
Daffa meninggalkan rumah sakit tempat praktek sahabatnya dengan pertanyaan di dalam benaknya. Benarkah hatinya yang membatu kini mulai luluh, dan mencintai istrinya. Jika ada pertanyaan tentang siapa orang yang sangat ingin ia hindari maka jawabannya adalah istrinya, tapi bagaimana bisa sahabat baiknya itu mengatakan bahwa dirinya mencintai istrinya
ting
Pesan masuk dari nomor tidak dikenal, Daffa segera membuka isi pesan tersebut "Selamat siang suamiku, jangan lupa makan siang" Daffa meletakkan ponselnya pada dashboard mobil, ternyata pesan singkat itu berasal dari istrinya.
Ia segera kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Tiba di kantor, ia langsung menuju ruangannya, dan kembali mencoba untuk fokus. Namun lagi lagi, pikirannya tidak bisa diajak kompromi
"Antarkan kopi ke ruanganku sekarang" ucap Daffa melalui sambungan teleponnya
Tidak lama kemudian kopi yang ia minta telah datang. Daffa meminta Office Girl tersebut untuk keluar dari ruangannya, baru setelah itu ia mulai menghirup aroma dari kopi panas yang tersaji didepan matanya. Namun anehnya, bau kopi ini nampak berbeda, tidak mau ambil pusing, Daffa meminum kopi tersebut, dan benar saja, rasa kopi itu benar benar tidak enak. Daffa kembali meletakkan cangkir kopi tersebut
"Baiklah dengarkan aku. Apakah selama ini kau pernah merasakan debaran seperti yang kau rasakan saat ini? Saat kau jatuh cinta, hormon yang dilepaskan dari otak akan mengalir melalui darah, dan menyebabkan jantung berdebar lebih kuat, dan aku yakin dengan dugaanku sekarang bahwa kau sedang jatuh cinta"
__ADS_1
Kembali kata kata terakhir sahabatnya terngiang ngiang di benaknya. Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka, menampilkan sekretarisnya "Ada apa?"
"Ada seseorang yang ingin menemui Bapak" ucap sekretaris tersebut
"Katakan aku tidak ingin di ganggu"
"Tapi Pak..."
"Kau berani melawan..." Daffa tidak melanjutkan kata katanya saat melihat kehadiran istrinya tepat dibelakang sang sekretaris
Sekar duduk di sofa ruangan suaminya, dan membuka paper bag yang ia bawa. Ia mengeluarkan dua kotak bekal dari sana, satu kotak berisi nasi dan lauk pauk, sedangkan satu kotak lainnya berisi buah buahan segar yang sudah di potong. Daffa berjalan menuju sofa dimana istrinya duduk, dan langsung duduk berhadapan disana
"Aku membawakanmu makanan, ayo dimakan" ucap Sekar
__ADS_1
"Apa kau memang benar benar tidak tahu malu?" ucap Daffa
"Kenapa harus malu, bukankah aku mendatangi kantor suamiku sendiri? Semua orang tahu itu" jelas Sekar, berusaha tidak terpancing dengan perkataan pedas dari suaminya "Aku akan mengambil air minum di pantry, apa kau membutuhkan sesuatu yang lain?" tanya Sekar saat ia akan beranjak menuju pantry. Namun ucapannya sama sekali tidak mendapat jawaban dari Daffa
Sekar berjalan tanpa menghiraukan Daffa. Tiba di pantry, ia mengambil satu buah teko dan mengisinya dengan air putih, barusaja melangkah untuk kembali ke ruangan suaminya, ia kembali menghentikan langkahnya. Ia menaruh kembali teko yang berisi air tersebut, dan membuat secangkir kopi untuk suaminya. Ia teringat dengan perkataan Bik Wati bahwa suaminya sangat menyukai kopi, dan suaminya selalu mengkonsumsi kopi sebanyak tiga kali sehari
Selesai dengan pembuatan kopi, Sekar kembali menuju ruangan suaminya. Ia masuk kedalam ruangan, dan suaminya masih duduk diam di sofa. Bahkan makanan yang sudah ia hidangkan sama sekali belum tersentuh
"Kenapa makanannya tidak dimakan, kau mau aku suapi?" goda Sekar, sekar segera duduk disamping suaminya, dan meraih kotak bekal tersebut. Ia mengambil satu sendok nasi dan mengarahkannya pada suaminya dengan senyum indah yang ia terbitkan disudut bibirnya. Namun seketika dadanya bergemuruh hebat saat suaminya melempar kotak bekal berisi makanan yang ada ditangannya
"Aku sudah bilang, jangan pernah melangkahi batasanmu, dan kau sudah berjalan terlalu jauh untuk itu. Apa yang kau inginkan sebenarnya? Uang?" Daffa mengeluarkan dompetnya, dan mengeluarkan tiga kartu dari dalam dompetnya, dan melemparkannya keatas meja "Pilih yang kau mau, Ini yang kau inginkan kan? Harta, uang, bahkan aku yakin kau sudah melakukan hal murahan ini pada semua laki laki yang kau temui"
Plak
__ADS_1
Sekar menatap tangannya yang sudah menampar pipi suaminya. Jujur ia tidak mau melakukan ini, bahkan ini seakan terjadi diluar kuasanya. Ia tidak terima dikatakan wanita murahan oleh suaminya sendiri, apalagi harga dirinya direndahkan hanya dengan tiga kartu yang saat ini ada dihadapannya. Ia ambil ke-tiga kartu itu, lalu ia raih tangan suaminya, dan mengembalikan ke-tiga kartu tersebut
"Se-rendah itukah aku dimatamu? Aku memang menggodamu, tapi bisakah kau memberi keyakinan pada hatimu bahwa apa yang aku lakukan padamu juga aku lakukan pada orang lain? Aku tidak pernah menggoda laki laki manapun selain kau"