
Sejak beberapa minggu yang lalu, Sekar memilih diam. Ia tidak lagi berinisiatif seperti sebelumnya untuk mendekati suaminya, sejak penolakan yang ia terima malam itu. Mungkin ia lelah, dan ia membutuhkan istirahat. Berjuang se-demikian rupa, bahkan merelakan harga dirinya jatuh dengan bersikap agresif. Namun segala usahanya masih belum memiliki arti apa apa untuk suaminya.
"Sekar, dimana dasi-ku?" tanya Daffa keluar dari ruang ganti
Sekar hanya melihat suaminya sekilas. Kemudian ia berdiri, bukan untuk mendekati suaminya, melainkan untuk pergi dari kamar tersebut. Sekar benar benar tidak ingin lagi untuk berbasa basi, ia turun menuju lantai bawah, dimana dapur berada. Belum ada siapapun di meja makan, sepertinya kedua mertuanya sedang di kamar, mungkin tengah bersiap pikir Sekar.
"Bik... tolong buatkan kopi untuk Mas Daffa ya" pinta Sekar
"Maaf Non..." Bik Wati sedikit mendekat pada Sekar, takut jika apa yang didengarnya salah. Karena seingatnya selama Sekar berada di kediaman Dirgantara, dan menjadi menantu di keluarga ini. Tugas membuat kopi di pagi hari selalu di ambil alih Sekar
__ADS_1
"Tolong buatkan kopi untuk Mas Daffa"
"Ba... baik Non"
Bik Wati berlalu untuk membuatkan pesanan majikannya. Bersamaan dengan itu, Mama Carissa dan Daddy Riko tampak keluar bersamaan menuju meja makan "Dad... Ma..."
"Pagi nak... dimana Daffa?" tanya Tuan Riko
Setibanya di meja makan, Daffa segera duduk di kursi. Setelah itu, seperti biasa, Sekar mengambilkan makanan untuk Daffa. Namun yang berbeda sejak beberapa hari ini adalah, tidak ada lagi ungkapan sayang yang sering Sekar utarakan untuk suaminya tersebut. Mereka memakan sarapan dalam keheningan. Setelah selesai, Daffa segera beranjak dari meja makan, diikuti oleh Sekar. Keduanya berjalan bersamaan menuju pintu utama
__ADS_1
"Aku berangkat" ucap Daffa, ia meraih kepala istrinya, dan melabuhkn kecupan di pucuk kepalanya.
Sekar hanya diam, tidak ada inisiatif untuk membalas apa yang barusaja suaminya lakukan. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban atas kata pamit yang suaminya ucapkan. Ia keluar ke teras, melihat mobil suaminya yng keluar dari gerbang hingga tidak lagi terlihat. Setelah memastikan mobil suaminya tidak lagi terlihat, Sekar kembali masuk ke rumah
"Sekar, sarapanmu sudah selesai?" tanya Mama Carissa saat melihat Sekar hendak menaiki tangga menuju kamar
"Sudah Ma, aku ke kamar dulu"
Mama Carissa dan Daddy Riko tampak saling pandang. Mereka mengamati tingkah menantunya beberapa minggu belakangan ini. Biasanya, setelah mengantar Daffa menuju pintu utama untuk berangkat, Sekar akan kembali lagi ke meja makan untuk menghabiskan sarapannya yang tertunda. Atau sekedar menemani kedua mertuanya untuk menghabiskan sarapan. Namun beberapa hari ini, setelah mengantar Daffa bekerja, Sekar akan langsung kembali menuju kamar
__ADS_1
*
Daffa tiba di pelataran kantor. Ia duduk diam di kursi kemudi tanpa berniat untuk turun dari mobil. Jika boleh jujur, pikirannya tidak sedang disini sekarang. Karena sejak melihat perubahan sikap istrinya sejak penolakan yang ia lakukan malam itu, sejak saat itulah ia merasa tidak nyaman. Selama ini ia sudah terbiasa dengan tindakan agresif istrinya, dengan segala trik godaan, dan ciuman yang selalu ia rasakan, membuatnya merasa nyaman, dan tanpa ia sadari hal tersebut menjadi hal baru yang ia sukai. Namun kini, tidak ada lagi sapaan hangat, tidak ada lagi kecupan mesra, dan tidak ada lagi kedipan menggoda dari istrinya. Ia merasakan kekosongan karena hal itu