Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku

Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku
Bab 37


__ADS_3

Daffa memeluk istrinya tanpa bertanya terlebih dahulu. Entah keberanian darimana, tapi kini kecupan hangat itu ia daratkan di pucuk kepala istrinya. Entah kenapa hatinya seakan ikut tersayat mendengar tangis pilu sang istri. Setelah ia rasa tangis istrinya sedikit mereda, ia melepas rengkuhannya, dan menatap lekat mata sembab istrinya yang tampak memerah


"Ada apa?" tanya Daffa


Sekar menggeleng sebagai jawaban. Sisa sisa tangis yang terasa masih memenuhi dadanya membuat mulutnya enggan untuk terbuka. Ia ingin kembali menangis, menangis se-kencang kencangnya, disertai teriakan keras, ia ingin merasakan itu agar hatinya lega, tapi sialnya air matanya enggan untuk kembali menetes


"Aku ingin tidur" ucap Sekar setelah berhasil menetralisir perasaannya.


Mendengar permintaan istrinya, dengan segera Daffa menggendong sang istri, dan merebahkannya di kasur. Ia menarik selimut hingga menutupi tubuh sang istri, dan setelah itu ia kembali melabuhkan satu kecupan di pucuk kepala sang istri. "Selamat malam"


*


Satu minggu berlalu sejak insiden jatuhnya Sekar dari tangga. Kini hubungan antara Daffa dan Sekar sudah tampak membaik, keduanya benar benar berkomitmen untuk memulai kembali hubungan mereka. Walaupun terkadang Daffa masih enggan menuruti semua permintaan istrinya, tapi hubungan mereka tidak lagi se-dingin kemarin


"Aku berangkat" ucap Daffa setelah berhasil memasangkan dasinya dengan benar. Ia segera meraih tas kerjanya dan hendak keluar dari kamar, tapi deheman istrinya membuatnya menghentikan langkah

__ADS_1


"Aku rasa kau melupakan sesuatu" ucap Sekar, melipat kedua tangannya di dada


"Apa?" tanya Daffa


"Menciumku" jawab Sekar jengah, ini bukan kali pertama suaminya melupakan apa yang wajib dan rutin untuk ia lakukan setiap pagi, tapi ini sudah terbilang empat kali setelah hubungan mereka membaik


Daffa kembali mendekati istrinya, dan tanpa sungkan mencium pucuk kepala istrinya. Setelah itu ia kembali berpamitan pergi. Tiba di lantai bawah, ternyata Daffina sudah menunggu didepan tangga dengan tangan bersedekap


"Kenapa lama sekali?" tanya Daffina


"Aku tidak memintamu menungguku" jawab Daffa acuh sembari terus berjalan


"Ada apa lagi?" tanya Daffa, masih terus melangkahkan kakinya


"Kakak pasti sudah mempengaruhi Daddy sehingga sekarang Daddy juga ikut ikutan tidak memberiku izin pergi ke Lampung" ucap Daffina

__ADS_1


Daffa menghentikan langkahnya. Ia kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di teras, dan diikuti Daffina "Jadi Daddy juga melarangmu?" tanya Daffa


"Jangan berpura pura tidah tahu, aku yakin Kakak sudah mencuci otak Daddy agar tidak mengizinkanku pergi" sungut Daffina


"Baiklah dengarkan aku, kau ingin menjalankan dua peran sekaligus, yaitu menjadi entertainer dan pengusaha, tapi kau meminta cabang perusahaan yang sudah pasti tidak ada masalah, lalu menurutmu apakah itu pantas dimiliki oleh seorang pengusaha? Tapi jujur saja aku ragu dengan alasanmu mengunjungi Lampung hanya untuk hal itu"


Bukan tanpa alasan Daffa meragukan alasan adiknya. Ia bisa membaca kejanggalan dari sikap adiknya, hanya melalui sorot matanya. Jangan lupakan bahwa mereka sudah bersama sejak masih berada dalam kandungan ibu mereka. Jadi sudah pasti Daffa mengenal Daffina dengan baik


Huh


"Aku ingin... Ahhh Kakak aku malu. Izinkan saja aku pergi, jangan tanya alasan, aku malu" ujar Daffina


"Kenapa malu?" tanya Daffa heran


"Intinya, aku ingin pergi ke Lampung"

__ADS_1


"Tidak, tidak, dan tidak sayang. Kau tidak akan pergi ke Lampung. Aku berangkat, dan jaga dirimu" Daffa meninggalkan Daffina begitu saja. Ia tidak akan memberikan izinnya begitu saja tanpa tahu alasan dibalik keputusan adiknya untuk mengunjungi Lampung


"Kakak..."


__ADS_2