
Setelah berbincang di ruang tamu. Semua orang kembali ke kamar masing masing untuk beristirahat. Daffina, Gavin, dan Aksa tampak tidur berpelukan dalam satu ranjang, dengan Aksa berada di tengah tengah. Membuat mereka terlihat seperti keluarga kecil yang begitu bahagia
"Mama..." panggil Aksa
"Hem, kenapa Nak?" jawab Daffina
"Kita tidak perlu ke Lampung lagi ya, kita disini saja bersama adik Aliya dan Afifa" ujar Aksa penuh harap. Sebab, bermain bersama kedua adik bayinya terasa begitu menyenangkan, meskipun kedua bayi itu hanya merespon setiap ucapannya dengan senyuman
"Kenapa Nak?" tanya Daffina
"Karena Aksa senang bermain bersama Aliya dan Afifa Ma, mereka lucu" jawab Aksa mengutarakan perasaannya
"Kalau begitu, coba tanya Papa, boleh tidak" ujar Daffina, menirukan gaya bicara Gavin yang selalu meminta Aksa untuk mwminta persetujuannya
"Bolehkan Pa?"
Gavin tersenyum sembari mengelus pipi putranya. Sesekali ia juga tampak mengusap pucuk kepala sang istri "Kita harus pulang ke Lampung Nak, kan rumah kita disana" ujar Gavin
"Tapi, ini juga rumah kita. Opa bilang, rumah Opa adalah rumah Mama, dan rumah Mama adalah rumah Aksa juga, iya 'kan Ma?"
__ADS_1
"Iya benar" ucap Daffina menyetujui
"Baiklah, kalau begitu begini saja. Kita akan tinggal disini selama satu bulan, sembari menunggu kandungan Mama kuat untuk dibawa naik pesawat. Tapi setelah satu bulan, kita akan pulang ke Lampung, dan tinggal di rumah kita, bagaimana?" tawar Gavin
"Tapi Pa..." Aksa menunduk tampak keberatan dengan usul sang Papa
"Tidak apa apa Nak, nanti kalau Udo aksa rindu dengan adik Aliya dan Afifa, kita bisa mengunjungi mereka" hibur Daffina
Mendengar itu, Aksa mengangkat wajahnya untuk melihat wajah sang Mama "Benar Ma?" tanya Aksa antusias yang dijawab anggukan oleh Daffina "Yeay"
"Baiklah, kalau begitu, sekarang Udo Aksa tidur dulu, supaya besok bisa bangun pagi untuk bermain bersama Dedek Aliya dan Afifa lagi" ucap Daffina
Setelah melihat sang putra memejamkan mata, Gavin tersenyum, karena putranya begitu patuh pada Daffina "Aksa sudah tidur belum?" tanya Gavin pada Aksa
"Sudah Pa"
Gavin dan Daffina tersenyum bersamaan mendengar jawaban Aksa. Sebab Aksa mengatakan sudah tertidur, tapi masih bisa menjawab pertanyaan yang Gavin ajukan "Tidak ada orang yang tidur tapi masih bisa menjawab, Nak" ujar Gavin gemas
Aksa membuka kedua matanya setelah mendengar ucapan sang Papa. Ia lantas berbalik memunggungi sang Papa, dan membenamkan wajahnya di dada sang Mama, mencari ketenangan dan kenyamanan disana. Membuat Gavin gemas, dan ikut memeluk sang istri. Hingga membuat Daffina tersenyum senang. Karena meskipun belum ada ungkapan cinta yang suaminya utarakan. Namun hal hal kecil yang sering suaminya lakukan untuknya sudah cukup membuatnya bahagia
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, akhirnya pelukan Aksa melonggar, menandakan bahwa bocah laki laki itu sudah terlelap. Melihat hal itu, Gavin segera memposisikan sang putra agar nyaman dalam tidurnya. Sekaligus, agar istrinya tidak engap karena pelukan sang putra. Gavin membenarkan selimut untuk istri dan anaknya, kemudian membawa tangan sang istri untuk ia cium
"Terima kasih sudah hadir dalam hidup kami. Kau adalah dewi yang di kirimkan Tuhan untuk menjadi Ibu yang baik untuk Aksa, dan istri terbaik untukku" ujar Gavin
"Kebahagiaan terbesarku adalah saat aku bisa melihat senyum Aksa mengembang. Aku bisa merasakan kebahagiaannya setiap senyumnya terlihat. Sekarang, dia telah mendapatkan figur Ibunya kembali, dan aku berjanji akan selalu memberikan kasih sayangku untuknya, tanpa membedakan antara dirinya dan calon anak kita nanti" timpal Daffina
"Terima kasih Sayang, I Love You" ucap Gavin
Daffina diam, ia mengerjabkan matanya lucu. Seolah hal yang barusaja ia dengar hanyalah halusinasi yang hampir setiap saat melintas di pikirannya. Ia tersenyum dan mengangguk, tanpa membalas ungkapan cinta sang suami
"Sayang..." panggil Gavin saat tidak mendapati jawaban dari istrinya, sebab biasanya istrinyalah yang akan mengucapkan kata kata cinta padanya. Tapi kini, ia telah mengucapkan cinta, tapi istrinya sama sekali tidak membalas
"Hem?"
"Aku mencintaimu Daffina Andini Dirgantara" ujar Gavin mengulangi pernyataan cintanya
"Ha? I... ini bukan halusinasi?" tanya Daffina bingung
"Apa kau sering berhalusinasi agar aku mengungkapkan cintaku seperti saat ini?" tanya Gavin. Ia lantas melepas genggaman tangannya pada sang istri, dan berpindah berlutut di samping ranjang di samping istrinya "Aku, Gavin Deva Bumantara sangat mencintaimu istriku" ucap Gavin
__ADS_1
Tanpa terasa, air mata menetes di pipi Daffina. Ia tidak menyangka jika ungkapan cinta yang barusaja ia dengar bukanlah sebuah halusinasi. Tapi ini adalah sebuah kenyataan. Ia bangkit dari posisi baringnya menjadi posisi duduk. Ia lantas memeluk sang suami dengan erat "Terima kasih telah membalas cintaku, aku jyga mencintaimu"