Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku

Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku
Bab 115


__ADS_3

Delapan jam telah berlalu. Kini, saat saat mendebarkan benar benar ada di depan mata. Daffa membantu menggiring brankar sang istri menuju ruang operasi, sambil sesekali mengecupi punggung tangan sang istri yang ada dalam genggamannya. Begitu akan memasuki ruang operasi, brankar Sekar berhenti sejenak, memberi ruang pada Sekar dan Daffa untuk saling menguatkan. Setelah cukup memberi waktu, kini para perawat kembali mendorong brankar tersebut


"Maaf Tuan, silahkan tunggu di luar" ucap seorang perawat, kemudian menutup pintu ruangan


Daffa menyugar rambutnya kasar. Ia bahkan tidak berniat untuk duduk, karena hatinya benar benar tidak tenang sekarang. Gavin yang melihat bagaimana Daffa tampak gelisah, perlahan mendekati Kakak Iparnya tersebut


"Kau tenang saja, semua pasti akan baik baik saja. Duduklah dulu, kau tidak boleh lelah karena nantinya kau akan menggendong dua baby sekaligus"


Gavin menepuk bahu Daffa, berusaha menenangkan. Walaupun sejujurnya saat kelahiran Aksa lima tahun yang lalu, ia juga merasakan hal yang sama. Ia bahkan hampir saja merobohkan bangunan rumah sakit dimana istrinya di rawat, saat mendengar kabar bahwa istrinya tak tertolong


Daffa mengikuti saran Gavin. Ia duduk di kursi tunggu yang sedikit jauh dari keluarganya sembari terus menerus melihat lampu ruang operasi yang masih saja menyala. Tidak lama, derap langkah kaki yang bersahutan membuat Daffa sedikit mengalihkan perhatiannya. Terlihat teman temannya yang berjalan mendekat

__ADS_1


"Siang Tante, Om" sapa Arga pada kedua orang tua Daffa yang hnya dijawab anggukan singkat oleh mereka


Arga memilih duduk di samping Daffa, diikuti oleh Gavin dan Lion. Tidak lama tampak Ardan juga ikut bergabung. Semua orang terdiam, membuat suasana yang tegang terasa semakin tegang.


"Ehem... berbicara mengenai anak, kapan kau akan memiliki anak lagi Vin? Atau jangan jangan, cobra-mu itu sudah tidak berfungsi lagi karena vakum selama lima tahun" ucap Arga pada Gavin


"Milikku hanya vakum selama lima tahun, sedangkan milikmu, tiga puluh tahun. Itu bukan lagi vakum tapi pensiun" jawab Gavin dengan tenang. Namun hal itu justru mengundang tawa dari semua orang, tak terkecuali Daffa


"Dia tidak menjawab, karena apa yang di katakan Gavin itu benar. Miliknya itu sudah pensiun sebelum waktunya" ucap Lion


Arga sedikit memalingkan wajahnya karena malu. Tapi setidaknya, usahanya untuk membuat suasana yang semula tegang menjadi santai sedikit berhasil. Bahkan Daffa pun terlihat sedikit rileks sambil menunggu lampu ruangan operasi mati. Meskipun,untuk membuat suasana cair, ia harus sedikit mengorbankan harga dirinya

__ADS_1


Tidak lama setelah pembicaraan singkat mereka. Pintu ruangan operasi terbuka, menampilkan Dokter Surya yang berdiri diam di ambang pintu. Melihat raut wajah Dokter Surya yang terlihat tak terbaca, membuat semua orang menjadi kembali tegang. Sedangkan Daffa, ia segera berjalan menemui Dokter Surya


"Bagaimana Dokter? Bagaimana keadaan istri dan anak anakku?" tanya Daffa


Dokter surya menghela napas kasar. Sebelum akhirnya senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Di tepuknya bahu Daffa dengan senyum yang seakan mengatakan semuanya baik baik saja. Namun bukannya tenang, Daffa justru semakin merasa waspada


"Apa mereka semua selamat?" tanya Daffa


"Istri anda selamat, begitupun dengan kedua putri anda. Mereka sangat sehat dan cantik"


"Putri?" monolog Daffa

__ADS_1


"Benar, anak anda dua duanya seorang putri. Sekali lagi selamat" ujar Dokter Surya "Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruangannya, kalau begitu saya permisi"


__ADS_2