
Sekar menuruni tangga menuju lantai satu dimana dapur berada. Siang ini ia berencana untuk mengunjungi kantor suaminya, dengan membawakan makan siang. Gips di kakinya sudah dilepas beberapa hari yang lalu, dan kini ia kembali bebas ber-aktivitas.
Tiba di dapur, Sekar segera mengeluarkan sayuran yang akan ia masak. Tangannya dengan lihai memotong berbagai jenis sayur, serta bumbu bumbu lain, seperti bawang, cabai dan lainnya. Setelah siap, ia mulai mengolah sayuran sayuran tersebut, hingga bau harum masakannya tercium hingga ke seluruh ruangan rumah, membuat Daffina yang tengah bersantai di ruang keluarga akhirnya menuju dapur
"Kakak masak?" tanya Daffina sembari berjalan mendekat, tentu dengan ponsel ditangannya
"Hai Fin, iya ini untuk makan siang Mas Daffa" jawab Sekar
"Cie... mentang mentang sudah baikan, panggilannya jadi Mas" goda Daffina yang hanya dijawab senyuman oleh Sekar
"Oh iya, apa makanan favorit Mas Daffa?" tanya Sekar, sebab ia belum begitu mengenal suaminya dengan baik
"Kak Daffa tidak memiliki makanan favorit, dia biasanya akan memakan makanan, jika mood-nya baik, dan tentu saja jika makanan itu adalah hasil masakan Bik Wati" terang Daffina
"Jika hasil masakan Mama?" tanya Sekar bodoh, padahal ia pasti sudah bisa menebak jawabannya
__ADS_1
"Kakak Ipar pasti tahu"
Sekar selesai dengan masakannya. Ia mulai menata berbagai masakan yang ia masak kedalam rantang kecil yang sudah ia sediakan. Namun ia mengangkat pandangan, saat melihat Daffina yang duduk santai di meja makan
"Kau membutuhkan sesuatu Fin?" tanya Sekar
Perfect
Daffina menjentikkan jarinya "Kakak Ipar memang yang terbaik" ucap Daffina
"Mmm... Sekalian Kakak mengunjungi Kak Daffa, aku ingin meminta tolong, tolong bujuk Kak Daffa agar mengizinkanku pergi ke Lampung"
"Kau masih belum mendapatkan izin?" tanya Sekar, yang hanya dijawab gelengan lemah oleh Daffina "Tapi... Aku tidak yakin bisa melakukannya"
"Aku yakin Kakak Ipar pasti bisa. Meluluhkan bongkahan es-nya saja bisa, masa hanya sekedar membujuk tidak bisa"
__ADS_1
Sekar menatap Daffina dengan tatapan menelisik "Tapi aku ikut penasaran, kenapa harus cabang perusahaan yang ada di Lampung? Bukankah Mas Daffa pernah mengatakan bahwa cabang perusahaan tersebar di beberapa wilayah, tapi kenapa harus Lampung?"
"Because... Because there is something special there" ucap Daffina malu malu
Sekar terdiam, dengan pandangan yang masih tertuju pada adik iparnya. Jujur, ia ingin menangis saat ini, dirinya tidak mengerti bahasa inggris, lalu mengapa Adik Iparnya ini menggunakan bahasa inggris untuk menjawab pertanyaannya. Sedangkan Daffina yang masih tersenyum malu tampak menghentikan senyumnya saat menyadari tidak ada respon apapun dari Kakak Iparnya.
"Kakak okay?" tanya Daffina
"I'm okay" mungkin dari sekian banyak kosa kata bahasa inggris, dua kata itu yang bisa Sekar ucapkan, sebab ia tidak menguasai bahasa tersebut
"then what's wrong?"
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, jadi tolong perjelas lah" pinta Sekar akhirnya saat lagi lagi Adik Iparnya bertanya dengan bahasa inggris
"Oh... Jadi Kakak Ipar tidak mengerti? Aku pikir Kakak faham, karena Kakak terlihat memperhatikan perkataanku dengan seksama, aku hampir saja tersentuh, karena selama ini tidak ada yang begitu memperhatikanku saat berbicara, dan Kakak menjadi orang pertama. Tapi ternyata Kakak Ipar justru diam karena tidak memahami perkataanku" gerutu Daffina
__ADS_1
"Jadi katakan apa alasanmu?"