
Melihat bagaimana menantunya yang tampak mual di belakang membuat Mama Carissa dilanda ke-khawatiran. Dirinya kasihan hanya dengan mendengar suara menantunya yang masih belum reda dari mualnya. Tidak lama, anak dan menantunya keluar, dengan posisi Daffa yang memapah Sekar
"Sekar, kau tidak apa apa kan?" Mama Carissa bangkit dari kursinya
"Aku baik baik saja Ma" ujar Sekar dengan suara lemah
"Ma, Dad... aku akan mengajak Sekar istirahat di kamar. Maaf hari ini aku tidak bisa ke kantor"
__ADS_1
"Ya, istirahatlah Nak, istrimu terlihat sangat pucat"
Daffa menggendong istrinya menaiki tangga. Meninggalkan Mama Carissa yang masih berdiri di tempat semula. Ia benar benar khawatir dengan keadaan sang menantu. Dirinya tidak pernah merasakan hamil dan melahirkan, dan hal itulah yang membuatnya benar benar merasa khawatir. Ia bahkan tidak tahu sampai kapan biasanya wanita hamil akan mengalami mual dan muntah seperti apa yang dialami menantunya
Tanpa terasa setitik air mata keluar dari sudut mata Mama Carissa. Ia menyentuh dadanya yang berdenyut nyeri. Berpuluh puluh tahun hidup dalam satu atap yang sama, dirinya tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya. Bahkan hingga saat ini, dirinya tidak pernah disentuh sekalipun.
Jika boleh jujur, hatinya benar benar hancur saat dulu suaminya mengatakan tidak akan pernah mencintainya. Namun ia mencoba menguatkan diri, dan meyakinkan hati bahwa seiring berjalannya waktu, hubungan yang semula kaku itu pasti akan berjalan dengan semestinya. Bahkan ia sangat percaya diri bahwa dirinya bisa mengambil hati suaminya dan menggantikan tempat Nyonya Bianca di hati suaminya. Namun nyatanya hingga detik ini, cinta tidak pernah bisa ia dapatkan
__ADS_1
Mama Carissa menghapus air matanya, dan membalik tubuh menghadap sang suami. Ia tersenyum teduh di hadapan suaminya "Hati hati Mas, jangan terlalu lelah, ingat kau sudah tua, bukan lagi anak muda yang bisa tahan banting" ujar Mama Carissa, sebab ia tahu bagaimana suaminya yang sangat gila kerja bahkan di usianya yang tidak lagi muda
Mama Carissa mengiringi kepergian suaminya hingga pintu depan. Setelah mobil sang suami tidak lagi terlihat dalam pandangannya, ia kembali melangkah cepat menuju kamar. Ia menutup pintu kamar, dan menguncinya, kemudian bersandar dibalik pintu
Matanya berkelana, menatap keindahan kamar yang ia huni. Ini adalah kamar miliknya dan sang suami. Namun kamar ini, seakan memberikan siksaan yang tak berkesudahan untuknya. Siksaan yang setiap waktu terus menerus menghantuinya.
Bagaimana tidak, di setiap jengkal dinding kamar hanya terdapat wajah sahabat, sekaligus istri pertama suaminya. Bahkan tepat diatas dinding ranjang, sebuah foto berukuran besar terpajang dengan begitu rapi. Foto itu adalah foto pernikahan antara suaminya dan sang istri pertama
__ADS_1
Mama Carissa meremas dadanya saat lagi lagi perasaan nyeri menghantamnya. Ia tidak menginginkan kehidupan seperti ini. Hidup dengan status sebagai Nyonya Besar Dirgantara. Namun di hadapan suaminya dirinya sama sekali tidak berharga. Semua barang peninggalan Nyonya Bianca masih tersimpan dengan rapi di dalam sebuah lemari besar di sudut kamar. Bahkan tidak hanya barang peninggalannya, tapi namanya masih begitu abadi dalam hati suaminya
"Tidakkah aku berhak marah atas tindakan suamiku yang tidak menganggap keberadaanku? Aku ingin marah Tuhan, tapi aku sadar, hidupku hanyalah sebatas ibu dan istri pengganti" ucapnya lirih