Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku

Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku
Bab 86


__ADS_3

Daffa kembali masuk kedalam kamarnya setelah selesai melepas foto foto Ibu Bianca dari dinding kamar orang tuanya. Ia menghela napas kasar, lalu ikut bergabung bersama istrinya yang tengah terlelap. Dipeluknya tubuh istrinya yang sudah tampak berisi itu.


Satu bulan kehamilan membuat tubuh istrinya yang semula ramping, mulai menjadi sedikit berisi. Perut yang semula datar, perlahan tampak menonjol. Daffa mengelus perut istrinya, ia masih tidak menyangka jika Tuhan memberinya titipan yang begitu besar, dengan trauma yang belum bisa ia lupakan. Ya, rasa trauma atas kematian Ibu Bianca terus menerus menghantuinya. Ia tidak bisa membayangkan jika hal serupa menimpa istrinya, mungkin dirinya pun akan ikut mati jika tidak ada Sekar di sisinya


"Sehat sehat sayang, Ayah menantikan kedatanganmu"


Cup


Satu kecupan mendarat di perut Sekar, dan hal itu berhasil membuat Sekar terusik dari tidurnya hingga terbangun "Mas..."


"Kau sudah bngun?"


"Mas yang menggangguku, lagipula kenapa membiarkan aku tidur, tidak seharusnya aku tidur di masa kehamilan Mas" ucap Sekar, sebab sudah beberapa kali ia mengingatkan pada suaminya untuk segera membangunkan dirinya jika tanpa sengaja dirinya tertidur. Namun suaminya terus saja membiarkannya saat melihat dirinya tertidur


"Kau tampak lelah setelah mual, aku tidak tega membangunkanmu"


"Ya sudah, tapi besok bangunkan aku kalu aku tidur, itu tidak apa apa, aku justru akan marah jika Mas membiarkan aku"


"Baiklah" jawab Daffa pasrah "Oh iya, apa kau menginginkan sesuatu hari ini?" tanya Daffa


"Sesuatu? Sebenarnya aku ingin sesuatu, tapi aku takut untuk mengatakannya"

__ADS_1


"Apa itu? Katakan saja, aku pasti akan menurutinya"


"Kau yakin?" tanya Sekar tak percaya


"Tentu saja, Mama bilang aku harus menuruti keinginanmu semasa kehamilan, kalau tidak maka anak kita akan ngiler nantinya" ujar Daffa mengingat apa yang tadi Mama Carissa bicarakan


"Mmm tapi... tapi ini mungkin sedikit berat" Sekar masih enggan berterus terang


"Apa itu? Katakan saja"


Huf


Helaan napas terdengar dari Sekar. Ia tampak sedikit menimbang, sebelum akhirnya memutuskan untuk membicarakan keinginannya "Aku ingin mengunjungi Daffina"


Sekar menatap suaminya. Mendengar intonasi jawaban yang barusaja suaminya utarakan, sepertinya suaminya biasa saja mendengar ucapannya tadi "Sebenarnya, aku ingin mengunjungi Lampung, dan tertarik untuk memakai pakaian adat Lampung juga. Aku ingin membuat semacam foto prewedding disana"


"Foto prewedding?"


"Iya, aku ingin memajang foto berukuran besar, supaya nanti saat anak anak kita sudah besar, mereka masih bisa melihat foto kita"


"Tapi bukankah kita sudah memiliki foto pernikahan yang ukurannya juga besar?" ucap Daffa

__ADS_1


"Jadi Mas tidak mau menuruti keinginanku?"


"Ti.. tidak Sayang, maksudku, jika hanya untuk membuat foto berukuran besar, kita sudah memilikinya. Bahkan kau sendiri yang memilih ukuran foto pernikahan kita waktu itu" Daffa sedikit bingung untuk mengucapkan alasannya, sebab sedikit saja salah menjawab, maka wanita hamil didepannya ini pasti akan menangis


"Aku tertarik untuk memakai pakaian adat Lampung, kemarin saat kita mengunjungi rumah Diana dan Kak Lion, aku melihat foto pernikahan mereka terpajang di ruang keluarga mereka, dan fotonya sangat bagus"


"Ya sudah, kalau itu keinginanmu dan dia" Daffa menyentuh perut istrinya "Aku bisa apa. Kita akan ke Lampung besok"


"Mas serius?" tanya Sekar tak percaya


"Tentu saja"


Sekar segera menghambur kedalam pelukan suaminya "Terima kasih, tapi sebelum itu, maukah kau menuruti satu lagi keinginanku?"


"Apapun itu"


"Aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu di luar rumah"


"Maksudmu jalan jalan?"


"Semacam itu"

__ADS_1


"Baiklah"


__ADS_2