
Perlahan, Daffa mulai mengangkat tubuh istrinya dan memindahkannya keatas ranjang. Ia memegangi kepalanya yang sedikit pusing, gejala awal kehamilan yang ia rasakan benar benar membuatnya lemah. Ia segera ikut naik keatas ranjang, dan ikut merebahkan diri disamping istrinya.
Helaan napas kembali terdengar, nyatanya beban di hatinya benar benar mempengaruhi Mood Daffa pagi ini. Ia meraih ponselnya, dan langsung saja menghubungi nomor ponsel sekretarisnya "Halo Sekretaris Sasha. Tolong reschedule jadwal pertemuanku dengan perusahaan Delf'company, aku tidak bisa melakukan pertemuan hari ini" ucap Daffa, setelah itu ia segera mematikan panggilannya saat mendengar jawaban dari sang sekretaris
Daffa memiringkan tubuhnya, hingga kini ia berbaring dengan menatap wajah istrinya. Ia melabuhkan satu kecupan dalam dan hangat di pucuk kepala istrinya. Setelah itu, ikut mengarungi mimpi di pagi hari bersama sama
*
Sekar menggeliat saat merasakan suhu ruangan yang terasa begitu panas. Ia membuka mata, dan mendapati keberadaan suaminya disisi tubuhnya. Ia lantas melirik jam yang terdapat di meja nakas, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati jam tersebut menunjukkan pukul sebelas siang. Ia segera beranjak, dan menyingkap gorden kamarnya. Benar saja, cahaya terik dari matahari sudah begitu meninggi dan menyilaukan mata
Sekar kembali menuju ranjang, mengguncang pelan bahu sang suami, hingga akhirnya mata itu terbuka "Mas, sudah siang"
Daffa melirik sekeliling, ia memegang kepalanya yang berdenyut pusing. Nyatanya tidur kembali di pagi hari benar benar bukan pilihan yang tepat. Namun karena terlalu lelah setelah memuntahkan isi perutnya membuatnya memilih untuk kembali tidur
__ADS_1
"Mas tidak jadi meeting?" tanya Sekar saat teringat akan pembicaraan ayah mertua dan suaminya pagi tadi
"Aku sudah membatalkannya"
Sekar mengangguk sebagai jawaban. Ia lantas menuntun langkahnya untuk ke kamar mandi, dan kembali membersihkan diri. Beberapa menit berlalu kini ia kembali keluar dari kamar mandi.
"Mas tidak membersihkan diri?"
"Tidak"
"Aku sedang malas beranjak dari kasur"
Sekar kembali duduk di samping suaminya dengan bersandar pada headboard. Ia meraih kepala suaminya, dan meletakkan di pangkuan. Diusapnya perlahan pucuk kepala suaminya itu, hingga membuat suaminya tampak memejam karena merasa nyaman
__ADS_1
"Mas pernah merasakan kepala Mas di usap seperti ini sebelumnya?" tanya Sekar
"Tidak, terimakasih sudah membuatku merasakan rasa nyaman ini"
Sekar menunduk, dan melabuhkan satu kecupan di dahi suaminya "Apakah kau ingin melakukan ini pada seseorang?"
"Siapa?" dahi Daffa mengernyit, seolah bertanya pada siapakah ia harus melakukan hal serupa
Sekar meraih tangan suaminya, dan meletakkannya diatas perutnya yang masih rata "Pada dia..."
Daffa diam, ia melihat tangannya yang kini di tuntun sang istri naik turun mengusap perut rata istrinya. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya saat menyentuh perut sang istri. Namun rasa takut benar benar mengalahkannya. Ia menarik tangannya dari perut sang istri, tapi ternyata dengan sigap istrinya menahan tangan kokoh tersebut
"Apa kau benar benar tidak menginginkan kehadirannya?" mata Sekar sudah tampak berkaca kaca saat mendapati suaminya kembali memberi penolakan atas kehadiran buah cinta yang kini bersemayam di perutnya
__ADS_1
Daffa ikut merasakan nyeri pada ulu hatinya saat melihat bola mata istrinya tampak berair. Ia lantas menenggelamkan kepalanya pada perut sang istri, mencoba untuk meredam rasa ngilu yang kini bersarang di ulu hatinya. Namun yang terjadi malah sebaliknya, karena kini wajahnya yang ia benamkan di perut istrinya membuatnya bisa mencium perut rata tersebut, dan menimbulkan satu perasaan aneh yang tidak bisa ia ungkapkan.