
"Nuna, semua orang tua pasti ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya. Terlepas dari apa yang dilakukan Arga di masa lalu, berikan dia kesempatan untuk menebus kesalahannya. Jangan pikirkan sakit hatimu saja, lihat perubahan dalam dirinya juga. Sekarang Ayah tanya sama kamu, kalau kamu punya kesalahan yang sama besarnya juga seperti Arga apa kamu akan bawa kesalahan itu sampai mati? Yang dilakukan Arga bukannya sudah benar? Maaf diiringi perubahan?"
"Anak Ayah aku apa Arga? Kenapa Ayah selalu berpihak sama dia?"
"Nggak gitu, Nak. Ayah bukan berpihak pada siapa, nggak. Ayah tidak akan bicara seperti ini jika kamu berada di posisi yang benar. Ayah akui dalam hal ini kamu tidak benar, Nak. Mengorbankan Cashel dengan mempertahankan harga diri dan keegoisan diri itu tidak benar."
"Ayah nggak tahu rasanya jadi aku makanya Ayah ngomong gitu." Dengan tangis yang masih ada Nuna masuk ke dalam ruangan yang biasanya diisi oleh Bian dan Cashel. Namun, siang itu terisi oleh Arga juga.
Pak Lukman hendak mencegah anaknya untuk masuk, namun tangannya di cekal oleh sang istri dan diikuti gelengan pelan wanita itu.
"Biarkan, emosi Nuna tidak stabil. Biarkan saja dulu."
"Ayah takut nanti dia mengganggu transfusi darah yang sedang berlangsung."
"Nggak, Yah. Udah jangan khawatirkan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Lagipula masuknya dokter sama Arga sudah dari tadi. Kita tunggu saja di sini."
Pak Lukman menurut, beliau duduk mengikuti arahan dari istrinya. Meskipun hatinya sebenarnya was-was, beliau berusaha untuk tenang.
Sementara yang terjadi di dalam, Nuna baru saja membuka pintu ruangan dan arah pandangnya langsung tertuju pada sang anak dan Arga yang sedang menatap Cashel tanpa berkedip. Ia bisa melihat wajah dan mata yang cukup sayu di sana. Sedetik kemudian, ia beranjak dan duduk di samping Bian.
__ADS_1
"Kamu kapan bangun, sih? Aku kangen ngobrol sama kamu. Kamu pasti akan bela dan berpihak sama aku kalau kamu bangun. Aku nggak suka ini, Bian. Apa yang aku khawatirkan selalu terjadi, tolonglah bangun. Aku butuh kamu." Nuna bicara dengan pelan seraya terisak. Ia menghapus kasar pipinya yang basah oleh air mata.
"Dok, ambil lagi. Ambil yang banyak nggak apa-apa, anak saya harus sehat, dok," ujar Arga saat dokter melepas alat untuk transfusi darah.
"Sudah cukup, Pak."
"Kapan anak saya sadar, Dok? Dia nggak akan lebih lama lagi tidurnya, kan?"
"Mudah-mudahan segera, ya, Pak. Berdoa saja untuk kesembuhan anak Bapak. Saya permisi dulu, Bapak istirahat di sini sampai keadaan Bapak sedikit bertenaga. Nanti biar suster bawain makanan dulu biar tidak lemas, darah yang saya ambil tadi cukup banyak."
Arga hanya mengangguk. Tidak ada yang tahu betapa lega dan senangnya ia bisa membantu keselamatan sang anak. Ia turut andil dalam kesehatan anaknya. Sejak tadi Arga tak memalingkan pandangan dari Cashel yang masih tertidur lelap. Lama kelamaan mata pria itu berembun, ia tak tahan juga untuk tidak menangis melihat anaknya yang banyak luka di sekujur tubuhnya.
Arga perlahan bangun dan menghampiri sang anak. Duduk di satu kursi yang terpasang di sana. Nuna sama sekali tak menatapnya.
"Sayang, jangan lama-lama tidurnya, ya. Nggak kasihan sama Ibu? Ibu nangis terus tuh, nungguin kamu bangun. Jangan bikin Ibu takut, Ibu udah kangen juga sama kamu, tuh. Maafin Ayah datangnya terlambat. Maaf Ayah gagal menjadi ayah yang baik buat Cashel." Arga sedikit membungkuk untuk mengecup singkat kening anaknya. Ia tidak akan bisa melalukan ini lain kali.
"Ayah pulang, ya, Nak. Mudah-mudahan kamu segera sembuh. Maaf ayah nggak bisa lama-lama, nanti kalau Ibu izinin Ayah ketemu, Ayah akan sering-sering main sama kamu. Cepat sehat." Sekali lagi Arga mengecup kening anak itu. Sangat sulit baginya untuk pura-pura tegar saat duduk di samping anaknya dalam keadaan seperti ini.
Nuna hanya diam tak bergeming, ia mendengar segala kata yang keluar dari mulut Arga, tapi ia memilih bungkam dan tak menunjukkan respon apa-apa meski hatinya sedikit tercubit saat kalimat Arga masuk ke dalam gendang telinganya.
__ADS_1
Pria yang ia kira benar-benar pulang itu nyatanya justru menghampiri dirinya yang tertunduk menatap Bian. Ia berdiri di seberang wanita itu dan terdiam sesaat.
"Na, aku minta maaf tadi udah bicara kasar sama kamu, ya. Nggak seharusnya aku menaikkan nada bicaraku. Sekali lagi aku minta maaf, dan untuk ketakutan kamu soal balas budi. Sungguh, Na. Jangan pernah kamu berpikir seperti itu, harus dengan cara apa aku kasih tunjuk ke kamu kalau aku udah berubah?"
"Kalau udah bicaranya, kamu bisa kembali ke tempat tidur. Terima kasih untuk yang sudah kamu berikan. Tapi itu nggak akan merubah apa pun yang sudah terjadi."
"Tahu, aku tahu itu. Kalau dengan sesuatu bisa memperbaiki segala kesalahan, nggak akan ada manusia yang belajar dari kesalahan dan nggak ada penyesalan. Semua akan bertindak semaunya. Nggak apa-apa kalau aku belum dapat kepercayaan dari kamu, aku juga nggak akan nuntut apa-apa. Makasih, ya udah kasih kesempatan aku untuk beri Cashel sesuatu, bukan hal yang mahal dan mewah, tapi aku bersyukur aku bisa berguna untuk dia. Sekali lagi terima kasih. Kabari aku kalau Cashel udah siuman. Bukan untuk memintanya bertemu denganku, supaya aku nggak kepikiran dan nggak sering-sering ke sini hanya untuk tahu kapan dia bangun. Aku permisi, ya."
Tanpa memberi kesempatan untuk menjawab apa yang ia katakan, Arga melenggang pergi dari sana dengan perasaan yang entahlah. Di satu sisi ada kelegaan, tapi ada rasa berat lantaran ia tak bisa berlama-lama bertemu muka dengan anak semata wayangnya.
Nuna sekali lagi menitikkan air mata tanpa diminta. Untuk kali ini ia menangisi apa yang Arga katakan. Apakah dirinya jahat sekarang ini?
"Arga, tadi dokter minta kamu untuk istirahat." Nuna mengatakan itu tanpa menghadap Arga.
Pria yang sudah berjalan hingga pintu itu menghentikan langkah dan berbalik menatap Nuna.
"Nggak apa-apa, aku masih kuat. Aku harus balik kerja. Jaga kesehatan kamu juga." Arga meneruskan langkah setelah itu.
Tak berselang lama dari kepergian Arga, jari jemari Bian samar-samar bergerak, kemudian mata Bian ikut bergerak seperti sedang berusaha untuk membuka indra penglihatannya.
__ADS_1