Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku

Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku
Bab 42


__ADS_3

Jika Daffa sedang menumpahkan keluh kesahnya. Maka berbeda dengan Tuan Riko yang tampak duduk termenung di ruang kerjanya. Ia menatap kosong dengan segala bayangan yang mulai berputar dalam benaknya.


Flashback


"Riko... Kakak ingin memberikan ini padamu, ini adalah titipan terakhir yang Bianca berikan, dia berharap agar kau bisa memenuhi keinginan terakhirnya yang tidak sempat ia ucapkan" Wanita yang merupakan Kakak dari Riko itu memberikan satu buah buku ke hadapan Riko


Riko menatap buku tersebut. Sebuah buku kecil yang bertuliskan Dairy. Tanpa pertimbangan, Riko mulai membuka lembar demi lembar buku tersebut, dan menampakkan beberapa foto kenangan milik istrinya. Mulai dari foto masa kecil, hingga foto saat istrinya mengikuti berbagai ajang bergengsi. Riko terus membuka lembaran buku tersebut, hingga ia menemukan satu tulisan besar yang tertulis dengan tinta berwarna gold

__ADS_1


...Untuk Suamiku...


...Hai, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Beberapa hari yang lalu aku sempat memimpikan Bunda secara berturut turut, beliau kesepian dan memintaku untuk ikut bersamanya. Dalam mimpi itu aku sempat menolak, tapi Bunda mengatakan bahwa ia akan kembali menjemputku nanti....


...Aku sempat berpikir tentang arti mimpi itu, dan entah mengapa pikiran buruk mulai berkelana dalam benakku. Jujur aku takut mengatakan ini padamu. Tapi jika benar hal buruk akan terjadi dalam keluarga kita. Maka aku mohon jagalah buah hati kita, dan aku mohon nikahilah Carissa, karena hanya dia yang pantas untuk mengasuh kedua anak kita. I love you suamiku...


Namun setelah tiga tahun berlalu, bayang bayang tentang amanah yang disampaikan istrinya menghantui dirinya. Hingga akhirnya ia memilih untuk menjalankan amanah tersebut. Namun tanpa cinta. Ya, ia menikahi Carissa tanpa cinta, bahkan surat perjanjian yang telah ia tulis, sudah disetujui oleh dirinya dan Carissa

__ADS_1


*


Riko mengusap wajahnya kasar. Jujur ia merasa bersalah pada Carissa. Selama dua puluh lima tahun bersama, wanita itu tidak mendapatkan hak nya sebagai seorang istri. Hak yang istrinya dapatkan hanya nafkah lahir, sebab segala kebutuhan istrinya selalu ia cukupi. Namun untuk nafkah batin, selama mereka bersama, Riko tidak pernah melakukan penyatuan pada wanita itu. Mereka hanya mencoba mencari kepuasan dengan saling membantu satu dan lainnya


Namun dengan semua yang ia lakukan pada Carissa, istrinya itu tetap berada di sisinya hingga detik ini. Bahkan saat Daffa lagi dan lagi menyakiti perasaannya dengan mengatakan dirinya pembunuh, wanita itu tetap menyayangi kedua anaknya dengan sepenuh hati. Ia ingin menjelaskan pada putranya, bahwa apa yang Daffa dengar dari sepenggal kisah yang sempat ia ceritakan tidaklah benar. Karena saat itu, Daffa hanya mendengar sepenggal kisah, yang membuat Ibu Sambungnya tersudut, dan sejak saat itu, Daffa membangun benteng, dan meyakini dalam hatinya bahwa Ibu Sambungnya adalah sosok pembunuh.


"Maafkan aku..." ucap Riko lirih, entah kepada siapa. Entah pada sosok Nyonya besar Bianca yang sampai saat ini masih memenuhi isi hatinya. Atau pada Nyonya Carissa yang merupakan istri keduanya.

__ADS_1


__ADS_2