Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku

Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku
Bab 65


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat puluh lima menit jalur udara. Kini Daffa dan Arga telah tiba di bandara Soekarno Hatta. Mereka segera memasuki mobil jemputan yang sudah mereka minta sebelumnya


Tidak sampai tiga puluh menit, mobil yang membawa Daffa dan Arga tiba didepan kediaman Dirgantara. Daffa segera turun dari mobil, sedangkan Arga langsung saja di antar menuju kediamannya. Setelah mobil yang membawa Arga pergi menjauh, kini Daffa menarik kopernya untuk masuk kedalam rumah


Hening dan sunyi, mungkin dua kata itu cukup menggambarkan kondisi rumah saat ini "Bik, Daddy dimana?" tanya Daffa pada Bik Wati


"Tuan dan Nyonya keluar sejk pagi Den" jawab Bik Wati


"Sekar?" tanya Daffa lagi


"Non Sekar ada di atas, sedari pagi dia belum makan. Bibi sudah membujuk supaya Non Sekar mau makan, tapi sampai sekarang Nona belum turun untuk makan" tutur Bik Wati

__ADS_1


"Baiklah, tolong bereskan koper ini ya Bik, aku ke atas dulu" Daffa berjalan menuju kamarnya, meninggalkan koper yang berisi pakaian kotor miliknya untuk di bersihkan oleh Bik Wati "Sekar..." Daffa membuka pintu kamar, dan langsung saja masuk kedalam. Ia menyisir setiap sudut kamarnya. Namun ia sama sekali tidak melihat keberadaan istrinya


Ia berjalan menuju kamar mandi, membukanya untuk mencari keberadaan sang istri. Namun Sekar tidak ada di sana. Daffa keluar dari kamar mandi, beralih menuju balkon, dan benar saja dugaannya, istrinya tengah duduk melamun di sana


"Sekar..." Daffa berjalan mendekat sembari memanggil nama Sekar. Namun Sekar seakan menulikan pendengarannya. Daffa duduk berdampingan bersama istrinya "Aku dengar kau belum makan sedari pagi, kenapa?" tanya Daffa


"Kenapa kau pulang?" tanya Sekar, masih enggan mengalihkan tatapannya dari hamparan luas halaman rumah


"Aku pikir kau tidak akan pulang, dan hanya akan mengirim surat pengadilan saja padaku. Padahal aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima semua itu"


"Sekar..." Daffa tidak melanjutkan perkataannya saat tatapan tajam Sekar menghunus kearahnya

__ADS_1


"Kau ingin menceraikanku bukan? Maka mari kita bercerai. Aku sudah kalah, aku tidak bisa merebut hartamu, apalagi hatimu"


"Tidak" Daffa meraih tangan sekar, di genggamnya kemudian ia arahkan untuk menyentuh dadanya "Apa seperti ini gemuruh di dada seseorang yang sedang jatuh cinta? Jika iya, maka kini aku telah mencintaimu. Aku mencintaimu Sekar Lestari. Maafkan aku karena terlambat menyadari perasaanku. Tolong maafkan aku" ucap Daffa


Sekar menatap dalam dalam manik mata Daffa yang kini tampak berkaca kaca. Sekar menarik tangannya dari dada Daffa, lalu beralih mengusap air mata yang kini mulai menetes di kedua mata suaminya "Kau menangis?" tanya Sekar tak percaya


Daffa mengusap ujung matanya yang memang terasa basah. Ia tidak menyangka air matanya jatuh hanya karena tidak ingin ditinggalkan oleh wanita yang dulu sempat ia benci. "Aku... aku tidak mungkin menangis, aku hanya kelilipan" kilah Daffa


"kenapa? Apa menurutmu air mata adalah simbol kelemahan? Jika iya, maka kau salah, karena air mata adalah simbol dari kelembutan hati seseorang. Aku tahu hatimu begitu lembut, dan begitu penyayang, bahkan kau siap menjadi garda terdepan jika Daffina sampai di sakiti oleh orang lain. Kenapa kau tidak mau mengakuinya? Kau manusia Mas, hal yang wajar saat air matamu jatuh disaat bahagia, atau disaat terpuruk sekalipun"


"Tidak Sekar, air mata bagiku tetap sebuah simbol kelemahan seseorang. Aku tidak ingin menangis, dan aku tidak pernah menangis selama belasan tahun dengan alasan apapun"

__ADS_1


"Lalu tadi kau menangis, apa itu simbol kelemahan? Kalau iya, apa itu artinya aku adalah kelemahanmu?"


__ADS_2