Daffa
Tanpa menunda waktu, Sekar segera menuju pantry dan membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. Setelah selesai, ia kembali membawa kopi tersebut ke ruangan suaminya. "Silahkan Mas"
"Terimakasih"
Daffa melepas pulpen yang ada di tangannya. Lalu menyeruput kopi buatan istrinya yang tampaknya sangat nikmat, dan benar saja di seruputan pertama, rasa kopi itu benar benar terasa nikmat. Katakanlah bahwa dirinya menyukai kopi buatan istrinya ini. Karena itulah kenyataannya.
Selama ini hanya kopi buatan Bik Wati yang selalu menemani paginya. Jika siang ia akan jarang sekali mengkonsumsi kopi karena tidak ada yang bisa membuat kopi se-enak buatan Bik Wati. Tapi kini, ia menarik kata katanya, karena buatan istrinya jauh lebih enak daripada buatan Bik Wati
__ADS_1
"Apa yang kau tambahkan kedalam kopi ini?" tanya Daffa
"Kau yakin ingin tahu?" tanya Sekar menggoda, ia lantas kembali mendekati kursi suaminya, dan duduk di pangkuannya, membuat Daffa terbatuk karena sisa kopi dalam mulutnya yang belum sempat tertelan
Uhuk... Uhuk...
Sekar mengusap dada suaminya untuk meredakan batuk yang kini masih dirasakan suaminya. Namun ia tidak tahu jika aksinya itu membuat sesuatu dalam diri Daffa seakan terbakar. Bahkan keringat dingin mulai membasahi pelipis laki laki itu
"Bangun... jangan seperti ini" ucap Daffa berat
"Kenapa? Aku istrimu, apa aku tidak boleh duduk dipangkuan suamiku?" tanya Sekar
Daffa tidak lagi menjawab, ia justru berusaha untuk bangkit dari kursinya. Sedangkan Sekar yang merasakan tubuh suaminya hendak berdiri, dengan segera turun dari pangkuan suaminya, karena ia takut jika dirinya tetap berada disana, maka ia akan jatuh. Ia hanya menatap suaminya yang menutup pintu toilet, ia lalu memegang dadanya yang berdegup begitu kencang
__ADS_1
"Dia mengacuhkanku saja aku masih tetap mencintainya, lalu bagaimana jika nanti dia juga sudah mencintaiku, aku pasti akan semakin besar mencintainya" monolog Sekar dengan senyum di bibirnya
Sementara di dalam sana, Daffa mengusap wajahnya yang tampak memerah. Ia menghadap cermin, dan membasuh wajahnya. Sungguh, ia adalah seorang laki laki normal, meski selama ini ia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, tapi dirinya bisa merasakan getaran yang seakan tersengat listrik jika diperlakukan seperti tadi.
Daffa mengusap dadanya yang berdetak tak karuan, serta menatap kemejanya yang sudah sedikit kusut karena sentuhan istrinya tadi. Mulai sekarang ia harus berhati hati dengan istri berkedok temannya itu. Ya istri berkedok teman, sebab wanita itu berstatus istrinya. Namun menduduki kursi pertemanan dalam dirinya
Setelah kembali menormalkan dirinya. Daffa keluar dari toilet dan kembali menemui istrinya yang kini sudah duduk manis kembali di sofa. Melihat dirinya keluar dari toilet, istrinya juga tampak berdiri dan mendekatinya dengan rantang, dan tas kecil di tangannya
"Aku akan pulang Mas, ingat jangan lembur karena di rumah ada istri yang menunggu" ucap Sekar
Cup
Daffa kembali menegang saat lagi lagi ciuman hangat ia dapatkan dari istri agresif-nya. Lalu tanpa rasa bersalah, istrinya berjalan santai menuju pintu ruangan, dan keluar begitu saja. Meninggalkan dirinya yang tampak mengaduh karena degupan jantungnya yang kian berpacu
__ADS_1