
Beberapa minggu berlalu, hubungan antara Mama Carissa dan Daffa benar benar membaik. Keduanya sering mengobrol ringan, dan kadang Daffa menunjukkan perhatiannya pada Ibu Sambungnya itu denagn membelikan makanan, dan lain sebagainya. Pagi ini, Daffa turun dari kamarnya dengan wajah berseri seri. Sejak hubungannya dan Mama Carissa membaik, wajah dingin yang selalu ia tampakkan sirna begitu saja. Tiba di dapur, ia melihat istrinya yang tengah menata hidangan sarapan di meja makan. Dengan segera, Daffa ikut menata makanan tersebut
"Pagi Ma, Dad... " sapa Sekar saat melihat kedua mertuanya masuk ke ruang makan
"Pagi sayang, kalian memasak apa?" tanya Mama Carissa
"Masakan kesukaan Mas Daffa Ma, maaf ya pagi ini masakannya favorit Mas Daffa semua. Ini sudah di reques langsung oleh Mas Daffa" jawab Sekar
Mama Carissa tersenyum melihat bagaimana hubungan anak dan menantunya yang sudah terjalin dengan begitu baik "Tidak apa apa, Mama dan Daddy memakan apa saja, jadi tidak masalah jika makanan kali ini adalah favorit suamimu. Iya kan Mas?" tanya Mama Carissa meminta persetujuan yang langsung saja di angguki Tuan Riko
"Pagi ini kau ke kantor kan Daff?" tanya Tuan Riko sembari duduk di kursinya
"Iya Dad, hari ini akan ada pertemuan penting dengan perusahaan Delf'company, dan aku harus menghadirinya"
__ADS_1
Sekar mengambilkan makanan untuk suaminya seperti biasa. Setelah itu ia menaruh piring berisi makanan tersebut di hadapan suaminya. Namun hal mengejutkan terjadi, dimana Daffa yang tampak berlari menuju wastafel dengan menutup mulutnya. Didetik berikutnya suara muntahan Daffa terdengar. Mendengar suaminya yang tampak mual di belakang sana, membuat Sekar khawatir, dan akhirnya ikut menyusul suaminya
"Mas..." panggilnya pelan. Namun sama sekali tidak mendapat jawaban
Sekar mendekati suaminya, dan mengusap punggung tegap suaminya. Di usapnya punggung itu beberapa kali, tapi tetap saja tidak mampu meredakan mual yang dialami suaminya. Berselang beberapa menit, akhirnya Daffa menghentikan muntahannya. Daffa membalik tubuhnya, sehingga dapat Sekar lihat wajah suaminya yang sudah dipenuhi keringat dingin
"Mas baik baik saja?" tanya Sekar khawatir, dan hanya di jawab Daffa dengan anggukan, sebab saat ini tubuhnya terasa sangat lemah "Ya sudah kita kembali ke meja makan ya"
"Tidak Sayang, aku akan mual lagi jika mencium bau masakan di meja makan" ujar Daffa
"Aku tidak tahu, tapi aku akan mual jika mencium baunya. Aku ke kamar saja ya"
"Ya sudah kalau begitu aku antar" tawar Sekar tak tega, sebab wajah Daffa benar benar terlihat pucat
__ADS_1
"Tidak, kau makan saja bersama Mama dan Daddy, biar aku ke kamar sendiri"
"Mas yakin?" tanya Sekar, yang langsung saja diangguki Daffa
Sekar memapah Daffa menuju tangga. Setelah itu ia membiarkan suaminya tersebut menaiki tangga seorang diri. Sedangkan dirinya kembali menuju meja makan, dan bergabung kembali bersama kedua mertuanya
"Daffa kenapa Sekar?" tanya Mama Carissa
"Tidak tahu Ma, katanya mual"
"Mual?" Mama Carissa melirik Daddy Riko yang juga tengah melihat kearahnya "Maksudmu mual bagaimana?"
"Aku tidak tahu Ma, tapi Mas Daffa bilang bahwa dirinya mual karena mencium bau makanan"
__ADS_1
"Mual karena mencium bau makanan di pagi hari. Apa jangan jangan..."