
Tiba di rumah, Daffa segera membantu istrinya untuk naik menuju lantai dua, dimana kamar mereka berada. Ia membaringkan istrinya di ranjang, dan melepas jilbab yang sejak tadi istrinya kenakan. Setelah itu ia ikut berbaring di ranjang, dan memeluk istrinya
"Mas..."
"Hem..."
"Bagaimana kalau selama Daffina dan Kak Gavin sibuk dengan persiapan pernikahan mereka, kita mengasuh Aksa saja, sekalian supaya kita tidak canggung lagi mengurus baby twins nantinya"
Daffa membuka kedua matanya yang sempat tertutup "Boleh, nanti biar aku bicarakan dulu bersama Gavin. Oh iya, kau tidak perlu memanggilnya Kakak, justru kaulah Kakak Iparnya" ucap Daffa mengingatkan
"Tapi aku sedikit tidak enak untuk memanggil namanya saja. Karena Kak Gavin sepertinya lebih tua dari aku"
"Usianya sama dengan aku Sayang, lagipula walaupun usianya jauh diatasku, dia tetap harus memanggil kita Kakak, karena kita adalah Kakak dari calon istrinya"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu"
Di sisi lain, Gavin merebahkan tubuh Aksa secara perlahan di ranjang milik Daffina. Ia usap wajah putranya yang tampak terlelap dalam tidur siangnya. Di kecupnya wajah itu dengan penuh kasih sayang
"Fin..." panggil Gavin
"Iya?"
"Aku pikir, bagaimana jika Aksa kita titipkan untuk sementara pada Daffa dan istrinya. Kita butuh waktu berdua untuk membuat hubungan kita membaik. Bagaimana menurutmu?" tanya Gavin
"Kita akan memberi pengertian padanya nanti. Kita juga membutuhkan waktu untuk bisa saling mengenal dan menerima Fin"
"Kalau menurut Kakak itu yang terbaik, aku akan mengikuti usul Kakak"
__ADS_1
"Terima kasih, tapi kau jangan memanggilku Kakak, karena aku bukan Daffa. Aku calon suamimu Fin" ujar Gavin
"Lalu... aku harus memanggilmu apa?" tanya Daffina sedikit bingung
"Terserah, asalkan kau nyaman"
Daffina sedikit memutar otak, mencari panggilan yang tepat yang akan ia sematkan pada Gavin. Namun ia tidak bisa menentukan pilihan dengan banyaknya jenis panggilan yang ada di kepalanya "Apa Kakak ada referensi untukku?" tanya Daffina akhirnya
"Referensi? Bagaimana jika Hubby, ahh tidak, tidak, itu terdengar aneh" Gavin kembali memutar otak, saat dirinya sendiripun menolak usulan panggilan yang sempat ia ajukan tersebut "Apa ya? Sudahlah kau pilih saja sendiri nanti. Aku yakin kau bisa memberikan panggilan romantis untukku"
"Panggilan romantis, bagaimana kalau Sayang?" ucap Daffina
"Bahkan Daffa dan istrinya memanggil Sayang, kita harus berbeda. Nanti saja kau pikirkan itu, sekarang aku harus menemui Kakakmu untuk membicarakan semuanya, oke"
__ADS_1
Gavin keluar dari kamar Daffina. Tujuannya kini adalah menemui Daffa. Namun begitu melewati Kamar calon Kakak Iparnya yang terlihat masih tertutup, membuatnya mengurungkan niat untuk berbicara. Sebab, ia sangat tahu apa yang dilakukan sepasang suami istri jika sedang berdua, yang pasti mereka pasti membutuhkan waktu yang tidak boleh di ganggu
Gavin turun menuju lantai satu. Duduk di ruang baca, dan membaca berbagai buku milik Daffa. Setelah cukup lama membaca, Gavin mulai melihat jam di ponselnya. Sudah tiga puluh menit ia duduk dan membaca di tempat ini. Namun ia sama sekali tidak mendengar adanya tanda tanda Daffa akan keluar dari kamar. Diraihnya ponselnya, dan mulai mengetikkan pesan yang di tujukan kepada Daffa