
Pagi ini, setelah menyelesaikan sarapan pagi, Daffa dan Sekar berjalan beriringan menuju pintu utama. "Semangat kerjanya Mas" ucap Sekar
"Iya" Daffa mencium pucuk kepala istrinya seperti biasa. Setelah itu, ia melajukan mobilnya keluar dari kediaman Dirgantara menuju perusahaan
Sedangkan Sekar, setelah memastikan mobil suaminya hilang dari pandangannya. Kini ia kembali ke meja makan, dimana Daddy dan Mama mertuanya masih menghabiskan sarapan. Sekar kembali duduk bergabung, dan meminum teh yang belum sempat ia habiskan saat sarapan tadi
"Daddy tidak ke kantor?" tanya Sekar saat melihat tampilan Tuan Riko yang hanya mengenakan pakaian santai
"Daddy akan istirahat pagi ini, nanti siang Daddy akan ke kantor karena ada meeting bersama suamimu. Ada apa nak?" tanya Riko saat menyadari menantunya tampak ingin mengutarakan sesuatu
"Tidak, Daddy dan Mama sarapan saja dulu, aku ingin bicara nanti" ujar Sekar
__ADS_1
"Bicara? Ada apa Sekar?" tanya Mama Carissa, melihat wajah serius menantunya, ia menjadi bertanya tanya tentang apa yang akan Sekar tanyakan kepada mereka
"Kita habiskan sarapan dulu saja Ma" ucap Sekar lagi, hingga akhirnya kini mereka kembali fokus menghabiskan sarapan pagi mereka
*
Setelah selesai sarapan, kini Tuan Riko, Nyonya Carissa, dan pastinya Sekar telah duduk bersama di ruang keluarga. "Jadi... Ada hal apa yang ingin kau tanyakan nak?" tanya Tuan Riko tampak tidak sabar
Tuan Riko menatap Mama Carissa, meminta persetujuan dari istrinya tersebut untuk menceritakan segalanya. Karena ia merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk menceritakan tentang keluarga Dirgantara kepada menantunya. Ia tahu, selama ini menantunya mungkin bertanya tanya tentang siapa Ibu Mertuanya yang sebenarnya. Namun baru pagi ini, wanita yang berstatus menantunya ini berani bertanya kepada dirinya
Hufff
__ADS_1
Tuan Riko menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Mencoba mencari pasokan udara sebanyak banyaknya, untuk menguatkan dirinya membuka kembali luka lama yang sampai saat ini belum ia kubur. Tuan Riko menatap menantunya yang kini juga menatapnya, menunggu jawaban atas pertanyaannya
"Ibu Bianca adalah istri Daddy yang pertama. Ibu dari Suamimu dan Daffina. Beliau meninggal dua hari setelah dinyatakan koma setelah mengalami pendarahan semasa melahirkan. Beliau adalah seorang penyanyi, dan sekarang bakat menyanyi itu telah diwarisi oleh Daffina. Kami menikah dalam sebuah kesalahfahaman sehingga membuat Daddy sangat membenci Ibu Bianca. Namun akhirnya Daddy menyadari adanya cinta yang tumbuh di hati Daddy untuk Ibu Bianca, dan saat Daddy memilih mengubur dendam, bersamaan dengan terungkapnya kesalahfahaman daddy, Ibu Bianca telah lebih dulu pergi meninggalkan Daddy"
Sekar diam, tidak ada yang salah dari cerita Daddy mertuanya ini. Karena apa yang Tuan Riko sampaikan sama persis dengan apa yang ia dengar dari suaminya "Lalu bagaimana bisa Daddy menikah dengan Mama?" tanya Sekar lagi yang kini menatap Mama Carissa yang tampak menunduk saat mendengar pertanyaannya
"Mama Carissa adalah sahabat dari Ibu Bianca. Setelah Ibu Bianca pergi dari kehidupan Daddy, saat itu ia bertemu dengan Mama Carissa, dan tidak lama setelah itu, Ibu Bianca dinyatakan hamil. Selama masa kehamilan, Ibu Bianca mengurus kehamilan bersama Mama Carissa. Mereka mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hingga akhirnya disinilah titik baliknya. Ibu Bianca memutuskan untuk kembali ke Jakarta untuk mengurus perceraian dengan Daddy. Namun saat Daddy mengetahui bahwa Ibu Bianca telah kembali ke Jakarta, Daddy berusaha untuk mendapatkan maafnya, dan akhirnya setelah perjuangan panjang, Ibu Bianca mau kembali bersama Daddy"
Hufff
Lagi lagi Tuan Riko menghela nafas. Mengungkit luka lama terasa sangat amat menyakitkan. Itulah mengapa ia tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun. Namun karena Sekar bertanya, ia tidak punya pilihan lain, karena ia merasa Sekar pantas mengetahui apa yang terjadi didalam keluarganya
__ADS_1