Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku

Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku
Bab 95


__ADS_3

Setelah membicarakan masalah pernikahan di ruang keluarga tadi. Kini Daffina membawa Aksa menuju kamarnya di lantai dua, ia menidurkan bocah laki laki itu di kasur miliknya. Sesekali ia tampak membelai pipi calon anak sambungnya itu dengan senyuman. Daffina mengalihkan perhatianya dari Aksa saat mendengar pintu kamarnya terbuka


"Kakak Ipar"


Sekar berjalan mendekat, dan ikut duduk di samping Aksa. Ia memandang wajah tenang dari anak laki laki yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarganya itu "Dia sangat tampan" ujar Sekar


"Sama seperti Papanya"


Sekar terkekeh mendengar ucapan Daffina. Ia tidak menyangka jika Daffina bisa mencintai laki laki dengan begitu dalamnya. Terbukti, Daffina terlihat sangat menyayangi Aksa yang merupakan anak dari calon suaminya


"Fin..."


"Hem?"


"Besok, aku dan Mas Daffa akan foto di studio, kalau kau mau, kau dan calon suamimu bisa ikut sekalian untuk foto prewedding"


Daffina melirik Kakak Iparnya "Kakak dan Kak Daffa akan foto untuk apa?" tanya Daffina bingung. Sebab, dirinya sudah jelas akan melakukan foto prewedding, sedangkan Kakak Iparnya, foto apa yang akan mereka lakukan?

__ADS_1


"Aku ingin foto dengan pakaian adat Lampung, seperti ini" Sekar menunjuk sebuah foto pada majalah yang ia pegang


"Kakak ngidam?" tebak Daffina, yang langsung saja mendapat anggukan dari Sekar "Oh, jadi ini keinginan Baby, lucu sekali" Daffina perlahan mengusap perut Kakak Iparnya "Kak, menikah itu enak tidak?" tanya Daffina


"Enak, kau bisa tidur dengan guling hidup setiap hari"


"Tapi 'kan diawal pernikahan, Kak Daffa dan Kakak Ipar tidak tidur dalam satu ranjang yang sama"


"Siapa bilang, di malam pertama pernikahan saja kami sudah tidur dalam satu ranjang. Walaupun sebenarnya itu semua terjadi karena aku yang memaksa"


"Oh iya Kak, bagaimana Kakak bisa meluluhkan Kak Daffa?" tanya Daffina penasaran


"Tidak ada yang spesial, hanya saja karena Kakakmu itu sangat kaku, maka dari itu aku yang bertindak agresif. Tapi kau lihatkan betapa indah hasil yang aku dapatkan"


Daffina mengangguk. Memang, hasil akhir dari perjuangan Kakak Iparnya membuahkan hasil yang manis. Tapi apakah dirinya juga akan melakukan hal yang sama, ia sedikit takut membayangkan semua itu, membayangkan dirinya menggoda suaminya benar benar membuatnya merinding, sebab dirinya tidak memiliki keberanian seperti Kakak Iparnya


"Sayang..."

__ADS_1


Sekar menengok saat mendengar suara suaminya di ambang pintu. Begitu menengok, ia mendapati keberadaan suami, dan calon adik iparnya. Perlahan, ia mulai bangkit menuju sang suami yang sudah menunggunya


"Ayo kita ke kamar" ujar Daffa "Ingat, jangan macam macam" Daffa menggandeng istrinya pergi setelah sebelumnya memberi peringatan pada Gavin


Setelah Daffa dan istrinya pergi. Gavin terlihat menghela napas, dan masuk kedalam kamar Daffina. Membuat Daffina yang masih duduk di ranjang, seketika langsung bangun.


"Kau mengantuk?" tanya Gavin, sebab perjalanan dari Lampung ke Jakarta memang cukup melelahkan, bahkan mungkin membuat mengantuk


"Tidak"


Mendengar jawaban Daffina, Gavin melirik jam di pergelangan tangannya yang baru menunjukkan pukul empat sore "Kita keluar dulu sebentar tidak apa apa kan?"


"Tapi Aksa?"


"Aku sudah mengatakan pada Daffa untuk menjaga Aksa sebentar, aku ingin membicarakan sesuatu padamu"


Daffina mengangguk. Ia kemudian merendahkan tubuhnya dan melabuhkan kecupan di dahi sang putra sambung. Kemudian ia beralih mengambil tas miliknya, dan keluar dari kamar bersama Gavin

__ADS_1


__ADS_2