
"Ada apa kau kemari? Seperti tidak ada pekerjaan saja" tanya Daffa, kini keduanya sudah berada di ruangannya
"Jangan lupakan bahwa aku ini boss-nya, tidak bekerja pun aku akan tetap mendapatkan uang" seloroh Arga
"Baiklah boss"
"Oh iya, bagaiaman hubunganmu dengan istrimu?" tanya Arga
"Aku rasa tidak mudah untuk mengubah niatnya" ucap Daffa
"Kenapa? Apa kau tidak berhasil mendekatinya?"
"Aku berhasil, hanya saja aku rasa semua yang aku lakukan ini membutuhkan cinta, tapi aku tidak bisa mencintainya"
"Bukan tidak bisa, kau hanya belum faham apa tanda tanda bahwa kau telah jatuh cinta. Biar aku beritahu, yang pertama, saat kau jatuh cinta maka kau akan mengikuti apapun keinginan dari orang yang kau cintai. Yang ke-dua, kau selalu ingin melihat dia tertawa bahagia, kau tidak ingin ada sesuatu apapun yang mengganggu kebahagiaannya. Yang ke-tiga, ini yang terakhir, kau akan melakukan apapun untuk mewujudkan keinginannya, tidak peduli sesusah apa untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Sekarang aku bertanya padamu, apakah dari ke-tiga hal yang aku sebutkan tadi ada yang sudah kau rasakan?" tanya Arga antusias
__ADS_1
"Sayangnya aku tidak merasakan ke-tiganya"
Huh
Arga menghela nafas lelah "Aku rasa hatimu benar benar berkarat setelah tidak kau gunakan selama dua puluh delapan tahun"
Daffa menyesap kopinya kembali, menghalau rasa pusing yang kini menghinggapi kepalanya. Benarkah hatinya tidak bisa merasakan cinta, atau ia yang memang tidak menyadari. Atau Sekar bukan wanita yang tepat yang harus ia cintai?
*
Semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk melakukan makan malam bersama seperti yang selama ini mereka lakukan. Namun semua orang masih belum memulai makan malam karena Daffina masih belum bergabung. Mereka semua saling pandang, seolah memberi pertanyaan lewat sorot mata mereka tentang keberadaan Daffina
"Biar Mama panggil, sebentar"
Nyonya Carissa menuju kamar putrinya. Ia segera mengetuk pintu kamar beberapa kali, tapi pintu kamar masih belum terbuka juga. Dengan memberanikan diri akhirnya Nyonya Carissa membuka pintu kokoh tersebut. Kosong, tidak ada siapapun di sana.
__ADS_1
Ia mencoba berjalan menuju kamar mandi, dan langsung membukanya, dan lagi lagi ia tidak mendapati keberadaan putrinya di dalam sana. Nyonya Carissa menatap sekeliling, hingga matanya menangkap adanya secarik kertas diatas meja rias putrinya. Ia segera mengambil kertas tersebut dan membacanya
"Ada apa?" tanya Tuan Riko yang kini sudah ikut masuk kedalam kamar putrinya "Apa itu?" tanya nya saat menyadari adanya secarik kertas di tangan istrinya
"Daffina pergi ke Lampung Mas"
"Apa?"
Tuan Riko mengambil kertas yang ada ditangan istrinya. Kertas dengan tulisan yang amat sangat singkat. Dimana di sana hanya tertulis bahwa mereka tidak perlu mengkhawatirkan Daffina, karena saat ini gadis itu sudah dalam perjalanan menuju Lampung.
"Dimana Daffina Dad?" tanya Daffa yang barusaja masuk bersama Sekar
"Adikmu ke Lampung"
"Apa?" Daffa sama terkejutnya seperti sang Daddy. Ia tahu adik kembarnya itu memang sangat nekat, tapi ia tak menyangka jika Daffina akan berangkat ke Lampung meski tanpa izin darinya "Tapi untuk apa?" tanya Daffa heran
__ADS_1
"Daddy tidak tahu"
Sedangkan Sekar yang mendengar itu hanya bisa diam. Ia juga sama tidak menyangkanya, ia pikir Adik Iparnya itu tidak akan pergi ke Lampung diam diam seperti ini, dan ia juga berpikir bagaimana cara Daffina pergi dari rumah secara diam diam, tanpa sepengetahuan dirinya dan Mama Carissa. Bahkan para penjaga dan asisten rumah tangga tidak ada yang tahu kemana Daffina pergi, karena mobil gadis itu terparkir rapi di garasi