
Sepanjang perjalanan, Bian justru banyak bicara dengan Cashel. Ia sengaja membiarkan Nuna yang nampak sedang kesal karena sejak tadi terasa tak dianggap. Laki-laki itu ingin melihat sejauh mana ia bisa acuh dengan kedekatannya dan sang anak. Meluluhkan hati anaknya adalah jalan terbaik untuk mendapatkan hati seorang janda yang sok jual mahal seperti Nuna, begitulah kira-kira yang ada di pikiran Bian.
"Cashel udah pernah ke kebun binatang?"
"Pernah waktu sekolah TK."
"Itu tamasya, sama Ibu nggak pernah diajak? Om tahu tempat kebun binatang yang besar. Ada hewan laut juga. Bagus tempatnya, mau nggak kalau kita ke sana minggu depan?"
"Mau." Seperti anak kecil pada umumnya, anak itu dengan cepat menjawab dan penuh dengan semangat membara.
"Jangan ajarkan anakku untuk menghamburkan uang. Jangan membuat dia manja," sela Nuna dengan tegas.
"Jalan-jalan di hari minggu buat anak sekolah penting. Yang pertama, liburan bisa mengembalikan mood anak yang udah cape belajar selama enam hari. Meraka dari senin sampai sabtu udah dipake mikir terus kepalanya, sekedar ke taman, kebun binatang, renang, ke mall, nggak akan buat anak menghamburkan uang. Kamu nggak harus nurutin apa yang dia mau di sana. Kedua kalau hati anak senang, dia kita juga senang, besok sekolah dia semangat dan fresh. Ketiga, dia punya bahan cerita untuk temannya, dia jadi nggak hanya mendengar temannya yang liburan. Liburan nggak buat dia manja."
"Dia akan keterusan kalau kamu ajak terus setiap minggu. Liburan bukan berarti seminggu sekali, Bian."
"Kalau nggak liburan, ya seenggaknya kamu buat aktivitas yang seperti liburan meski hanya di rumah. Kamu ajak nanem pohon, bunga, ajak bikin apa di dapur, atau biarkan dia main sama temennya, itu udah termasuk merefresh otak."
Nuna hanya mencebik kesal, ucapan dari Bian seakan menyindir dirinya yang akhir-akhir ini lebih sibuk di toko. Ia ada waktu untuk sang anak, tapi tidak dengan liburan dan quality time berdua.
"Kalau kamu nggak mau anak menghamburkan uang, kamu ajarkan untuk nabung. Jangan hanya dikasih uang jajan tanpa diajarkan cara untuk menggunakan uangnya. Ajarin nabung pelan-pelan, bilang kalau harus belajar menabung untuk beli apa yang dia mau. Aku tahu kamu pasti mampu membelikan apa pun yang dia mau. Kita melakukan itu bukan berarti tega sama anak. Itu adalah didikan sederhana yang bisa ia terapkan sampai anak cucunya nanti. Biar dia juga bisa berpikir kalau dia menginginkan sesuatu harus ada usaha. Nggak cuman minta dan menunggu."
Setidaknya itulah yang Bian dapat dari kedua orang tuanya. Memang Bian kecil sempat berpikir bahwa kenapa ia harus membeli sesuatu dengan uangnya sendiri, apakah kedua orang tuanya tak sayang padanya? Sempat berpikir ini tidak adil dan terlihat jahat, tapi lambat laun Bian kecil paham dengan apa yang dibiasakan orang tuanya itu baik untuk dirinya sendiri.
Sementara Nuna hanya diam, ia berpikir apa yang dikatakan oleh Bian adalah hal yang sangat benar. Ia tidak berpikir sampai sana, yang ia fokuskan hanyalah kebahagiaan Cashel dengan hidup tanpa kekurangan meski hanya ibu yang ia punya.
"Yeay kita susah sampai. Turun, yuk!" ujar Bian semangat.
Suasana terdengar ramai, meski belum sampai masuk ke kolam renang, sudah terdengar dengan jelas suara anak-anak yang berteriak kegirangan. Ini adalah pertama kalinya Cashel berlibur ke kolam renang. Selama ini ia hanya menghabiskan hari minggu dengan bermain bersama teman-temannya, ikut ibunya ke toko, atau sesekali mengunjungi taman.
Bian menggandeng Cashel dengan lembut, sungguh ia terlihat seperti sosok ayah saat ini. Diusianya yang sekarang, ia sudah sangat pantas menyandang status tersebut.
__ADS_1
"Kamu suka?" tanya Bian saat baru sampai di kolam.
"Suka, rame banget."
"Bagus kalau kamu suka. Sekarang kita ganti baju dulu."
Kedua laki-laki itu seakan hanya pergi sendirian. Mereka seperti benar-benar melupakan kehadiran Nuna di tengah-tengah mereka.
Selesai ganti baju mereka berjalan menuju tepian kolam.
"Kita ke kolam yang dangkal dulu, ya. Kamu belum bisa renang. Om ajarin dulu. Ini pakai, biar nggak perih matanya." Bian memberikan kaca mata khusus renang.
Tak perlu lagi berbasa-basi atau membuang waktu lebih lama, kedua laki-laki itu segera terjun ke kolam. Nuna yang hanya menunggu mereka refleks menarik kedua ujung bibirnya melihat tawa dan kebahagiaan Cashel yang begitu lepas. Kebahagiaan yang sama saat dirinya baru pulang dari luar negeri beberapa bulan lalu.
Sejauh ini tak ada orang lain yang membuat tawa Cashel begitu lepas selain keluarganya sendiri. Bian adalah orang pertama yang mampu melakukannya.
"Cashel, kamu renang di sini juga?" teriak seorang anak seusianya. Ia baru saja datang. Begitu melihat Cashel, ia langsung terjun dan bergabung.
"Iya Om. Om siapa? Ayahnya Cashel?"
Bian melirik ke tempat Nuna duduk. Nampak ia sedang berbincang dengan seorang wanita, mungkin saja itu adalah ibu dari anak yang baru saja datang, begitu pikir Bian.
"Ssst. Ini rahasia, hanya kita bertiga yang tahu. Mau naik prosotan nggak? Yang tinggi itu, nanti Om pangku kalau takut."
Bian mengemong dua anak itu dengan baik. Nampak garis kebahagiaan itu tercetak dari wajah keduanya. Apalagi Cashel yang nampaknya akan sulit untuk diajak pulang sebelum temannya ini juga pulang.
"Itu calon kamu, Na? Ganteng banget. Udah akrab aja sama Cashel."
"Bukan, Mbak. Hanya teman lama aja, kok."
"Tapi dia kelihatan akrab dan sayang sama anakmu. Udah kayak anak sama Bapak kandung." Teman Nuna itu melihat kebersamaan mereka yang nampak hangat. Bahkan, anaknya juga terlihat senang.
__ADS_1
Pemandangan itu juga terlihat di mata Nuna. Bahkan sejak tadi ia tak melepaskan pandangan dari kedua pria itu. Dan sekarang ia mulai bimbang dengan apa yang harus ia lakukan ke depannya. Menyerah dengan drama ini atau meneruskan hingga laki-laki itu yang menyerah.
Setelah beberapa jam mereka berendam di air, mereka memutuskan untuk menyudahi dan beranjak mandi karena hari sudah siang dan semuanya melewatkan jam makan siang.
Sambil menunggu mereka usai mandi, Nuna kembali melihat foto yang beberapa kali ia ambil diam-diam saat Cashel menunjukkan tawanya.
"Mau makan di mana? Di sini apa ke resto lain? Apa makan di tempat aku aja?" Bian datang dengan memberondong pertanyaan.
Nuna yang semula menundukkan kepala fokus dengan ponselnya mendongak dan seketika ia tersedak lantaran melihat Bian yang nampak seksi saat mengelap rambut basahnya dengan handuk.
Degup jantungnya kembali gaduh.
"Kenapa sih? Nih minum. Kaget lihat aku yang seksi, iya? Baru sadar aku ganteng?" Bian menyodorkan sebotol air mineral.
Nuna menenggaknya dan, "Orang yang percaya diri berlebihan itu tidak baik."
"Cashel mau makan di mana? Di sini aja atau tempat lain? Kamu mau makan apa?"
"Bian jangan dibiasakan...."
"Hanya sekali dalam seminggu," potong Bian cepat.
"Aku udah laper. Makan apa aja aku mau."
"Ya udah makan di sini aja kalau gitu. Kasihan jagoan Ibu udah laper."
Nuna sedikit salah tingkah dengan sebutan Bian. Mereka lalu beriringan bak keluarga kecil bahagia menuju lesehan yang tersedia di sana.
Mata Nuna berputar ke seluruh penjuru sudut. Dan akhirnya tak sengaja berpapasan dengan sepasang suami istri nyang berjalan tak jauh darinya. Seketika hatinya bergejolak dan ingin pergi dari sana.
"Bian, kita makan di tempat lain," ujar Nuna dengan napas yang sudah tak teratur dan pandangannya terkunci di salah satu sudut.
__ADS_1