
Daffa membalik tubuhnya saat melihat Sekar kembali memasuki kamar. Ia masih diam sembari mengamati apa yang Sekar lakukan dari tempat tidur. Hingga kemudian ia melihat Sekar yang tampak mengambil plester dan berusaha untuk memakaikannya
"Kenapa kau bisa terluka?" tanya Daffa sembari berjalan mendekat, ia lantas mengambil plester dari tangan Sekar dan membantu memasangkannya "Sekar... kenapa kau bisa terluka?" tanya Daffa lagi saat ia tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya yang pertama
"Tidak apa apa" jawab Sekar singkat kemudian menarik tangannya yang masih di genggam suaminya. Ia lantas berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya
"Sekar..." Daffa kembali mendekati Sekar yang kini berada didepan kamar mandi "Pagi ini aku akan ke Lampung, ada sedikit masalah dengan perusahaan di sana. Jadi kau..."
"Pergilah, aku tidak apa apa" ucap Sekar, lalu tanpa permisi ia segera masuk ke kamar mandi
Daffa menghela nafas lelah. Bukan ini yang ia inginkan, ia justru merindukan sifat agresif istrinya. Tapi ia juga menyadari bahwa beberapa kali penolakan yang ia lakukan tampaknya menyakiti hati istrinya. Daffa duduk di ranjang, menunggu istrinya selesai mandi. Tidak berapa lama Sekar tampak keluar dari kamar mandi, dan segera menuju ruang ganti tanpa menghiraukan Daffa. Daffa yang melihat itu lagi lagi hanya mampu menghela nafasnya, kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri
__ADS_1
Dua puluh menit berada di kamar mandi, kini Daffa keluar dengan tampilan yang sangat fresh. Ia mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar untuk mencari istrinya. Namun ia sama sekali tidak melihat keberadaan istrinya disana. Daffa segera memakai pakaiannya, dan dengan segera turun ke ruang makan karena ia yakin istrinya ada disana
"Pagi Daff" sapa Tuan Riko saat melihat putranya
"Pagi Dad..." Daffa segera duduk di kursi meja makan, ia melihat istrinya yang langsung mengambilkan makan untuknya, dan tanpa kata menaruh piring berisi makanan tersebut ke hadapannya. Daffa tidak berani bersuara, yang ia lakukan hanyalah memakan sarapannya tersebut.
"Dad... aku akan ke Lampung pagi ini, mungkin dua atau tiga hari untuk mengatasi masalah di sana" ucap Daffa
Daffa melirik istrinya yang kini tengah asik memakan sarapan "Tidak Dad, aku akan kesana bersama Arga"
"Apa tidak sebaiknya kau mengajak istrimu kesana, banyak spot wisata menarik yang bisa kalian kunjungi, sekaligus untuk mengeratkan hubungan kalian" saran Tuan Riko
__ADS_1
"Nanti saja aku mengatur waktu untuk berdua. Karena sekarang aku akan ke Lampung untuk mengurus perusahaan, bukan untuk berlibur"
"Baiklah kalau begitu, jaga kesehatanmu dan hati hati di jalan" ujar Tuan Riko
Daffa bangkit dari meja makan, diikuti oleh Sekar yang kini ikut mendorong koper yang di berikan Bik Wati. Tiba di pintu utama, Sekar segera menyerahkan koper milik suaminya tersebut. Daffa mengambil koper tersebut dan meminta supir keluarganya untuk membawanya ke mobil
"Kita selesaikan masalah kita setelah aku pulang dari Lampung ya, aku akan kesana sekarang bersama Arga untuk mengurus masalah yang ada disana. Jadi tolong iringi kepergianku dengan senyuman agar aku bisa semangat" ucap Daffa
Sekar mengangkat pandangannya. Ia memperlihatkan senyum manis penuh keterpaksaan pada suaminya. Ia masih menaruh sakit hati pada suaminya, tapi kini suaminya hendak pergi jauh, jadi ia harus mengiringi kepergian suaminya tersebut dengan senyuman seakan tidak terjadi apa apa pada mereka
"Aku pamit, Assalamu'alaikum"
__ADS_1