
Daffa membuka matanya, ia melihat sekitar ruangan. Cahaya masih tampak redup di atas langit sana, menandakan pagi yang barusaja menjelang. Ia lantas bangun, dan dengan segera menuju kamar mandi. Namun barusaja akan mendorong pintu kamar mandi, langkahnya di hentikan oleh Sekar
"Kak..."
"Hmmm..."
"Aku ingin shalat, tapi aku kesulitan untuk bangun" keluh Sekar
Daffa mendekati pembaringan Sekar, dan menyibak selimut yang masih setia menutupi kaki istrinya tersebut. Tanpa kata, ia segera menggendong Sekar, dan membawanya menuju kamar mandi. Setelah mendudukan Sekar di closet, ia lantas keluar dari kamar mandi, dan membiarkan istrinya tersebut berusaha sendiri. Setelah menunggu beberapa saat, suara nyaring istrinya kembali terdengar
"Kak, aku sudah selesai"
Daffa segera membuka pintu kamar mandi setelah mendengar teriakan Sekar. Ia meraih handuk yang tersedia di kamar mandi, dan memakainya di sepanjang tangannya. Setelahnya ia membantu memapah sang istri untuk keluar
Daffa kembali meletakkan istrinya di brankar, setelah itu ia langsung masuk kedalam kamar mandi kembali. Sekar tersenyum menerima perlakuan hangat suaminya pagi ini. ia memegang handuk yang tadi suaminya gunakan untuk menutupi tangan agar tidak bersentuhan dengan dirinya tentunya.
"Aku tahu, hatimu sangat hangat, kau hanya butuh waktu untuk menunjukkan kehangatan itu"
__ADS_1
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Daffa yang tampak sudah fresh. Sekar melihat Daffa yang tampak mencari sesuatu. Merasa mengetahui apa yang suaminya cari, Sekar lantas mengulurkan tangannya yang memegang sajadah
"Kakak mencari ini?" tanya Sekar, dan langsung diambil oleh Daffa "Kita shalat bersama ya Kak" pinta Sekar, membuat Daffa tampak berpikir, hingga akhirnya menganggukan kepalanya tanda setuju
Daffa memasang sajadah-nya. Setelah siap, ia melihat persiapan istrinya, terlihat Sekar yang sudah cantik dengan mukena putih miliknya. "Sudah siap?" tanya Daffa
"Siap Kak"
"Gantian Kakak yang menciumku" ucap Sekar sembari mendekatkan wajahnya, dan tanpa penolakan, akhirnya satu ciuman mendarat di pucuk kepalanya
"Mari kita mulai semuanya dari awal..." ucap Daffa
"Kak..." Sekar mengedipkan matanya berulangkali untuk memastikan apa yang barusaja ia dengar
"Kita mulai hubungan ini dengan pertemanan, bagaimana?" tanya Daffa, tanpa menghiraukan keterkejutan di wajah istrinya, dan setelah sekian detik tersadar atas ucapan suaminya yang benar benar nyata, Sekar hanya menganggukan kepala tanda setuju
__ADS_1
Dalam aksi pandang pandangan itu, pintu ruangan terbuka, dan membuat kedua orang tersebut menatap pelaku yang membuka pintu. Terlihat Daffina yang tampak menutup wajahnya dengan ke-sepuluh jarinya. Namun dengan sedikit terbuka, hingga hal tersebut masih membuatnya bisa melihat adegan pandang pandangan antara Kakak dan Iparnya.
"Sudah belum?" tanya Daffina, masih enggan menurunkan tangannya
"Apanya?" tanya Daffa
"Adegan romantis kalian, aku tidak sanggup melihat semua itu, jiwa jomblo-ku meronta ronta dibuatnya" balas Daffina
"Jangan berpura pura tidak tahu" ucap Daffa jengah, ia faham bagaimana sikap kembarannya ini, selalu berpura pura tidak tahu, padahal ia tahu segalanya. Seperti kali ini, ia yakin kembarannya ini tidak benar benar memejamkan matanya, ia hanya berpura pura, seakan akan tidak mau menodai mata "Siapa yang memintamu kemari?" tanya Daffa, berjalan mendekati Daffina, dan menurunkan tangan kembarannya tersebut dengan paksa
"Mama memintaku untuk menggantikanmu, mungkin saja kau ingin pulang untuk mandi" ucap Daffina, menyampaikan sesuai dengan apa yang dikatakan Ibu Sambungnya
"Aku pulang nanti setelah mengurus administrasi rumah sakit" Daffa berjalan dan duduk di sofa. Sementara Daffina, memilih mendekati ranjang Sekar, dan mencium punggung tangan Kakak Iparnya tersebut
"Apa Kakak sudah lebih baik?" tanya Daffina
"Sudah lumayan, walaupun kakiku masih belum bisa bergerak" jawab Sekar dengan helaan nafas, sembari menatap kaki kanannya yang gips
__ADS_1