
"Dokter Tia terimakasih banyak" ujar Sekar saat melihat Dokter Tia masih berada di tempat semula
"Sama sama Nyonya, kalau begitu saya permisi"
Sekar perlahan mendekati suaminya saat melihat Dokter Tia benar benar pergi. Sekar memberanikan diri untuk duduk di samping suaminya. Ia tatap wajah itu dalam dalam, mencoba mencari tahu apa penyebab suaminya tampak begitu dingin setelah mendengar kabar bahagia darinya
"Mas... Kau tidak bahagia mendengar kehamilanku?" tanya Sekar pelan. Namun hal itu sama sekali tidak membuat Daffa tergerak untuk menyahut "Mas..."
"Gugurkan anak itu!"
__ADS_1
Duar
Bagai di sambar petir. Tubuh Sekar seakan terhempas dan tidak bisa terbangun lagi saat mendengar penuturan suaminya. Cairan bening sudah mengenang di pelupuk mata Sekar saat mendengar suaminya dengan lantang meminta untuk menggugurkan kandungannya.
"A... apa maksud Mas? Mas tidak menginginkan anak dariku? Apa kata cinta yang selama ini Mas ucapkan padaku hanya bualan, dan sekarang Mas kembali menunjukkan betapa tidak berartinya diriku bagimu, sehingga kau tidak ingin ada anak diantara kita?"
"Maafkan aku, aku sangat mencintaimu, aku takut jika kau mengalami hal yang sama seperti Ibu Bianca, itu sebabnya aku memintamu menggugurkannya. Aku tidak ingin kehilanganmu, sungguh"
Sekar kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh sang suami saat mendengar alasan dibalik dinginnya suaminya. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya saat mengetahui betapa besar rasa cinta suaminya untuknya. Namun hatinya sedih saat mendengar suaminya ternyata masih menyimpan trauma atas kelahirannya berpuluh tahun yang lalu, yang akhirnya mengakibatkan Ibu Bianca tak tertolong
__ADS_1
Daffa menangkup wajah istrinya. Diusapnya air mata yang membasahi wajah cantik itu, kemudian di kecupnya kening, serta kedua mata istrinya "Tidak ada alasan bagiku untuk tidak mencintaimu. Kau wanita pertama yang masuk kedalam hidupku, dan kau akan menjadi wanita terakhir, serta satu satunya untukku. Aku sangat mencintaimu, Sekar Lestari. Sama hal-nya seperti Daddy, aku tidak akan sanggup jika harus kehilanganmu, aku bersedia hidup tanpa buah hati sebagai pelengkap keluarga kita, asalkan kau bisa hidup selamanya di sampingku. Menua dan menghabiskan sisa hidup bersamaku"
Sekar tidak bisa berkata kata saat lagi lagi air mata membasahi wajah cantiknya. Mungkin ini efek dari kehamilannya, sehingga kini ia sangat mudah menangis, bahkan dengan hal kecil sekalipun. Sekar menangis tergugu dalam pelukan suaminya. Hingga akhirnya tanpa sadar, ia telah tertidur dengan sisa sisa air mata di wajahnya.
Setelah merasa istrinya lebih tenang. Daffa kembali merenggangkan pelukannya, dan yang ia dapati hanya wajah cantik istrinya yang terlelap. Daffa tersenyum mendapati hal itu, di usapnya sisa air mata di ujung mata istrinya. Matanya kini tertuju pada perut rata sang istri yang ternyata telah tumbuh kehidupan di dalam sana. Tangannya terulur untuk menyentuh perut rata istrinya. Namun saat kesadarannya kembali, ia menarik tangannya dan memejamkan kedua mata dengan helaan nafas kasar
Jujur, jauh didalam hatinya, ia juga menginginkan mempunyai buah hati seperti hal-nya Lion dan Diana yang saat ini tengah menanti kehadiran anak kedua mereka. Ia juga ingin seperti Ardan dan Gita yang sekarang sudah memiliki satu orang peri cantik yang begitu menggemaskan. Daffa juga menginginkan itu, melihat Lion dan Ardan yang terkadang membicarakan anak mereka dengan begitu antusias membuat Daffa menaruh iri dalam hatinya. Namun ternyata saat di hadapkan dengan kehmilan istrinya, hatinya justru tidak sanggup
Ia takut, ia takut akan kembali kehilangan orang orang terkasihnya. Selama dua puluh sembilan tahun ia mencoba membentengi dirinya untuk tidak jatuh cinta. Namun ternyata usahanya sia sia saat Sekar dengan berani merobohkan benteng yang telah ia bangun. Kini, jika ia di beri pilihan untuk memilih istri atau anak, maka pilihannya adalah istrinya. Ia tidak akan sanggup, dan tidak akan pernah sanggup jika harus kembali di tinggalkan
__ADS_1