
Setelah menyelesaikan acara makan malam yang tertunda, kini Daffa kembali ke kamarnya lebih dulu. Ia bolak balik di kamar sembari terus mencoba menghubungi nomor telepon Daffina. Rasa khawatir benar benar menghinggapinya saat ini. Selama ini ia mengizinkan Daffina untuk tinggal di luar negeri karena ia masih bisa menempatkan beberapa orang kepercayaannya untuk menjaga Daffina. Namun kini adiknya pergi ke luar kota seorang diri tanpa pengawasan dari siapapun
"Angkat Fin..."
Beberapa kali panggilan ia lakukan. Namun sama sekali tidak tersambung. Ia segera mengambil kunci mobilnya, dan mengambil jaket kulit dari dalam lemari. Malam ini juga ia akan menyusul adiknya ke Lampung, tidak untuk melarang atau menanyakan tujuannya, melainkan untuk memastikan keselamatan saudara satu satunya itu
"Mas mau kemana?" tanya Sekar saat melihat tampilan suaminya
"Aku akan ke Lampung, jaga dirimu" Daffa mengecup pucuk kepala istrinya, dan segera menuju pintu kamar
"Mas..."
Daffa menghentikan langkahnya "Ada apa? Aku tidak punya waktu lagi Sekar, aku mengkhawatirkan Daffina"
__ADS_1
"Tapi sebelum itu, Mas harus tahu apa tujuan Daffina pergi"
Daffa mengernyitkan dahinya "Kau tahu?" tanya nya dan dijawab anggukan kepala oleh Sekar
"Daffina pergi ke Lampung untuk mengejar cintanya Mas, dia mengatakan itu padaku"
"Tapi kenapa dia tidak mengatakannya padaku?" tanya Daffa
"Karena dia yakin bahwa Mas tidak akan mengizinkannya untuk pergi jika tahu alasannya"
"Tidak Mas, dia yakin bahwa kau tidak akan mengizinkannya" bantah Sekar
"Kenapa? Kenapa aku harus tidak mengizinkannya?"
__ADS_1
"Karena laki laki yang dia kejar bukan lagi laki laki single"
"Maksudmu?" tanya Daffa
"Dia sudah pernah berkeluarga Mas, bahkan dia memiliki satu orang putra"
Daffa terdiam. Laki laki yang sudah pernah berkeluarga dan memiliki putra? Apa Daffa mengenal laki laki itu. Tapi tidak mungkin laki laki yang dimaksud Sekar adalah laki laki yang sama seperti yang ada dalam pikirannya. Tapi mengenai Daffina, mengapa gadis itu bertindak ceroboh dan menduga duga bahwa dirinya tidak akan memberikan izin. Padahal jika adiknya itu berbicara terus terang, maka ia akan mempertimbangkannya
"Mas... Aku yakin Daffina bisa menjaga dirinya. Jadi biarkan dia menjalani pilihannya sendiri" ucap Sekar
"Tapi..."
"Jika kau terus mengekangnya, maka dia akan semakin penasaran untuk mewujudkan rasa penasarannya, dan kau tidak mau bukan jika Daffina sampai mengambil keputusan salah hanya demi restu darimu? Jadi biarkan dia dengan pilihannya"
__ADS_1
Daffa menghela nafas kasar. Apa yang di katakan istrinya memang benar, selama ini ia dan Daddy-nya membatasi ruang gerak Daffina demi menjaga bidadari mereka itu. Hingga akhirnya Daffina tumbuh menjadi gadis yang penuh akan rasa penasaran, dan hanya pada Ibu Sambungnya ia bisa bertindak leluasa, itulah mengapa gadis itu sangat menyayangi Mama Carissa
Daffa melepas jaketnya, dan kembali meletakkan kunci mobil. Ia berjalan menuju ranjang dan berbaring dengan kepala bersandar pada headboard. Sekar yang melihat suaminya berbaring, akhirnya ikut membaringkan tubuhnya. Dengan berani, Sekar mendekat dan memeluk suaminya, Daffa yang merasakan kehangatan dari pelukan istrinya, akhirnya ikut memeluk sang istri dengan erat