
Daffa memejamkan matanya, sembari menghela nafas kasar. Walau bagaimanapun ia tidak bisa mencampur urusan pribadinya dengan urusan perusahaan. Merasa sedikit lebih tenang, Daffa melangkah turun dari mobil, dan langsung masuk ke gedung perusahaannya
Sepanjang perjalanan menuju ruangannya. Banyak sekali sapaan yang di lontarkan para karyawannya. Namun semua sapaan itu tidak ia jawab sama sekali. Ia segera menekan lift, menuju lantai dimana ruangannya berada. Tiba di ruangannya, ia melepas jas-nya dan duduk di kursi kebanggaan miliknya
Daffa melirik secangkir kopi yang sudah tersedia di mejanya. Ia meraih cangkir kopi tersebut, kemudian ia sesap. Lagi lagi rasa kopi tersebut berbeda "Kenapa aku merindukan kopi buatannya? Padahal hanya pagi ini ia tidak membuatkan kopi untukku" monolog Daffa. Ia teringat dengan rasa kopi di rumahnya pagi ini yang tidak se-enak biasanya, dan ia bisa menebak bahwa kopi yang pagi tadi ia minum bukanlah buatan istrinya. Daffa meletakkan cangkir kopinya kembali, dan mulai berkutat dengan segala pekerjaannya
Setelah cukup lama berperang dengan laptop dan beberapa berkas lainnya. Kini Daffa kembali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sembilan. Ia menghela nafas berat. Jujur ia sudah merasa cukup lama di ruangan kerjanya, dan mengerjakan segala pekerjaannya. Namun kenapa waktu seolah enggan untuk berputar lebih cepat.
"Permisi Pak" sapaan dari wanita di depannya membuat Daffa kembali menegakkan tubuhnya, dan duduk penuh wibawa
"Ada apa?" tanya Daffa pada sekretarisnya
__ADS_1
"Saya hanya ingin mengingatkan anda bahwa setengah jam lagi akan ada pertemuan dengan tuan Argantara di Cafe Kenangan"
"Baiklah, persiapkan semuanya"
Mendengar perintah atasannya, wanita tersebut mengangguk, dan berlalu keluar dari ruangan. Sedangkan Daffa memilih menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, dan memejamkan matanya sejenak. Beberapa menit berlalu, Daffa keluar dari ruangannya dengan tampilan yang sudah rapi, dan didepan sana sudah ada sekretarisnya yang menunggu
"Semua sudah kau persiapkan?" tanya Daffa
"Sudah Pak"
Daffa segera berjalan mendahului diikuti sekretarisnya. Tiba di lobi, mobil yang akan membawa mereka sudah terparkir dengan rapi. Tanpa menunggu lama, Daffa segera masuk kedalam mobil. Sedangkan wanita yang merupakan sekretarisnya tersebut duduk di depan, berdampingan bersama supir
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, kini mobil yang membawa Daffa telah tiba di Cafe Kenangan, tempat yang sudah mereka janjikan. Daffa segera keluar dari mobil, dan segera berjalan memasuki Cafe. Sekretaris Daffa segera mengikuti Daffa dari belakang sekaligus memberi petunjuk pada atasannya itu bahwa ruangan yang akan mereka gunakan ada di ujung ruangan. Daffa membuka pintu kaca yang akan menjadi tempat petemuannya tersebut, dan ia langsung di sambut hangat oleh Arga, sang sahabat, sekaligus rekan kerjanya
"Selamat siang, Tuan Daffa" sapa Arga mengulurkan tangan
"Siang, Tuan Arga"
"Silahkan duduk" ucap Arga mempersilahkan, hingga kini Daffa dan Arga duduk berhadapan, begitupun dengan kedua sekretaris mereka
Rapat pun dimulai, Daffa tampak memperhatikan dengan seksama tentang apa saja yang disampaikan Arga. Sesekali ia akan melihat apa yang Arga tunjukan padanya melalui layar Ipad-nya. Terkadang alis Daffa mengernyit saat suatu penjelasan yang disampaikan Arga terdengar tidak masuk akal. Namun sesekali ia juga akan mengangguk saat apa yang Arga jelaskan sejalan dengan apa yang ia pikirkan
"Jadi bagaimana, apa Tuan Daffa puas?" tanya Arga di akhir penjelasannya
__ADS_1
"Saya sangat puas dengan apa yang anda jelaskan Tuan, saya rasa tidak ada alasan untuk menolak kerja sama ini. Selamat bekerja sam dengan perusahaan kami, semoga kita bisa menjadi rekan kerja yang baik" Daffa mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Arga.
"Tentu" balas Arga menyambut uluran tangan Daffa