
Daffina tersadar dari lamunannya saat merasakan mobil telah berhenti. Daffina mulai mengedarkan pandangan kearah luar, terlihat jalanan yang lengang dengan beberapa pepohonan rindang di sisi kiri dan kanan jalan. Daffina sedikit bertanya, tentang mengapa Gavin membawanya ke tempat sepi ini.
Belum sempat bertanya, ia melihat Gavin sudah turun dari mobil, dan duduk di kap bagian depan mobil. Daffina ikut keluar dari mobil, dan berdiri didepan Gavin. Melihat itu, Gavin segera menarik tangan Daffina dan membawanya duduk disampingnya. Lama keduanya terdiam, hingga akhirnya Daffina yang sangat tidak menyukai kesunyian mulai membuka suara
"Kenapa kesini?" tanya Daffina, dengan tatapan yang sama sama lurus kedepan
"Aku hanya ingin agar kita berdua menenangkan pikiran. Khususnya kau"
"Kenapa aku?" tanya Daffina bingung
Mendengar pertanyaan Daffina, membuat Gavin merubah posisi duduknya, hingga kini sedikit miring, dan menghadap Daffina "Kau yakin akan menikah dengan laki laki yang sudah pernah berkeluarga sepertiku?"
Daffina membeku, pertanyaan macam apa ini. Ini adalah pertanyaan ke-tiga kali yang Gavin lontarkan. Laki laki itu sudah tiga kali berturut turut menanyakan kesediaannya untuk menjadi istrinya
__ADS_1
"Apa aku masih harus menjawab pertanyaanmu yang sudah kau tanyakan tiga kali?"
"Aku hanya tidak ingin kau menyesal"
"Aku bersedia menikah denganmu, Tuan Gavin Deva Bumantara. Bukan hanya itu, aku juga bersedia untuk menyayangi putramu, sebagaimana kau menyayanginya. Apakah jawaban yang sudah aku lontarkan tiga kali juga masih belum puas untuk kau dengar?"
Gavin menggenggam kedua tangan Daffina. Ia tatap wajah wanita itu, dan menatap dalam kedua bola matanya "Katakan kenapa kau mau menikah denganku, dengan statusku yang tidak lagi layak untuk gadis sebaik dirimu"
Gavin membatu. Ia tahu, sorot mata teduh, dengan segala perbuatan tulus itu mampu Gavin tangkap dengan baik. Ia sering mengawasi Daffina secara diam diam saat wanita itu bermain bersama putranya, Aksa. Saat itu, Aksa masih belum menerima kehadiran Daffina, ia sering berbuat ulah yang akhirnya membuat Daffina lelah. Namun tidak sekalipun ia melihat Daffina memarahi, atau membentak putranya.
Tapi pantaskah? Pantaskah dirinya bersanding dengan Daffina. Gadis cantik, dengan kepintaran dan karier yang sedang melambung tinggi. Bukan hal yang sulit bagi Daffina untuk mendapatkan seribu laki laki seperti dirinya. Tapi kenapa pilihan Daffina justru berlabuh padanya, kenapa cinta dari mulut wanita itu harus terucap padanya. Ia takut, jika dirinya akan menyakiti Daffina nantinya, karena cinta yang tak kunjung bisa ia berikan
"Aku masih terikat dengan masa laluku Fin, kau akan terluka" ujar Gavin
__ADS_1
"Aku justru akan sangat terluka jika kau tidak menerimaku, dan membiarkan hidup putramu kekurangan kasih sayang seorang Ibu. Aku sudah terlanjur mencintai dua laki laki sekaligus selain Daddy dan Kakakku, dan dua laki laki itu adalah kau dan Aksa"
Gavin mengeratkan genggamannya pada tangan Daffina. Ia tahu, ia sangat tahu bagaimana perasaan Daffina, karena wanita itu juga sempat mengalami kekurangan kasih sayang. Ya, Gavin sudah mengetahui segala hal tentang Daffina saat gadis itu dengan berani mengusik hidupnya selama berada di Lampung. Ia juga mengetahui bagaimana kehidupan keluarga Daffina dengan sangat jelas
"Aku masih belum mencintaimu, tapi bisakah kau membantuku untuk menumbuhkan cinta untukmu? Aku tidak ingin melakukan kesalahan dengan melukai hati wanita di dekatku, dan aku harap kau akan menjadi wanita terakhir yang berada di sampingku. Merasakan pahit dan manisnya hidup berkeluarga. Aku mohon bantu aku"
Daffina mengusap setetes air mata yang mulai turun di pipi Gavin. Ia memandang jarinya yang basah karena air mata Gavin. Ia tidak menyangka jika laki laki ini akan menangis di hadapannya. Daffina memejamkan matanya, seolah berdo'a dalam hati
"Kau tahu, orang bilang air mata adalah bintang jatuh, dan aku sudah mengajukan permintaanku pada Tuhan. Maukah kau melakukan hal yang sama denganku? Berjanjilah bahwa hanya aku yang berada di sampingmu, setidaknya hal itu yang akan menjadi alasanku untuk bertahan"
Gavin menatap mata Daffina kembali. Sebelum akhirnya menutup mata dan menarik napas dalam. Ia juga ikut mengutarakan permintaannya pada Tuhan. Meski apa yang Daffina ucapkan terdengar konyol. Namun ia berharap do'a yang ia panjatkan juga akan mendapat jawaban
"Aku tidak tahu bagaimana cinta tumbuh dalam hatiku untukmu, tapi aku yakin bahwa ini adalah cara Tuhan menjawab do'a mu. Aku ingin menjadi lentera untuk masa depan putramu, aku ingin menjadi pendengar setia atas segala cerita bahagia dan sedih yang kau alami, dan aku ingin menjadi seseorang yang membuatmu meninggalkan perusahaan untuk pulang dan kembali ke peraduanmu, yaitu aku. Mari kita bangun bersama rumah tangga yang akan kita jalani, bimbing aku untuk menjadi istri yang baik, yang sesuai dengan keinginanmu" ujar Daffina
__ADS_1