
Pagi pagi sekali Daffa harus terbangun saat mendengar suara istrinya yang muntah di kamar mandi. Ia segera menyusul, dan melihat istrinya yang masih membasuh wajah pucatnya di wastafel. Ia usap punggung sang istri untuk menguatkan, sebab ia tahu betul bagaimana rasanya muntah di pagi hari yang bisa membuat tubuh tidak berdaya
Sekar membalik tubuhnya. Melingkarkan tangan pada leher suaminya, dan menyembunyikan wajahnya yang tampak pucat di dada bidang sang suami. Daffa segera membantu istrinya keluar, dan mendudukkannya di ranjang.
"Sayang, kau pucat sekali. Kita ke dokter saja ya" ucap Daffa sembari menghapus peluh di dahi istrinya
"Tidak, aku sudah lebih baik"
Tok... tok... tok...
Terdengar pintu kamar yang di ketuk dari luar. Daffa beranjak, dan membuka pintu tersebut "Bik, ada apa?"
"Nyonya dan Tuan sudah menunggu di meja makan Den" ucap Bik Wati
"Baik, sebentar lagi kami turun"
__ADS_1
Bik Wati membungkuk, dan berlalu dari kamar tuannya. Melihat Bik Wati yang berjalan menjauh, Daffa kembali masuk ke kamar, dan berjongkok di hadapan istrinya yang duduk di tepi ranjang "Kau mau sarapan di bawah bersama Mama dan Daddy, atau ada keinginan lain?"
"Tidak, aku ikut sarapan di bawah saja"
Daffa mengangguk, dan segera memapah istrinya menuju ruang makan. Tiba disana, seperti biasa, Mama dan Daddy sudah tampak menunggu. Daffa menarik kursi untuk istrinya, dan ikut mendudukkan diri
"Sekar, kenapa kau pucat sekali?" tanya Mama Carissa
"Sekar mual pagi ini Ma, mungkin bawaan bayi" ujar Daffa
"Bukankah kemarin kemarin Daffa yang mual, lalu bagaimana bisa Sekar ikut mual?"
Daffa ikut mengusap perut istrinya. Meski separuh hati masih menyimpan perasaan takut. Namun ia tidak bisa menolak anugerah yang Tuhan titipkan untuknya. Karena bagaimanapun, ia telah berani berbuat, itu artinya ia juga harus berani bertanggung jawab
"Sudah, ayo kita mulai sarapannya" ujar Tuan Riko setelah cukup lama mengamati interaksi antara istri, anak dan menantunya
__ADS_1
"Kau ingin makan apa?" Daffa meraih piring dan mulai menunjuk apa saja yang sekiranya istrinya inginkan. Namun dari sekian banyak hidangan, tidak satupun yang menggugah selera Sekar untuk makan
"Mmm Mas, aku sepertinya tidak ingin makan. Kau makan saja, biar aku temani"
"Tidak sayang, kau harus makan, atau kau akan sakit nanti"
"Tapi tidak bisa Mas, aku takut akan mual lagi"
"Baiklah kalau begitu kita makan sepiring berdua saja" usul Daffa
Sekar melirik takut. Jujur ia benar benar takut jika dirinya kembali mual di meja makan yang justru membuat kedua mertuanya tidak nyaman. Ia menatap suaminya yang mulai mengambil nasi dan beberapa lauk. Baru mencium baunya saja sudah membuat perut Sekar terasa seperti berputar putar, lalu bagaimana ia bisa menyantap makanan itu
"Ayo sayang buka mulutnya" Daffa mengarahkan satu sendok nasi dengan sayur ke mulut sang istri, dan dengan gerakan cepat segera di lahap oleh Sekar
Sekar mengunyah makanan dengan tak berselera. Belum lagi perutnya yang benar benar terasa di aduk aduk membuatnya sangat tidak nyaman. Berkali kali rasa mual datang, tapi berkali kali pula di tahan oleh Sekar. Bahkan kini wajah calon ibu itu sudah memerah karena terlalu lama menahan mual
__ADS_1
"Sayang..." Daffa meletakkan sendok berisi nasi yang akan ia suapkan pada istrinya, ia begitu terkejut saat melihat wajah istrinya yang tampak sangat merah "Sayang, ada apa?"
Sekar tidak menjawab, yang ia lakukan hanya berlari cepat menuju belakang, dan mengeluarkan isi mulutnya di wastafel dapur. Daffa berjalan cepat, dan lagi lagi memijat tengkuk istrinya. Ia benar benar tidak tega melihat betapa tersiksanya sang istri dengan mual pertamanya pagi ini