
Sekar membuka pintu kamar perlahan, setelah ia masuk, barulah ia menutup kembali pintu kamar tersebut. Sekar mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan untuk mencari keberadaan suaminya. Namun suaminya sama sekali tidak terlihat. Tidak lama, pintu ruang ganti terbuka, menampilkan Daffa yang telah selesai membersihkan tubuh, dan kini telah berpakaian santai
Sekar berjalan mendekat, ia berdiri tepat didepan suaminya "Mas kenapa? Sakit?" tanya Sekar saat menyadari keanehan pada suaminya
"Tidak, aku hanya lelah" Daffa segera berjalan menuju ranjang, meninggalkan Sekar yang masih berdiri di tempat semula.
Sekar menatap suaminya yang kini berbaring memunggungi dirinya. Sekar lantas berjalan menuju ranjang, dan ikut bergabung bersama sang suami. Ia ikut berbaring menghadap langit langit kamar, entah apa yang ia pikirkan.
"Mas..."
Tidak ada sahutan dari Daffa membuat Sekar benar benar dilanda kebingungan. Ia bisa pastikan jika saat ini suaminya masih belum terlelap. Tapi mengapa suaminya diam, dan tidak menanggapi perkataannya sedikitpun?
__ADS_1
"Mas ada masalah?" tanya Sekar meskipun ia tidak yakin akan mendapat sahutan, dan benar saja perkataannya kembali tidak mendapat jawaban. Sekar membalik posisinya hingga kini ia berbaring dengan menghadap suaminya. Dipeluknya punggung tegap itu dari belakang "Jika Mas ada masalah, tolong jangan pendam sendiri. Bukankah kau mengatakan berteman denganku, jadi ayo ceritakan apapun pada temanmu ini. Aku mohon, jangan seperti ini"
Daffa membalik tubuhnya, mendengar nada permohonan yang dilontarkan istrinya. Ia menatap wajah yang kini tengah balik menatapnya itu. Ia sama sekali tidak marah pada Sekar, tapi ia marah pada dirinya sendiri.
"Jangan memohon padaku Sekar"
"Aku tidak suka jika kau mendiamkanku, itu sebabnya aku memohon padamu untuk bercerita segala keluh kesahmu. Aku sahabatmu bukan? Jadi katakan padaku ada apa"
"Kau bukan temanku, kau adalah istriku" ucap Daffa, ia mengubah posisinya, dan kini ia duduk bersandar pada headboard
"Jangan lakukan ini Sekar" ucap Daffa serak, sebab saat ini mereka berada dalam satu ranjang yang sama, bahkan tidak berjarak sedikitpun. Ia takut jika dirinya tidak bisa menahan sesuatu yang liar dalam dirinya
__ADS_1
"Aku mencintaimu Mas"
Daffa melepas rengkuhan istrinya. Ia hendak bangun, tapi langkahnya di tahan oleh sang istri yang kini memegang lengannya, membuat sesuatu yang bergejolak dalam diri Daffa kian bertambah "Aku mohon lepaskan aku, aku tidak tahan" ucap Daffa
"Kenapa kau lebih memilih membuangnya? Apa kau tidak ingin memiliki keturunan bersamaku?" tanya Sekar seolah tahu tujuan suaminya yang akan kembali mencari kepuasan sendiri
"Aku tidak bisa Sekar, aku mohon lepaskan aku" pinta Daffa lagi, bahkan kini wajahnya sudah memerah. Jika ditanya mengapa ia bisa dengan cepat merasakan gejolak yang luar biasa ini hanya dengan pelukan yang diberikan istrinya. Maka jawabannya adalah, karena aset berharga istrinya benar benar membuat sesuatu dalam dirinya bangkit
"Aku siap Mas"
"Sekar..." Daffa diam, ia tidak kungkin mengubah prinsipnya, ia tidak mungkin menyentuh istrinya sedangkan ia belum memiliki cinta untuk wanita itu "Ini tidak akan mudah, jangan sampai kau menyesal" ucap Daffa
__ADS_1
"Aku percaya padamu" ucap Sekar yakin
Daffa kembali duduk di ranjang saat tangan istrinya kini memaksanya untuk kembali duduk. Ia menatap wajah istrinya dengan jantung yang berdegup kencang. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada jantungnya "Aku mohon jangan hancurkan prinsip yang sudah aku bangun, kau akan menyesal Sekar, karena aku sama sekali belum mencintaimu. Jangan sampai aku menyakitimu dengan melakukannya tanpa cinta. Aku tidak ingin menyakitimu"