
Tok... tok...
Mama Carissa menghapus air matanya saat mendengar pintu yang di ketuk. Ia berlari menuju meja rias, dan melihat tampilannya. Matanya sedikit sembab karena cukup lama menangis. Ketukan pintu kembali terdengar, memaksa Mama Carissa untuk segera menuju pintu dan membukanya
Mama Carissa sedikit tersentak saat melihat Daffa yang berdiri didepan pintu. Namun sebisa mungkin ia menormalkan wajahnya dan berusaha terlihat biasa "Daffa, ada apa Nak?"
Daffa mendekati Mama Carissa, dan membuka pintu kamar dengan lebar. Betapa terkejutnya dirinya saat melihat kamar orang tuanya yang di penuhi dengan foto Ibu Bianca. Ia kemudian melirik Mama Carissa yang tampak menghalanginya untuk masuk
"Ma..." ucapan Daffa tercekat. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa kehidupan yang di jalani Ibu Sambungnya selama ini. Dimana harus tidur dalam satu kamar yang sama dengan suami yang masih menyimpan rasa untuk wanita lain yang merupakan istri pertamanya.
__ADS_1
"Daffa ada apa kau mencari Mama?" tanya Mama Carissa berusaha mengalihkan pembicaraan. Namun bukan jawaban yang ia dapat, tapi sebuah pelukan
Ya, Daffa memeluk Ibu Sambungnya yang berusaha bersikap biasa. Bagaimana bisa Ibunya sekuat ini. Ia yakin, kebenciannya selama ini pasti mengoyak hati Mama Carissa. Namun wanita itu dengan hati yang luas menerima permintaan maafnya, dan menyayanginya begitu tulus
Daffa menangis, ia memeluk Mama Carissa dengan begitu erat. Mama Carissa yang sejak tadi berusaha untuk terlihat biasa, kini ikut membalas pelukan putranya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia memeluk putranya dengan begitu lama. Tangis yang bersahutan membuat keduanya larut dalam pelukan
"Kalian adalah sumber kekuatan Mama, sayang. Kau dan Daffina adalah bagian dari hidup Mama, Mama tidak akan bisa hidup tanpa kalian berdua"
Daffa menghapus air matanya. Ia memindai seisi kamar yang benar benar penuh dengan foto Ibu Bianca "Bagaimana Mama bisa tidur dalam ruang penuh siksa ini Ma?" Daffa kembali melirik Mama Carissa yang justru melihatnya dengan senyuman
__ADS_1
"Setiap malam Mama mungkin akan tidur di dalam kamar penuh siksaan ini. Tapi setiap Mama membuka mata di pagi hari, dan melihat wajahmu dan Daffina, maka siksaan itu seakan luntur tak bersisa. Kalian berdua adalah sumber kekuatan Mama, Daffa"
Daffa menggeleng, ia tahu wanita paruh baya di depannya ini hanya berpura pura kuat. Pancaran mata yang penuh akan kesedihan benar benar terlihat di mata Mama Carissa. Lalu bagaimana bisa Mama Carissa masih bisa terlihat biasa saja
"Ada apa kau kemari, apa Sekar mual lagi?" lagi lagi Mama Carissa berusaha mengalihkan pembicaraan
"Aku melihat Mama menangis setelah mengantar Daddy ke kantor"
Ya, Daffa melihat bagaimana Mama Carissa yang berlari menuju kamar dengan tangisan. Daffa yang tadi hendak meminta bantuan Mama Carissa, dan bertanya tentang hal hal yang biasa dialami ibu hamil, seketika menghentikan langkahnya di tengah tangga saat melihat Mama Carissa menangis. Ia berinisiatif untuk mendekat, dan menanyakan penyebab dari tangis wanita yang telah membesarkannya itu. Namun ia urungkan saat mendengar tangis lirih yang kian menyayat hatinya, dan kini jawaban dari semua pertanyaan dalam benaknya telah ia dapatkan
__ADS_1