Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku

Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku
Bab 102


__ADS_3

Daffina dan Gavin duduk di sofa yang tadi ditempati Daffa dan Sekar. Sedangkan sepasang calon orang tua itu, kini tengah berfoto. Daffina tersenyum melihat Kakaknya yang terkadang mencuri ciuman pada sang Kakak Ipar, dan hal itu membuatnya bahagia. Setelah sekian lama tidak melihat kebahagiaan di wajah Kakak kembarnya, kini ia bisa melihat binar bahagia yang terlihat secara nyata


"Sekarang, Tuan berdiri dibelakang Nyonya" ucap fotografer yang langsung saja di turuti Daffa "Oke, kedua tangan Tuan silahkan memeluk perut Nyonya"


"Begini?" tanya Daffa


"Iya, benar. Untuk Nyonya, silahkan tangannya ikut memeluk perut ya" ujar fotografer lagi "Ya, seperti itu. Oke, satu dua tiga" fotografer melihat hasil tangkapannya "Perfect"


"Mas, boleh aku lihat hasilnya?" tanya Sekar pada fotografer


"Tentu Nyonya" laki laki tersebut menyerahkan kameranya pada Sekar


"Mas, ini baguskan?" tanya Sekar pada Daffa


"Iya, aku terlihat tampan disana" ujar Daffa


"Aku juga terlihat cantik" ucap Sekar tak mau kalah

__ADS_1


"Kau memang selalu cantik Sayang" puji Daffa


Daffina berjalan mendekati Kakak dan Kakak Iparnya bersama Gavin dan Aksa "Kak, aku ingin kita semua foto bersama sama" ucap Daffina


"Oke, Mas tolong fotokan lagi" pinta Daffa


Mereka kembali berfoto dengan berbagai gaya. Bahkan Aksa terlihat sangat bahagia dengan aksi foto mereka. Selesai berfoto, mereka melepas pakaian adat yang sejak tadi mereka kenakan.


"Huh, akhirnya lega" Sekar mengusap perutnya. Tadi ia sedikit merasa sesak mengenakan pakaian adat tersebut. Meskipun pakaian yang ia kenakan sudah di siasati agar membuatnya nyaman, tapi tetap saja, memakai pakaian adat yang tidak ringan dalam waktu yang lama membuatnya cukup merasa engap


Aksi foto selesai. Kini mereka semua telah kembali membelah jalan, dan pergi dari studio. Perjalanan cukup menyenangkan, sebab sepanjang jalan, mereka mendengar celotehan yang tidak hentinya Aksa ucapkan. Sesekali Sekar menengok ke belakang, ia juga ikut senang mendengar celotehan demi celotehan yang Aksa ucapkan. Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan Daffa tiba di sebuah restoran


"Ayo Sayang" Daffa menarik kursi untuk ditempati istrinya


"Terima kasih Mas" ucap Sekar.


Melihat apa yang dilakukan calon Kakak Iparnya, membuat Gavin juga ikut menarik kursi untuk Daffina, sedangkan Aksa berada dalam gendongannya "Silahkan Sayang" ujarnya sembari menarik kursi untuk Daffina

__ADS_1


"Hei, jangan panggil adikku sayang, kalian belum menikah, ahhh" Daffa menjerit keras saat ucapannya terpotong karena istrinya yang kembali mencubit pahanya


"Biarkan Kak Gavin memanggil sayang, memang apa salahnya, dia kan ingin berusaha menjadi calon suami romantis, tidak sepertimu" ucap Sekar


"Sayang, aku juga tidak kalah romantis darinya" ujar Daffa tak terima


"Ya ya ya kau memang suamiku yang paling romantis" ucap Sekar sembari mencubit gemas pipi suaminya "Karena tidak ada yang lain" ucapnya lirih sembari menampilkan deretan giginya


Mereka memulai makan siang. Gavin masih tetap memangku Aksa yang kini makan dengan di suapi oleh Daffina. Melihat Daffina yang belum memakan sesuap pun membuat Gavin akhirnya berinisiatif untuk menyuapinya


"Buka mulutmu" ucap Gavin sembari menyodorkan satu sendok makanan kepada Daffina


"Terima kasih" Daffina menerima suapan tersebut dengan malu malu. Diperlakukan romantis oleh calon suami di hadapan Kakak dan Kakak Iparnya membuatnya sedikit salah tingkah. Ia kembali mengambil makanan dan menyuapkannya pada Aksa yang berada di pangkuan Gavin


Sedangkan Daffa yang melihat bagaimana Gavin memperlakukan adiknya hanya tersenyum tipis. Bohong jika ia mengatakan tidak bahagia melihat kebahagiaan adiknya. Karena setiap bahagia yang Daffina rasakan, secara tidak langsung mengalirkan rasa bahagia juga dalam hatinya. Ikatan batin antara dirinya dan Daffina benar benar kuat


"Kau ingin aku suapi juga?" tanya Daffa pada Sekar

__ADS_1


"Katanya suami romantis, kenapa berbuat romantis harus bertanya terlebih dahulu, dasar menyebalkan"


Daffa kelimpungan mendapati istrinya yang tampak kesal. Ini benar benar derita untuknya, sebab selama masa kehamilan, mood istrinya benar benar tidak bisa di tebak, dan itu membuat Daffa benar benar harus berhati hati dalam bersikap. Sedangkan Daffina dan Gavin yang melihat bagaimana Daffa yang tampak membujuk istrinya hanya cekikikan. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Daffa saat ini, sebab Sekar terlihat menghapus jejak air mata yang entah sejak kapan mulai mengalir di pipinya


__ADS_2