
Daffa menjambak rambutnya. Pikirannya kembali tertuju pada istrinya, padahal istrinya sudah pergi dari kantornya sejak satu jam yang lalu. Tapi bayang bayang ke-intiman mereka masih melekat dalam benaknya hingga saat ini
"Aku bisa gila gara gara perempuan itu" rutuknya
Daffa benar benar tidak bisa konsentrasi untuk mengerjakan semua pekerjaannya. Ia mengambil jas yang ia sampirkan pada kursinya, lalu dengan segera keluar dari ruangannya. Barusaja akan menggapai pintu, ia dikejutkan dengan kedatangan sang Daddy yang tiba tiba saja sudah berada didepan ruangannya
"Kau mau kemana?" tanya Tuan Riko
"Aku akan pulang"
"Pulang?" Tuan Riko melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jam masih menunjukkan pukul dua belas siang, tapi Daffa mengatakan akan pulang "Kau sakit?" tanya Tuan Riko lagi
"Aku butuh istirahat Dad"
"Sayang sekali, padahal Daddy ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu"
__ADS_1
"Sesuatu yang penting? Apa itu?" tanya Daffa menaikkan alisnya
"Daddy sudah menyiapkan dua tiket liburan untukmu dan istrimu" ucap Tuan Riko
"Dad... Aku bisa mengatur urusanku sendiri. Jadi aku mohon jangan ikut campur dalam urusanku, apalagi rumah tanggaku" ucap Daffa sembari melenggang pergi, meninggalkan Tuan Riko yang tampak menatap kepergiannya
Daffa yang sudah berada di dalam mobil, dengan segera melajukan kendaraannya. Ia tidak tahu akan kemana ia membawa kemudinya, yang terpenting ia harus pergi dari perusahaan. Karena rasanya percuma jika dirinya di perusahaan, tapi pikirannya berlari entah kemana
"Dimana kau?" tanya Daffa melalui sambungan teleponnya "Baik, aku kesana sekarang"
Daffa mematikan sambungan teleponnya dan segera mengemudikan kendaraanya ke rumah sahabatnya. Sekitar dua puluh menit, mobil yang ia kendarai sudah tiba di depan kediaman megah milik Arga. Ia menekan bel, dan pintu langsung di buka oleh Arga sendiri
"Aku bisa gila gara gara wanita itu" ujar Daffa
"Wanita itu? Maksudmu istrimu?" tanya Arga, tapi tidak mendapat jawaban dari Daffa, karena saat ini yang Daffa lakukan adalah memijat pangkal hidungnya, seakan mewakili hatinya yang sedang kalut
__ADS_1
"Wanita itu benar benar agresif, aku tidak tahu harus bagaimana" ucap Daffa
"Agresif? Maksudmu agresif yang seperti apa, mencium wajahmu seperti yang sudah sudah?" tanya Arga, teringat dengan cerita sahabatnya tentang betapa agresifnya istrinya
"Lebih dari itu, dia berani memancing diriku"
"Dengan?" tanya Arga masih belum puas dengan penjelasan sahabatnya
"Dia duduk dipangkuanku dan menggodaku"
"Wow, se-agresif itu? I like it" ucap Arga. Namun didetik berikutnya, ia segera membungkam mulutnya saat melihat tatapan tajam yang Daffa hunuskan padanya "Baiklah, lalu apa yang terjadi setelah itu? Apa kalian..." Daffa mengatukan kedua tangannya sebagai isyarat
"Otakmu itu terlalu mesum, aku kasihan padamu, sudah berumur tapi belum menikah, jadi otak mesum mu itu tidak bisa tersalurkan" ejek Daffa, sadar akan arah pembicaraan sahabatnya
"Hei... Jika bukan karena Om dan Tante yang menjodohkanmu, aku yakin kau juga pasti belum menikah sampai sekarang"
__ADS_1
"Tapi setidaknya, aku sudah menikah. Ingat, dalam pertemanan kita hanya kau satu satunya bujang lapuk"
Arga melempar bantas sofa ke wajah Daffa. Namun bukannya berhenti, tawa mengejek Daffa justru semakin terdengar. Memang Lion, Ardan, dan Daffa sudah menikah, hanya tinggal dirinya yang saat ini belum melepas status jomblonya. Namun tidak mengapa, ia masih bisa menikmati hidup meski belum berumah tangga