
Bian perlahan mengangkat tangannya dan meletakkannya ke mana punggung Nuna. Menepuk-nepuk pelanggan agar lebih tenang, meskipun ia sendiri bingung apa yang membuat Nuna menangis tersedu seperti ini.
Untuk beberapa saat Bian membiarkan Nuna berada dalam pundaknya. Membiarkan wanita itu mengeluarkan beban yang mungkin saja masih ia simpan sendirian.
Satu detik, dua detik berikutnya, Nuna melonggarkan pelukan lalu mendongak menatap Bian.
"Maaf, aku terbawa suasana. Aku pulang, ya. Aku minta maaf jika aku selama ini banyak salah dan merepotkan. Terima kasih untuk bantuan dan apa pun yang kamu kasih buat aku. Kita masih berteman meskipun jarak kita nggak lagi dekat. Kita masih bisa berkomunikasi. Aku benar, kan?"
"Benar. Kita masih bisa tukar kabar. Jam berapa besok pulangnya? Aku mau ketemu Cashel, pasti aku akan merindukan dia." Bian berusaha untuk menegarkan hatinya yang tiba-tiba saja merasa berat untuk membiarkan Nuna pergi jauh darinya.
"Besok pagi-pagi sekali, sekitar jam tujuh."
"Jangan lupakan aku, ya. Dan satu lagi, kamu harus sering kasih aku kabar soal perkembangan Cashel. Aku harus tahu di pertambahan usianya nanti bisa apa aja."
"Pasti, aku akan kasih kabar sesering mungkin. Boleh aku pulang sekarang?"
__ADS_1
Bian hanya mengangguk seraya mengacak pelan rambut panjang wanita itu.
Jika boleh jujur, ada sedikit kebahagiaan di hati Nuna melihat perubahan Bian yang sudah tidak sedingin, cuek, dan segalak saat pertama kali mereka bertemu. Meskipun ia sendiri juga tak tahu apa yang membuat pria itu berubah, entah sifat aslinya, atau memang sebenarnya ia perhatian hanya saja tersembunyi dalam sifat dinginnya. Entahlah, Nuna tak terlalu paham dengan karakter Bian sebenarnya. Ia masih belum bisa meraba sifat asli pria itu. Yang ia tahu Bian mempunyai pribadi yang baik, tulus, dan susah ditebak. Sebentar baik, sebentar jutek, dan sebentar lagi dingin dan angkuh.
Langkah Nuna lebih berat dari yang tadi. Dalam perjalanan keluar kedai, ia menatap pantry, etalase, dan seluruh kedai dengan seksama dan teliti. Ia sengaja berjalan pelan untuk menikmati kedai yang sempat ia singgahi tiga hari untuk menyambung hidup. Ini adalah hari terakhir ia melihat pemandangan ini, setelah ini entah ia akan menginjakkan kakinya di kota ini atau tidak. Ia sendiri juga tak tahu.
°°°
Perpisahan adalah hal terberat bagi siapa pun. Meskipun semua orang tahu perpisahan adalah hal yang pasti dan mutlak akan terjadi pada seluruh manusia di penjuru dunia ini.
"Nuna, mungkin Bian sibuk dan nggak sempat kasih kabar ke kamu. Kita berangkat sekarang aja, yuk! Nanti kita kemalaman sampai rumah. Kamu kirim pesan aja dia kalau kita berangkat sekarang. Biar dia nggak ke sini, kasihan, kan nanti kalau udah telanjur ke sini dan nggak ada orang," saran Ibu Nuna.
Nuna sebenarnya masih ingin menunggu, entahlah, ia hanya ingin kembali bertemu dengan pria itu untuk terakhir kalinya. Setelah beberapa detik terbuang, akhirnya dengan berat hati wanita itu menyetujui untuk berangkat tanpa menunggu Bian lebih lama. Untuk terakhir kalinya, ia menatap bangunan rumah yang ia habiskan bersama dengan sang anak dan Bian yang sering bertandang ke rumah itu.
Selama dalam perjalanan, kilasan-kilasan kebersamaannya dengan Bian menari-nari di kepala. Kebersamaan yang cukup singkat, namun bermakna dalam setiap momennya. Terbiasa dengan sesuatu lalu secara tiba-tiba harus menghilangkannya bukan perkara mudah.
__ADS_1
Jika Nuna tenggelam dalam ingatan kebersamaan dengan Bian, maka hal berbeda sedang pria itu rasakan. Beberapa kali ia melirik jam tangannya dengan wajah panik. Memikirkan Nuna yang akan pulang ke kampungnya, membuat Bian tertidur ketika jam menunjukkan pukul tiga pagi.
Baru saja merasakan mimpi, Bian dikagetkan dengan matahari yang sudah masuk ke sela-sela kamarnya. Dengan gerakan tergesa-gesa tanpa mandi, ia mencuci muka dan menggantikan pakaian ala kadarnya yang penting masih layak untuk digunakan keluar rumah.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi ketika ia menaiki kuda besinya. Dengan kecepatan penuh dan seakan ia memiliki nyawa berlebih, ia menyalip-nyalip kendaraan yang menghalangi jalannya.
Bian sudah berusaha semaksimal mungkin untuk cepat sampai di rumah Nuna. Namun apa daya, begitu ia sampai di rumah tersebut, ia sudah mendapati rumah yang kosong dan pintu yang sudah terkunci rapat.
Merasa kecewa dengan keadaan, ia terduduk lemah di kursi teras. Ia merogoh saku bermaksud untuk menghubungi Nuna sudah sampai mana.
[Bian, aku berangkat, ya. Kamu nggak usah ke sini. Maaf, aku tidak bisa menunggu terlalu lama. Aku akan menghubungi mu nanti ketika sampai rumah.]
Bian menghela nafas berat. Niatnya yang Ingin menyusul Nuna entah kenapa tiba-tiba urungkan setelah melihat pesan dari wanita itu. Dengan langkah lemas, gontai, dan seakan tidak berdaya, Bian kembali menaiki motornya dan meninggalkan rumah itu.
Dan keseharian Bian yang kembali tanpa Nuna dimulai hari ini.
__ADS_1