
Bianca tak langsung ke kampus. Merasa punya waktu beberapa menit sebelum kelasnya dimulai, ia memutuskan mampir di kedai sang Kakak.
"Kok ke sini? Katanya ada kelas pagi." Bian bertanya seraya sibuk dengan sapunya. Kini ia harus kembali seperti dulu, menyiapkan segala sesuatunya seorang diri.
"Iya, masih ada beberapa menit sebelum kelas. Udah lama aku nggak ke sini, mumpung ada di dekat sini, ya aku mampir."
"Udah kamu kembalikan tasnya?"
"Udah, tadi dia bilang makasih dan maaf karena sudah merepotkan Mas Bian. Kayaknya suaminya marah besar deh, Mas. Matanya menunjukkan kalau dia habis nangis semalaman."
Bian seketika menghentikan kegiatannya saat mendengar aduan dari sang adik. Ia menyandarkan sapu di etalase dan duduk di depan adiknya.
"Serius? Kamu nggak ketemu sama suaminya?"
Bianca menggeleng, "Memang kenapa? Mas kemarin cerita sambil marah, nada kesal, kenapa sekarang jadi ingin tahu banget?"
Satu toyoran di kepala membuat kepala Bianca terjungkal ke belakang.
"Mas tanya bukan berarti Mas kepo atau peduli. Mau nangis kayak gimana juga Mas nggak peduli. Dia memang salah." Bian bangkit dan kembali menyapu.
"Yang bilang gitu siapa? Kan aku cuman nanya kenapa Mas jadi ingin tahu banget. Aku nggak bilang Mas peduli sama dia."
Bian hanya memberikan tatapan tajam agar adiknya itu diam.
Bian menyapu dengan sedikit lamunan. Semarah apa suami Nuna sampai wanita itu menangis semalaman?
°°°
__ADS_1
Nuna membuka tas bermaksud untuk mengecek ponsel. Saat ia menarik ponselnya, ia rupanya juga menjatuhkan sesuatu. Dahinya mengernyit begitu melihat selembaran uang. Ia memungut uang tersebut dan menatapnya sesaat.
"Apa ini uang dari Bian?"
"Oh jadi laki-laki itu bernama Bian?" Arga masuk kamar dengan rambut basahnya.
"Ah iya, Mas. Aku sudah tidak...."
"Kenapa kamu merasa tidak bersalah sama sekali setelah melakukan kejahatan ini?"
"Mas, sebenarnya aku ingin jujur sama kamu dari awal, tapi selalu saja ada yang membuat aku batal untuk jujur."
"Dan akhirnya kebohongan kamu ini kamu bawa sampai sekarang? Aku tak menyangka kamu sejahat ini, Na."
"Maaf, aku janji nggak akan mengulangi lagi. Aku terpaksa, Mas."
"Aku tidak peduli. Mau kamu berubah atau tidak, mau kamu mengulanginya lagi atau tidak. Aku sudah tidak peduli. Mulai sekarang urus dirimu sendiri, aku membiarkan kamu di sini hanya untuk tidur, tidak untuk yang lain. Kamu cari sendiri uang untuk kebutuhan kamu. Karena mulai sekarang aku tidak mau menanggung hidup kamu. Bersyukurlah aku masih memberikan tumpangan gratis untukmu berteduh."
"Mas, kamu mau lepas dari tanggung jawab karena masalah ini? Apakah pantas aku mendapatkan ini semua? Aku hanya..."
"HANYA APA? Dari kemarin kamu bilang hanya, hanya, hanya, seakan kamu membuat kesalahan yang kecil saja. Kamu minta pertanggungjawaban dariku atas janin yang kamu kandung sementara yang meniduri kamu ternyata bukan hanya aku."
"Apa maksudnya sih, Mas? Kamu ini ngomong apa? Kamu tahu aku hanya melakukan itu sama kamu, ini anak kamu. Kenapa permasalahan ini jadi merembet ke hal yang tidak pada jalurnya?"
Arga tersenyum miring, "Tidak pada jalurnya? Bahkan sekarang kamu terang-terangan menjalin hubungan dengan lelaki lain. Kamu menerima uang dari laki-laki yang menghamili kamu. Tidak pada jalurnya gimana maksudnya? Kamu dari kemarin bilang akan berubah. Perubahan apa yang akan kamu lakukan? Semuanya sudah terlanjur basah. Aku sangat membencimu Nuna, bisa-bisanya kamu menipuku. Ini penipuan besar. Di mana hatimu? Kamu minta aku nikahi, sementara janin yang kamu kandung bukan anakku. Ini yang kamu bilang kesalahan kamu kecil? Seharusnya aku mendengar kata-kata Ibu."
Nuna bingung, ia tak mengerti dengan ucapan suaminya. Kenapa bisa Arga bisa berpikir begitu? Ia membiarkan suaminya itu pergi dari kamar dengan kemurkaan. Pikirannya lebih terfokus pada penyebab Arga mengatakan hal konyol seperti itu. Ia mulai mengingat apa yang terjadi sebelum ia pulang dari rumah sakit.
__ADS_1
Hingga entah menit ke berapa ia menyimpulkan sesuatu. Ia segera beranjak ke dari kamar dan mencari ibunya.
"Ibu jujur sama aku. Ibu pasti mengadukan hal yang tidak benar sama Mas Arga, kan? Ibu ngomong apa sama Mas Arga?"
"Nggak ngomong apa-apa. Kalau kamu sadar ada yang salah dengan omongan saya, kenapa kamu nggak mencari tahu sendiri. Saya rasa seharusnya kamu tahu apa yang saya bicarakan setelah pertengkaran kalian barusan."
"Aku nggak nyangka. Ibu dan aku sama-sama perempuan, bagaimana bisa Ibu sejahat itu? Pantas Mas Arga sekecewa itu. Rupamya karangan dari Ibu berhasil mengubahnya. Ibu pikir aku akan menyerah? Ibu mengira aku diam saja? Akan aku buktikan jika aku tidak salah."
Nuna dengan kasar menghapus air matanya yang berhasil luruh. Ia merasa harus meluruskan ini dengan segera. Ia tak mau jika kesalahpahaman ini berlarut. Dengan berjalan sedikit tergesa-gesa, ia berniat ke kedai Bian. Ia harus meminta bantuan pria itu untuk meluruskan cipratan masalah yang ditimbulkan oleh Ibu mertuanya.
Nuna hingga membelokkan tubuhnya ke kedai tak sadar jika langkahnya sejak tadi diikuti oleh Bu Ningsih. Tak tanggung-tanggung, bahkan beliau mengikuti Nuna hingga ia masuk ke dalam pantry. Untuk kedua kalinya, Nuna kembali tak sengaja melakukan kesalahan. Pintu pantry yang tingginya hanya separuh dari tinggi gawang pintu itu dibiarkan terbuka. Bu Ningsih yang duduk berhadapan langsung dengan ruangan itu tentu saja bisa melihat aktivitas Nuna yang sedang berdiri berhadapan dengan Bian.
"Bian, aku butuh bantuan kamu. Suami aku salah paham, dia kira aku hamil anak kamu. Bantu aku luruskan ini semua, Bi."
Bian masih terdiam. Ia begitu terkejut dengan kedatangan Nuna yang tiba-tiba. Rasa terkejutnya membuat ia tak terlalu fokus dengan perkataan Nuna. Fokusnya justru pada manik mata yang memerah dan berair, bengkaknya pun masih terlihat dengan jelas.
"Bian."
Lelaki itu masih tak bergeming. Hingga akhirnya sebuah tangan menggenggamnya secara tiba-tiba membuat ia tersadar dari lamunan.
"Ada apa, Na? Kenapa ke sini?" tanya Bian akhirnya.
"Suami aku. Jelasin sama suami aku kalau hubungan kita tak lebih dari atasan sama karyawannya. Dia salah paham, dia kira anak yang ada di kandungan aku anak kamu."
"Ha? Kok bisa?"
"Aku nggak bisa cerita, aku mohon bantu aku."
__ADS_1
Pandangan Bian turun ke tangan mereka yang saling terpaut. Sadar dengan kekonyolan yang terjadi, Nuna segera melepas genggaman tangan itu dan minta maaf.
"Ya udah, aku akan coba buat bantu. Aku harus apa? Ke rumah mu atau bagaimana? Ini sekali aja, ya. Aku nggak mau lagi ada urusan denganmu."