
"Ibu, Ayah, apa yang terjadi? Bagaimana bisa Arga koma? Apa dia kecelakaan?" Nuna langsung melempar pertanyaan saat kakinya sampai di depan ruangan ICU. Kedua orang tuanya sedang duduk berdua dengan raut wajah yang tak terbaca.
"Tidak. Ibunya tadi bilang kalau Arga sakit kepala beberapa hari terakhir, kadang sakit perut juga. Dia nggak mau periksa, karena merasa dia hanya butuh istirahat saja. Tapi semakin ke sini semakin sering sakitnya. Terakhir sebelum dia dibawa ke rumah sakit, katanya mengeluh sakit kepala hebat dan akhirnya tidak sadarkan diri. Begitu di bawa ke rumah sakit, ternyata Arga tekanan darahnya juga tinggi. Dan tragisnya, pembuluh darah di kepala juga sudah pecah. Jadi kita cuman bisa berdoa saja. Sangat minim kesempatan Arga untuk kembali sehat. Dokter bilang, faktor kesehatan mental juga menjadi pengaruh dengan kondisi Arga yang tiba-tiba memburuk. Terlalu banyak pikiran untuk segala jenis penyakit itu tidak baik. Arga ternyata tanpa sepengetahuan ibunya punya riwayat darah tinggi."
Nuna menutup mulutnya lantaran refleks terbuka saat mengetahui betapa buruknya kondisi Arga. Jika dilihat dari fisik memang perubahan tubuh Arga sangat berubah. Namun, sungguh ia tak pernah berpikir hingga ke arah sana.
"Udah dari kapan koma, Yah?" Bian yang bertanya.
"Sebelum kalian menikah. Dia juga belum sadar sama sekali, sebelum nggak sadarkan diri pas di rumah, Arga sempat bilang sama ibunya pengen ketemu sama Cashel. Itu kalimat terakhir dari dia. Tapi ibunya baru datang ke rumah hari ini dan Ayah telepon kamu tadi."
"Sekarang Bu Ningsih di mana?"
"Di dalam, boleh masuk, tapi gantian."
Cashel yang sejak tadi hanya diam memperhatikan para orang tua bicara akhirnya membuka suara lantaran dia yang tidak terlalu mengerti dengan sakit sang Ayah.
"Koma itu apa?"
Semua orang menunduk manatap Cashel. Bian lalu berjongkok, "Koma itu kayak tidur. Nanti Cashel lihat sendiri, ya, tidurnya Ayah. Nanti biar ditemani sama Ibu. Nanti ajak ngobrol Ayah biar bangun lagi."
__ADS_1
"Emang Ayah bisa dengar kalau aku aja ngobrol? Kan lagi tidur."
"Bisa, Ayah nanti dengarnya dari sini." Bian menyentuh dada Cashel, "Dari hati."
Anak kecil itu hanya mengangguk paham. Tak berselang lama, pintu ruangan terbuka. Bu Ningsih keluar dengan mata yang teramat bengkak. Pasti beliau sudah menangis selama berhari-hari melihat anaknya yang tinggal menunggu waktu saja untuk kembali pulang ke Sang Maha pemilik kehidupan.
Wanita itu menatap Bian dan Nuna bergantian. Tak ada ekspresi apa pun di sana, hanya mata sendu yang beliau perlihatkan. Tak lama setelah itu, beliau pergi dari depan pintu dan duduk di ruang tunggu. Beliau sudah seperti tubuh yang hanya di beri napas tanpa rasa.
Entahlah, sebenci apa pun Nuna pada seseorang, sejahat apa pun orang lain padanya, jika melihat orang itu hancur di depan matanya, rasa iba dan prihatin tetap saja muncul dalam hati kecilnya yang paling dalam.
Wanita satu anak itu duduk di samping mantan ibu mertuanya. Ia memandang wajah keriput yang dulu begitu menyiksa lahir batinnya. Semua kenangan buruk lagi-lagi menari di depan matanya.
Kehilangan, sungguh tak pernah terbesit dalam pikirannya akan jadi seperti ini pada akhirnya. Apakah ini adalah jawaban dari doa yang pernah ia langitkan? Doa yang sama di setiap harinya di saat ia menghadapi kerasnya dunia seorang diri.
Nuna mengatupkan mulutnya seraya menatap langit-langit rumah sakit demi menahan air mata yang nyaris terjun. Ia tahu hancurnya Bu Ningsih dari setiap kata yang keluar. Sakitnya pasti lebih sakit dari yang ia rasakan, batin wanita itu.
"Lebih baik saya dengerin Arga marahin saya daripada diemin saya begini. Masuklah Nuna, dia sangat ingin ketemu sama anakmu."
Nuna hendak berucap, namun sentuhan di pundaknya membuatnya urung untuk membuka suara. Ia menatap Bian, dan pria itu memberikan isyarat agar ia masuk saja ke ruangan Arga di rawat.
__ADS_1
"Sayang, ayo kita lihat Ayah," ajak Nuna menggandeng sang anak.
Begitu sampai di dalam ruangan, ia merasa tak sampai hati melihat keadaan Arga. Beberapa alat medis tertancap di tubuhnya.
"Ayah, aku datang. Ayah sakit apa? Kenapa nenek bilang Ayah nggak bangun-bangun? Ayah apa lagi marah sama nenek? Ayah katanya mau ketemu sama aku, ya? Kalau mau ketemu harusnya datang ke rumah, bukan tidur. Ayah nemiun aku di mimpi, ya? Sekarang aku di sini, Ayah. Katanya Ayah mau ketemu sama bidadari Ayah sama adik aku. Ayah harusnya kenalin aku juga ke adik aku, masa aku nggak kenal sama adik aku sendiri? Nenek nangisin Ayah, tuh. Katanya Ayah belum mandi, belum makan dan minum. Ayah nggak lapar emang, Ayah nggak haus? Ayah bangun dulu kalau emang sayang sama aku."
Nuna terisak dalam diam, sungguh ia tak bisa mendengar kalimat sederhana Cashel yang membuat hatinya teriris perih. Melihat kondisi Arga seperti ini, akhirnya ia tahu kenapa Bu Ningsih terlihat seperti gumpalan daging yang hanya diberi napas. Sangat terlihat bahwa beliau sudah kehilangan Arga meski raga dan anaknya masih berada di dekatnya.
"Ayah nggak sayang sama aku, Bu? Kenapa Ayah nggak bangun-bangun?"
"Ayah lagi cape, sabar, ya, Nak. Nanti kalau Ayah udah hilang capenya, pasti Ayah bangun."
Bangunlah meski sebentar, Arga. Bangunlah untuk anak dan Ibumu. Jika masih kuat, jangan pergi dulu. Tapi kalau kamu mau pergi, bangun dulu. Pamit sama anak dan ibumu.
Terlihat Arga yang menitikkan air matanya. Refleks Nuna menghapus air mata itu dengan manahan perih. Sudah tidak ada lagi rasa apa pun yang ada untuk Arga, tapi melihat dirinya yang sekarang sedang terkapar tak berdaya tentu saja membuat ia merasakan kesedihan juga.
Sesaat setelah Nuna menghapus cairan bening yang jatuh di sudut mata Arga, indra penglihatan pria itu sedikit bergerak dan dengan perlahan ia membuka mata. Ia nampak kesusahan untuk membuka kedua matanya.
"Nak, kamu di sini dulu, ya. Kamu ajak Ayah bicara, mata Ayah gerak, dia mau bangun. Ibu panggil dokter dulu."
__ADS_1
Bangun untuk sembuh, Arga. Bukan untuk pamit.
Nuna bergumam dalam hati seraya berjalan ke luar kamar.