
Daffina menyusul langkah Kakaknya yang sudah memasuki ruang keluarga "Kak aku mohon izinkan aku untuk kesana" pinta Daffina
"Tidak, sekali tidak tetap tidak"
"Tapi ini permintaan pertamaku, selama ini aku tidak pernah meminta apapun pada Kakak, jadi aku mohon kabulkan keinginanku kali ini saja" ujar Daffina masih tetap mengikuti langkah Kakaknya
Daffa berhenti didepan tangga. Ia meraih kedua tangan istrinya, dan ia lingkarkan di lehernya, bersiap untuk membawa sang istri menuju kamar. Namun rengekan Daffina yang terus terdengar membuat Daffa mengurungkan langkahnya.
"Jika Daddy mengizinkan maka ku bisa berangkat" ucap Daffa akhirnya
"Baiklah, thanks Kak. Bye Kakak Ipar" Daffina segera pergi setelah mendapat apa yang ia inginkan, perkara Daddy-nya itu adalah hal yang sangat mudah
__ADS_1
Daffa segera menaiki tangga setelah melihat Daffina hilang dari pandangannya. Ia membuka pintu kamar, dan mendudukkan istrinya di ranjang. Setelah itu, ia masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan apapun. Sedangkan Sekar yang tidak ingin ikut campur dalam masalah kakak beradik itu hanya terdiam. Sekar mencoba menggerakkan kaki kanannya dengan perlahan, tanpa menyadari bahwa Daffa telah keluar dari kamar mandi
"Besok gips di kakimu sudah bisa di buka, tapi aku tidak bisa menemanimu karena besok pagi aku ada meeting penting yang tidak bisa aku tinggal"
Sekar menatap suaminya yang baru keluar dari kamar mandi, dan langsung duduk diatas ranjang, tepatnya di ujung kakinya "Besok aku bisa berangkat sendiri" ucap Sekar
"Tidak, kau akan diantar Daffina ke rumah sakit, dan nanti disana kalian sudah ditunggu oleh dokter Gita" ucap Daffa kembali
*
Gelap mulai menunjukkan dirinya, menghapus kecerahan yang sempat tercipta dari sinar mentari. Diluar sana, hujan terdengar begitu deras, bahkan beberapa kali kilat terlihat menyambar diatas langit sana. Sekar duduk di kursi rodanya, memandang jauh keatas langit sana. Entah apa yang memenuhi pikirannya, tapi terlihat sekali bahwa wanita itu tengah berperang dengan pikiran di kepalanya.
__ADS_1
Huh
Terdengar helaan nafas dari Sekar. Malam ini Mood-nya benar benar buruk, dan ia memiliki kebiasaan buruk jika mood-nya tidak stabil seperti sekarang. Sekar menghapus air mata yang dengan lancangnya keluar tanpa permisi, dadanya begitu sesak, seakan ada gumpalan batu besar yang menyumbat disana
Sekar faham dengan dirinya, ini adalah dia yang sesungguhnya. Sosok lemah yang tidak bisa di sakiti, karena jika ia merasa sakit atau kecewa, maka dirinya tidak akan menangis secara langsung. Ia akan menahan segala bentuk rasa kesal atau kecewa tersebut, hingga waktu yang tidak bisa ia tentukan, dan jika gumpalan kecewa telah memenuhi relung dadanya, maka ia akan menangis tanpa tahu penyebabnya.
Sekar sangat tidak suka dengan ke-labilan nya ini. Sifat ini seakan menunjukkan betapa dirinya sangat kekanakan, dan dia sangat membenci itu. Ia selalu menegakkan tubuhnya di hadapan semua orang, seakan ia adalah sosok wanita tangguh yang tidak akan bisa menangis, tapi jika semua rasa itu kembali, maka tangisnya tidak akan bisa terbendung
Hiks... hiks...
Daffa membuka pintu kamar dengan hati hati saat mendengar isak tangis yang ia yakini berasal dari kamarnya. Dari balik pintu ia sudah bisa melihat bahu istrinya yang tampak bergetar dengan tangis yang terdengar sangat pilu. Jujur Daffa tidak tahu apa apa, ia merasa tidak menyakiti wanita itu, tapi mengapa istrinya itu tampak menangis begitu terisak, seakan sakit yang ia rasakan begitu amat perih
__ADS_1