
Daffa terbangun dari tidurnya pukul tiga dini hari. Ia mempertajam pendengarannya saat mendengar isak tangis seseorang. Ia kemudian memilih duduk di ranjangnya, dan kembali memasang pendengarannya. Hingga akhirnya matanya tertuju pada seseorang yang tampak khusyuk berdo'a, dia adalah Sekar, istrinya
"Ya Allah, jika memang jalan yang engkau janjikan untuk hamba seperti ini, maka kuatkan hamba untuk terus berusaha meluluhkan hati suami hamba Ya Allah. Hamba percaya, ada rencana besar yang engkau janjikan untuk setiap perjuangan hamba. lembutkan lah hati suami hamba Ya Allah, hamba percaya akan kuasamu. Aamiin"
Daffa kembali berbaring saat melihat Sekar menyudahi do'a nya. Ia kembali memejamkan mata, dan berpura pura tertidur. Didetik berikutnya, ia merasakan sentuhan hangat pada dahinya, yang ia yakini dilakukan oleh istrinya, lalu sesaat kemudian, kecupan lembut kembali berlabuh di dahinya. Daffa menahan tangan istrinya yang memegang tangannya, membuat Sekar terbelalak tak percaya
"Kau tidak malu meminta hal yang istimewa kepada Allah. Kau tidak malu menunjukkan ketertarikanmu padaku, dan meminta agar aku bisa luluh dan mau bersama denganmu? Dengarkan aku, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintaimu"
__ADS_1
Deg
Sekar merasakan sakit dalam dadanya. Rasa terkejut akan kesadaran suaminya yang tiba tiba sudah membuatnya mati kutu, apalagi kini, aura dingin suaminya kembali mendominasi. Sekar menatap mata itu dalam dalam, seakan menyusuri setiap lapisan didalamnya
"Mengapa aku harus malu memintamu pada Tuhanku? Jangankan hatimu, seisi dunia pun mampu ia bolak balikkan, lalu hal apa yang masih membuatku ragu untuk meminta pada-Nya? Jika hatimu memang tercipta untukku, maka sembunyi pun kau kedalam peti mati, hatimu masih tetap miliku" ucap Sekar dengan tenang
Daffa memandang langit malam dari balkon kamarnya. Ia mengusap wajahnya kasar, ia sadar bahwa perbuatannya pada Sekar selama ini sudah cukup membuat wanita itu sakit hati. Namun hingga detik ini, Daffa belum pernah menerima satu kata yang tidak pantas dari mulut istrinya, dan malam ini, untuk pertama kalinya Daffa mendengar wanita itu menangis dalam shalatnya, tangis yang terdengar sangat lirih dan menyayat.
__ADS_1
Daffa kembali mengusap wajahnya. Hembusan nafas juga tak henti hentinya terdengar. Ia meraba dahinya, ini bukan pertama kalinya istrinya itu mencium dahinya. Namun entah mengapa hangat yang terasa karena ciuman istrinya benar benar meresahkan jiwanya.
"Ibu, andai kau ada bersamaku, mungkin aku bisa tahu apa itu cinta"
Daffa mengusap dadanya yang berdebar berulang kali. Ia menghembuskan nafas untuk menormalkan detak jantungnya. Setelah cukup normal, ia kembali masuk kedalam kamar.
*
__ADS_1
Pagi menjelang. Daffa keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono. Ia melirik atas kasurnya yang sudah terdapat pakaian kerja miliknya, ia yakin istrinya yang menyiapkan itu semua, mengingat dirinya tidak memberi akses pada siapapun untuk masuk ke kamarnya, bahkan Daffina sekalipun. Daffa membuka lipatan pakaian kerjanya, ini adalah perpaduan yang cukup serasi. Jas dan celana formal berwarna biru muda, dipadukan dengan kaos putih panjang. Daffa segera memakai pakaian tersebut, dan dengan segera turun menuju ruang makan