
Daffa bangkit dari duduknya. Ia memejamkan mata sembari menghirup dalam dalam udara sore di pinggir pantai yang kian terasa sejuk. Sekar yang melihat suaminya berdiri, dengan segera ikut berdiri. Ia melangkah mendekati laki laki yang ber-status suaminya itu, dengan memberanikan diri ia memeluk suaminya dari belakang, menyembunyikan wajahnya di balik punggung kekar sang suami
Daffa membalik tubuhnya saat merasakan pelukan yang begitu hangat. Ia balas memeluk istrinya dan membenamkan wajah istrinya di dada bidangnya. Di usapnya surai panjang sang istri yang kini ia biarkan tergerai. Daffa kembali memejamkan mata, meresapi aroma memabukkan dari tubuh istrinya yang berhasil membuatnya tenang.
"Mas"
"Hmm..."
"Maaf karena membuka cerita lama yang sudah berusaha kau kubur. Aku mencintaimu Mas, aku hanya tidak ingin suamiku hidup dalam kesalahpahaman yang berkelanjutan"
__ADS_1
Daffa melepas pelukannya. Ia balik menangkup kedua pipi istrinya dengan senyum yang tak lepas dari sudut bibirnya "Aku yang seharusnya ber-terimakasih. Sampai detik ini kau masih mau menerimaku menjadi suamimu. Kau wanita hebat Sekar, aku adalah laki laki paling beruntung di dunia ini karena memiliki istri sebaik dirimu" ucap Daffa disertai kecupan sayang yang ia labuhkan di pucuk kepala istrinya "Mengenai Mama... aku sudah mulai belajar melupakan dendamku padanya, karena bagaimanapun, dia adalah wanita yang berjasa merawat aku sejak kecil, dan setelah mendengar cerita dari Daddy dan Mama di ruang keluarga tempo hari padamu, aku menjadi yakin untuk meminta maaf pada Mama"
"Kau mendengar pembicaraanku dengan Daddy dan Mama beberapa hari yang lalu?" tanya Sekar yang di balas anggukan oleh Daffa
"Aku mendengar semuanya"
Ya, Daffa mendengar semuanya. Semuanya penjelasan yang Daddy-nya katakan pada Sekar di ruang keluarga beberapa hari yang lalu. Tentang kematian Ibunya, dan tentang penderitaan Mama Carissa yang selama ini hidup dalam pernikahan tanpa cinta selama bertahun tahun. Tumpukan penyesalan dan rasa bersalah bersemayam dalam dada Daffa. Namun rasa gengsi dan malu mengalahkan segalanya, hingga sampai detik ini ia masih belum berani untuk meminta maaf pada Ibu Sambungnya itu
Mereka hanyut dalam aksi saling memeluk. Menyalurkan kehangatan dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Skenario awal yang sudah mereka susun untuk memulai pendekatan seperti hal-nya pasangan pada umumnya harus buyar, karena Sekar membuka kembali tabir masa lalu suaminya yang membawa pada sebuah titik terang dan pintu maaf dari suaminya untuk Mama Carissa
__ADS_1
*
Setelah menghabiskan waktu sore dengan melepas penat sekaligus mencurahkan isi hati satu sama lain di tepi pantai. Kini Daffa dan Sekar telah berada di atas ranjang dengan posisi saling memeluk. Entahlah, bagi Daffa memeluk istrinya bagai sebuah candu yang membuatnya ingin terus menerus melakukannya. Sedangkan untuk Sekar, hidup tanpa kasih sayang dari kedua orang tua sejak kecil membuatnya haus akan rasa kasih sayang. Selama ini kasih sayang yang ia dapat hanya dari Mbok Iyem dan Mama Carissa, dan sekarang ia telah menemukan satu cinta besar yang hadir dalam diri suaminya.
Rasa bahagia tidak bisa Sekar ucapkan dengan kata kata. Dirinya yang ditugaskan untuk meluluhkan hati laki laki dingin yang saat ini ber-status suaminya, membuat cinta tumbuh tanpa ia sadari, dan cinta itu bertambah semakin besar dari hari ke hari. Kini, balasan cinta yang nyata telah ia temui. Tidak ada lagi hal yang harus ia sayangkan dan tangisi, karena kini kebahagiaannya terasa begitu sempurna
"Sayang, apa kau lelah?" tanya Daffa
"Tidak, aku hanya mengantuk. Ada apa?"
__ADS_1
Tanpa menjawab dengan kata kata. Kini Daffa telah mengukung tubuh istrinya "Aku menginginkanmu" bisiknya mesra, dan ia langsung saja memulai aksinya. Hingga akhirnya malam itu, untuk kedua kalinya hal baik terjadi dalam hubungan mereka