
Daffa masuk kedalam kamar perawatan istrinya. Ia lantas membuka bungkus sate tersebut dan menaruhnya didalam piring. Setelah selesai, ia menyerahkan piring tersebut kepada istrinya. Sekar yang melihat itu buru buru mengambil piring yang diberikan suaminya, dan tanpa sengaja piring yang ada dalam genggamannya hampir saja terjatuh jika tidak segera di tahan oleh suaminya
"Tanganku masih lemas, bisakah kau menyuapiku?" tanya Sekar dengan tatapan mengiba, yang ajaib-nya langsung di turuti oleh suaminya. Sekar menerima suapan suaminya dengan hati berbunga bunga, tentunya dengan wajah yang sumringah pula
"Jangan Geer, kalau bukan karena kau sakit, aku tidak akan mau menyuapimu" ucap Daffa menyadari senyuman yang ditunjukkan istrinya
"Kalau begitu, aku ingin sakit terus saja" ucap Sekar di sela sela kunyahannya, dan hal itu justru mendapat tatapan tajam dari suaminya. Namun sama sekali tidak Sekar hiraukan "Kau mau mencobanya?" tanya Sekar, sembari mengambil satu tusuk sate, dan mengarahkannya ke depan mulut suaminya
"Aku bisa makan sendi..." belum saja menyelesaikan kata katanya, mulutnya lebih dulu disumpal dengan satu tusuk sate oleh istrinya.
Sekar hanya tersenyum jahil melihat bagaimana suaminya yang tidak bisa menolak suapannya, karena sate tersebut sudah lebih dulu ia masukkan kedalam mulut sang suami. "Bagaimana, enak tidak?" tanya Sekar
Daffa menaruh piring yang ada di tangannya keatas paha istrinya, lalu tangannya meraih tusuk sate yang masih bertengger di mulutnya "Aku rasa tanganmu sudah tidak lemas, jadi makan saja sendiri, tidak usah manja" ucap Daffa sembari membawa satu tusuk sate miliknya menuju sofa
__ADS_1
Sekar yang melihat itu hanya tersenyum kecil. Walaupun mendapat kata kata pedas, tapi setidaknya ia berhasil membuat suaminya memakan suapan darinya, dan hal itu cukup membuatnya bahagia. Sekar lantas mengambil kembali satenya, dan menikmatinya seorang diri
Selesai dengan per-satean, kini hari sudah menjelang malam. Sekar sudah tampak mengantuk, ia melirik suaminya yang masih duduk di sofa, tentu saja dengan ponsel yang berada dalam genggamannya. Sekar tidak tahu apa yang membuat suaminya itu betah berlama lama melihat ponsel. Namun Sekar tidak ingin overthinking, mungkin saja suaminya tengah mengerjakan pekerjaan kantor yang kebetulan bisa di kerjakan melalui ponselnya kan
"Kak, belum mau tidur?" tanya Sekar
"Duluan saja" sahut Daffa
"Tapi aku ingin di peluk, biasanya kalau aku sakit, aku pasti tidur dalam pelukan Mbok Iyem" tutur Sekar
"Kakak tidak mungkin menjemput Mbok Iyem untuk kesini kan, lalu apa salahnya kalau Kakak yang menggantikan tugas Mbok Iyem. Aku ingin tidur di pelukan Kakak" ucap Sekar manja
"Aku tidak bisa, lagipula ranjang itu sangat kecil, jadi jangan membuat masalah" jawab Daffa masih berusaha sabar
__ADS_1
"Ranjang ini muat untuk kita berdua, ayo kita coba dulu. Kalau memang tidak muat, nanti aku akan memeluk Kakak dengan erat agar aku tidak terjatuh" ucap Sekar berusaha meyakinkan
"Tidak"
Huh
Sekar menghela nafas kasar, nyatanya disaat dirinya sakit pun, suaminya masih tidak mau menemaninya tidur. Baiklah, Sekar punya cara lain selain ini. "Baiklah, kalau begitu tolong kemarilah" pinta Sekar
"Apalagi?" tanya Daffa masih enggan mendekati istrinya
"Kemari sebentar, tolong benahi selimutku, aku tidak bisa menjangkaunya" keluh Sekar
Mau tidak mau, akhirnya Daffa membenarkan letak selimut istrinya yang berada di ujung kaki. Ia menarik selimut tersebut, hingga menutupi seluruh tubuh istrinya hingga ke dada. Setelah selesai merapikan selimut tersebut, ia hendak kembali ke sofa. Namun lengannya di tahan oleh sang istri, hingga akhirnya ia merasakan kehangatan pada pipinya, dan itu ulah dari istrinya
__ADS_1
"Selamat malam suamiku" ucap Sekar dengan tersenyum manis, setelah berhasil mencuri satu ciuman dari suaminya