
Daffa tampak fokus mengerjakan pekerjaannya melalui laptop. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sebelas siang, biasanya ini adalah jam rutin untuknya meminum kopi. Ia meraih gagang telepon, hendak meminta sekretarisnya untuk nembuatkan kopi. Namun tiba tiba gerakannya terhenti saat teringat ucapan istrinya
"Aku membuatnya dengan bumbu cinta"
Kedipan manja istrinya saat mengatakan itu masih terbayang nyata dalam benaknya. Ia menggeleng, menghalau segala pemikiran aneh yang menghinggapi otaknya. Ia menaruh kembali gagang telepon tersebut, dan segera bangkit dari kursi kerjanya, dan keluar dari ruangan
"Maaf pak, apa ada yang bapak butuhkan?" tanya seorang wanita yang merupakan sekretarisnya
"Tidak, ada apa?"
"Saya ingin memberikan berkas yang membutuhkan tanda tangan bapak" ucap sekretaris tersebut
"Baiklah, letakkan saja diatas meja"
Daffa meninggalkan sekretarisnya didepan ruangannya. Ia memilih berjalan menuju pantry untuk membuat kopinya sendiri, daripada hal yang beberapa hari yang alu terulang, dimana dirinya memaki bawahannya hanya karena rasa kopi yang tidak sesuai keinginannya. Daffa mengambil gelas, dan mengambil kopi serta gula, setelahnya ia menambahkan air panas kedalam gelas tersebut, baru setelah itu ia ambil satu sendok kopi tersebut, dan mencicipnya
__ADS_1
"Rasanya berbeda" gumam Daffa
Daffa menyingkirkan kopi yang telah selesai ia buat, dan kembali mengambil satu gelas, dan mengulang apa yang ia lakukan tadi "Kenapa rasanya tetap berbeda?"
"Maaf pak, apa ada yang anda butuhkan?" tanya seorang office girl yang tampak memasuki pantry dan terkejut mendapati atasannya membuat kopi sendiri
"Tidak, pergilah"
Office girl tersebut tidak lagi berani berkata kata. Ia memilih pergi daripada kembali mendapat amukan dari atasannya. Sementara itu, Arga yang barusaja tiba di kantor milik sahabatnya itu dengan segera menuju ruangan sahabatnya. Namun ia tidak menemukan adanya Daffa di sana. Ia lantas bertanya pada sekretaris Daffa, dan sekretaris tersebut mengatakan bahwa Daffa menuju arah pantry
"Kenapa masih berbeda?" lagi lagi Daffa merasa aneh karena di racikan gelas ke-lima rasa kopi itu masih tetap berbeda
"Apa yang kau lakukan?" tanya Arga merasa penasaran
"Membuat kopi"
__ADS_1
"Lalu apa yang berbeda?" tanya Arga lagi
"Rasanya, Sekar bilang bahwa ia membuat kopi untukku dengan cinta, tapi aku tidak bisa membuat kopi se-enak buatannya. Apa karena aku tidak memiliki cinta?" ucap Daffa setengah sadar. Pasalnya, ia tidak menyadari bahwa yang sedari tadi bertanya itu adalah Arga. Setelah tersadar, ia melihat kearah sahabatnya yang tampak menutup mulutnya menahan tawa
"Hahahaha" tawa yang sejak tadi coba Arga tahan akhirnya meledak juga. Laki laki itu tampak tertawa terpingkal pingkal menanggapi kepolosan sahabatnya
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Daffa kesal
"Kau... Hahahaha Kau lucu sekali" ucap Arga masih dengan tawanya. Arga mendekati sahabatnya, dan mengambil satu gelas baru, dan mulai meraciknya persis seperti apa yang Daffa lakukan "Kau coba" perintah Arga menyodorkan sendok pada Daffa
Daffa tampak ragu. Namun akhirnya ia mengambil sendok tersebut, dan mencicip kopi buatan sahabatnya, dan benar saja rasa kopi buatan Arga lumayan lebih enak daripada buatannya, meskipun tidak sebanding dengan rasa kopi buatan istrinya. "Apa yang kau tambahkan kedalam kopi ini?" tanya Daffa
"Kasih sayang" ucap Arga asal
"Kasih sayang? Bukankah seharusnya cinta?"
__ADS_1