
Daffa menggeliat, saat tidurnya terusik. Ia membuka kedua matanya, dan langsung bersitatap dengan kedua mata istrinya yang tepat berada didepan wajahnya. Wajah ayu yang meneduhkan dengan balutan mukena yang semakin membuat wajah itu menggemaskan "A... Apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya ingin mencium pucuk kepalamu seperti biasa" ujar Sekar santai, dan langsung saja melabuhkan satu kecupan di pucuk kepala suaminya. Setelah selesai ia kembali melipat mukena, dan turun ke bawah untuk membantu menyiapkan sarapan. Sedangkan Daffa segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya
Selesai mandi, Daffa turun menuju dapur dengan tampilan yang sudah fresh. Ia mengenakan pakaian santai pagi ini, mengingat hari ini adalah hari minggu, dan ia tidak akan ke kantor. Tiba di meja makan, istrinya dengan segera menyiapkan makan untuknya, dan mereka memulai sarapan dengan khidmat
"Bagaimana kabar adikmu?" tanya Tuan Riko setelah menyelesaikan sarapannya
"Aku sudah menempatkan orang kita untuk menjaganya selama di sana Dad" ujar Daffa, karena memang semalam ia sudah menghubungi anak buah nya dan meminta mereka untuk menjaga adiknya dua puluh empat jam
Tuan Riko mengangguk, dan mempercayakan semuanya pada putranya. Karena ia yakin pada kemampuan sang putra. Tuan Riko segera beranjak dari meja makan diikuti oleh Nyonya Carissa, meninggalkan Daffa dan Sekar hanya berdua.
"Mas... berhubung hari ini Mas libur, aku ingin mengajak Mas keluar, mau kan?" tanya Sekar
__ADS_1
"Kemana?"
"Me time berdua. Mau ya" pinta Sekar
Daffa yang mendengar permintaan istrinya tampak sedikit menimbang. Namun akhirnya ia menganggukkan kepala tanda setuju "Baiklah"
Daffa bangkit dari kursinya diikuti oleh sang istri untuk kembali menuju kamar. Keduanya langsung bersiap, Daffa yang memang sudah siap dengan tampilan santainya hanya duduk santai di sofa kamar sembari menunggu Sekar untuk bersiap. Beberapa saat kemudian, istrinya keluar dari ruang ganti dengan mengenakan dress selutut berwarna cream yang tampak sangat pas dan cantik ditubuhnya
"Apa yang kau pakai? Tidak bagus, ganti" ucap Daffa
"Aku ingin kau mengenakan jeans"
"Jeans? Aku tidak terbiasa, kulit kakiku akan gatal gatal jika aku mengenakan jeans" Sekar memang tidak terbiasa mengenakan jeans, karena selama ini ia hanya mengenakan rok atau kulot dan semacamnya yang tidak terlalu pres body
__ADS_1
"Tidak mungkin rok" monolog Daffa "Kalau begitu kulot aku rasa lebih baik" ucap Daffa lagi, dan tanpa bantahan, Sekar segera mengganti pakaiannya, dengan mengenakan kulot yang menutupi sampai bawah lututnya. Setelah selesai bersiap, keduanya kini menuju garasi, dan langsung tancap gas menuju pusat perbelanjaan
Menghabiskan empat puluh menit perjalanan akhirnya mereka tiba di pelataran mall terbesar di Jakarta. Daffa keluar dari mobil, disusul Sekar yang langsung saja mengamit lengan suaminya. Setelah itu mereka masuk bersama kedalam layaknya pasangan romantis yang saling mencintai
"Kau ingin membeli apa?" tanya Daffa
"Apa saja yang kau pilihkan aku pasti suka" ucap Sekar, sebab tujuannya ke pusat perbelanjaan bukan untuk belanja, melainkan merasakan indahnya hidup bersama suami tercinta. Namun jika ternyata suaminya membelikannya sesuatu, ia pasti dengan senang hati menerimanya
"Tidak seperti itu, kau yang menentukan"
"Baiklah, aku hanya ingin jalan jalan bersamamu, itu saja" ujar Sekar mengatakan apa yang memang menjadi tujuannya
"Baiklah"
__ADS_1
Daffa dan sekar bergandengan tangan dari toko satu ke toko lainnya, melihat lihat, dan setelah itu keluar dari mencari toko lain lagi, tanpa ada satupun barang yang mereka beli. Hampir tiga puluh menit mereka habiskan untuk mendatangi berbagai toko tersebut, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah toko pakaian muslimah yang menyajikan berbagai gamis, jilbab dan segala hal yang berkaitan dengannya.
Daffa berdiri dan melihat isi didalam toko tersebut dari kejauhan. Ia melihat istrinya, jauh didalam hatinya ia ingin sekali jika istrinya bisa mengenakan pakaian pakaian tersebut, sama seperti mendiang ibunya yang memakai jilbab. Sebenarnya bukan hanya Sekar, ia juga menginginkan agar Daffina bisa mengikuti style Ibunya, tapi mengingat karier Daffina yang berjalan di dunia entertainment, ia jadi tidak berani untuk mengutarakan keinginannya, dan memilih membebaskan adiknya dengan style pilihannya selama tidak terlalu terbuka