
"Mas ingin Kesana?" tanya Sekar, menyadari arah pandang suaminya
"Tidak, lupakan saja, ayo" Daffa kembali menggandeng tangan istrinya untuk kembali berjalan jalan "Kau yakin tidak ingin membeli apapun?" tanya Daffa memastikan
"Yakin, aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersama suamiku saja, tidak lebih" ucap Sekar meyakinkan
"Baiklah, kalau begitu aku ingin mengajakmu ke suatu tempat"
"Kemana?" tanya Sekar
"Ikuti saja" Daffa segera membawa istrinya menuju parkir, dan langsung masuk kedalam mobil mereka. Setelah itu ia kembali mengendarai mobilnya menuju tempat yang ia tuju
__ADS_1
Tiba di tempat yang di tuju, Daffa segera keluar dari mobil, meninggalkan istrinya yang ia minta untuk tetap berada di dalam mobil. Daffa segera menemui seorang laki laki dan tampak bernegosiasi sejenak, setelah mendapat kesepakatan, Daffa kembali lagi menuju mobil. Daffa mengetuk kaca mobil yang ada disamping Sekar, dan langsung saja di buka oleh Sekar
"Ayo turun"
"Kita akan kemana?" tanya Sekar, ia menyadari dimana mereka sekarang. Hanya saja, ia masih belum mengerti tujuan suaminya membawanya ke mari.
Daffa membawa istrinya mendekati bibir pantai. Ya, mereka saat ini berada di pantai ternama yang ada di Jakarta. Daffa langsung saja memakaikan baju pelampung pada tubuh Sekar tanpa memberitahu apapun pada wanita itu. Setelah selesai memakaikan jaket pelampung pada Sekar, ia juga ikut memakai jaket pelampung untuknya sendiri.
"Ayo kesana" ajak Daffa, menunjuk pada jetski yang sudah siap berlayar
Daffa segera membantu istrinya untuk menaiki jetski tanpa mengatakan apapun. Setelah itu, ia pun ikut menaiki jetski tersebut. "Kau siap?" tanya Daffa
__ADS_1
Kedua tangan Sekar membelit pinggang suaminya "Aku siap"
Jetski mulai melaju membelah lautan yang tampak tenang itu. Daffa benar benar ahli memainkan kendaraan laut satu ini. Sekar yang ada di belakang, memberanikan diri untuk bangkit, dan berdiri dengan berpegangan pada pundak suaminya.
Sekar merentangkan satu tangan, menikmati sejuknya udara yang menerpanya, tidak lupa senyum manis terukir indah di bibirnya. Daffa yang menyadari istrinya berdiri, segera menghentikan laju jetski-nya, dan ikut berdiri. Ia membalik badannya, hingga kini mereka berdua berhadapan dengan jarak yang beitu dekat. Ditatapnya wajah istrinya yang tampak sangat bahagia itu, tangannya terulur untuk menyentuh kedua tangan istrinya
"Tempat ini adalah tempat bersejarah untuk aku dan semua sahabatku. Disini, Ardan dan Gita memutuskan untuk menikah. Disini juga Lion dan Diana resmi berpacaran, dan aku ingin agar tempat ini juga menjadi saksi, bahwa aku meminta dirimu untuk tetap bersamaku"
Sekar tidak mampu berkata kata. Ia menatap mata suaminya yang tampak sangat teduh, mengisyaratkan sebuah keseriusan dari apa yang ia ucapkan. Dadanya berdesir hanya dengan mendengar kalimat panjang yang disampaikan suaminya
"Lupakan apapun yang terjadi diantara kita. Tentang niatmu menikah denganku, dan tentang dendamku pada Ibu Sambungku yang akhirnya ber-imbas padamu. Aku hanya ingin menjalani pernikahan ini sebagaimana mestinya, dan aku ingin menjadikan pernikahan ini menjadi yang pertama dan terakhir untuk kita..."
__ADS_1
Daffa tidak lagi bisa melanjutkan kata katanya saat tubuhnya terhuyung karena istrinya kini menghambur kedalam pelukannya. Daffa menerima pelukan tersebut, di usapnya punggung yang tampak bergetar itu. Daffa tidak tahu mengapa istrinya menangis, tapi yang ia tahu, hatinya lega setelah mengatakan susunan kata kata yang telah ia rangkai.
Ia serius dengan kata katanya untuk pernikahan yang saat ini ia jalani. Ia ingin pernikahan ini menjadi pernikahan pertama dan terakhir untuknya. Walaupun ia sendiri tidak tahu, apa yang saat ini ia rasakan, karena sampai saat ini ia masih belum mencintai istrinya. Namun hatinya terus menerus mendorongnya untuk mengutarakan sebuah keseriusan