
"Mas..." Sekar segera bangkit dari baringnya saat wajah sang suami kini memenuhi penglihatannya. Ia tidak menyangka jika suaminya akan tiba secepat ini, karena seingatnya, baru beberapa menit yang lalu ia menghubungi sang suami. Ia segera menghambur kedalam pelukan suaminya, yang langsung saja mendapat balasan
"Pelan pelan Sayang" Daffa agak sedikit khawatir saat melihat istrinya yang melompat. Tangannya bergerak mengelus punggung istrinya yang tampak bergetar "Kenapa menangis, hem?"
"Aku merindukanmu, jangan tinggalkan aku lagi" isak Sekar, masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami
"Tidak akan, lagipula aku hanya pergi dua hari, apa se-rindu itu?" tanya Daffa
"Tentu saja, apa kau tidak merindukanku?" Sekar melepas rengkuhannya dan memberengut kesal, dan hal itu berhasil mengundang tawa dari Daffa
"Aku sangat merindukanmu, kemari biar aku peluk lagi. Rasanya masih belum puas" Daffa kembali membawa Sekar kedalam pelukannya dan dengan sukarela, ibu hamil itu menuruti permintaan suaminya
Daffa melepas rengkuhannya, dan mengajak sang istri untuk duduk di sofa yang tadi istrinya tempati. Ia mengusap perut sang istri, kemudian melabuhkan satu kecupan disana. Ia tersenyum, tidak menyangka jika ia bisa merasakan kehangatan rumah tangga seperti ini
"Apa mereka menyusahkanmu?" tanya Daffa mendongak, dengan tangan yang masih tetap setia mengelus perut sang istri
"Tidak, hanya saja mereka selalu membuat aku terus menerus menumbuhkan rindu padamu. Mungkin mereka juga merindukan Ayah mereka" Sekar memegang tangan suaminya yang masih mengusap perutnya
__ADS_1
"Mereka atau Bundanya yang rindu?"
Sekar tersenyum malu mendapati godaan dari suaminya. Ia kembali membenamkan wajahnya yang bersemu merah pada dada sang suami. Membuat Daffa begitu gemas
Tring... tring...
Suara ponsel Daffa membuat Sekar mendongak. Namun sedikitpun tidak melepas rengkuhannya pada tubuh Daffa. Ia sedikit berbisik, menanyakan siapa yang menelepon suaminya itu. Daffa yang dapat menangkap maksud istrinya hanya mengangkat bahunya, tanda tak tahu. Daffa kemudian mengeluarkan ponselnya, dan langsung saja mengangkat panggilan
"Halo..." Daffa mendengar ucapan seseorang di seberang sana, kemudian mengangguk samar "Aku barusaja tiba di rumah" Daffa kembali mengangguk dan tersenyum setelah mendengar ucapan seseorang di teleponnya "Baik, terima kasih atas kerja kerasmu, sekretaris Sasha" Daffa mematikan panggilan teleponnya, dan menaruhnya disamping tubuhnya
"Siapa?" tanya Sekar dengan bersedekap dada. Ia sudah melepas rengkuhannya pada tubuh sang suami saat mendengar suaminya berbicara begitu lembut pada seseorang dalam sambungan teleponnya. Yang mana, membuat Sekar yakin bahwa itu adalah seorang wanita
"Siapa?" tanya Sekar kembali
"Sekretarisku"
"Perempuan?"
__ADS_1
"Iya, awww..." Daffa kembali menjerit saat lagi lagi jari lentik istrinya mencubit di tempat yang sama
"Cantik?" tanya Sekar, tampak masih belum puas dengan jawaban suaminya
"Tidak, kau lebih cantik, aww... Sayang"
"Jangan bohong, mana ada wanita di dunia ini yang tidak cantik. Jawab jujur" ujar Sekar
"Iya, iya, dia cantik"
"Jadi dia cantik" Sekar kembali melayangkan cubitan di paha suaminya, membuat teriakan Daffa semakin keras
"Tidak, tidak... maksudku sebagai wanita dia pasti cantik, tapi tidak bisa menandingi kecantikan istriku" ucap Daffa cepat. Mendengar ucapan suaminya, membuat Sekar melepas cubitannya pada paha sang suami
"Jadi siapa yang lebih cantik, aku atau dia?" Sekar membelakangi Daffa dengan tangan bersedekap
"Tentu saja istriku" Daffa menggeser duduknya, dan memeluk sang istri dari belakang. Tangannya turun, dan mengusap perut istrinya "Nanti saat besar jangan galak seperti Bunda ya Nak"
__ADS_1
"Apa?"