Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
9. Semakin Rumit


__ADS_3

Arga menghabiskan sore hari hingga tengah malam untuk terdiam diri di sebuah tempat yang di mana jarang ada orang datang ke sana. Ia butuh sendirian dan waktu untuk dirinya sendiri. Aduan dari ibunya dan pengakuan dari Nuna sudah cukup membuatnya terpuruk hari ini. Tidak ada hari yang lebih hancur dari hari ini. Bahkan kematian sang Ayah saja, ia tak se terpuruk ini, meskipun sama hancurnya, sama sakitnya, namun  kedua rasa itu kini menghujam jantungnya bagaikan dua kali lipat dari kematian sang Ayah.


Kilasan memori dirinya dan sang istri menari-nari diatas kepalanya. Kebersamaan yang tak sebentar dan kekhilafan yang pernah mereka lakukan nyatanya dilakukan Nuna dengan pria lain juga. Setidaknya itulah yang memenuhi ruang kepalanya.


Udara yang dingin menusuk hingga bagian tubuhnya yang paling dalam membuat ia memaksakan diri untuk pulang. Ia tak tahu jam berapa sekarang, yang ia tahu hari sudah gelap, sunyi, senyap, dan terasa mencekam. Seumur hidup, baru kali ini ia diluar rumah hingga selarut ini.


°°°


"Kamu lihat ini. Sekarang sudah jam satu dini hari dan Arga belum pulang. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kalau sampai terjadi apa-apa sama anak saya, saya tidak akan segan-segan usir kamu dari rumah ini. Saya tidak peduli kamu sedang hamil. Janin yang ada dalam perut kamu belum tentu darah daging anak saya."


Kedua wanita yang tak akur itu menunggu di ruang tamu dengan gelisah. Mereka menunggu orang yang sama. Satu-satunya pria yang berada di rumah itu sejak sore tadi tak pulang, dan ponselnya pun tak dibawa.


Nuna hendak menyangkal ucapan Ibu mertuanya, namun suara deru motor yang berhenti di halaman rumah membuat kedua wanita itu mengarahkan pandangan dan berjalan ke arah yang sama.


Mereka mendapati Arga yang nampak kacau dengan pakaian yang bahkan sejak tadi pagi ia kenakan. Rambut dan wajah yang tampak berantakan pasti mengundang iba bagi siapa pun yang melihatnya. Tidak ada bau alkohol membuat kedua wanita itu lega.


"Apa-apaan ini Arga? Kamu bersusah hati dan terpuruk seperti ini karena wanita yang sudah menipumu ini? Ayolah jangan buat dia semakin bertepuk tangan dengan hancurnya kamu."


"Mas, aku memang bohong sama kamu. Aku nggak jujur sama kamu, tapi kebohongan aku ini nggak besar. Kebohongan aku masih bisa dimaafkan, meskipun aku sadar, aku tahu aku salah. Makanya aku minta maaf, kebohongan aku tak sebesar sebuah pengkhianatan. Kenapa berdampak sangat besar buat kamu?"


Pikiran kacau, tubuh lelah, dan keadaan yang menghimpitnya membuat emosi Arga yang belum stabil itu kembali naik ke ubun-ubun.


"Kebohongan yang nggak besar? Aku nggak kenal kamu yang sekarang, Nuna. Sebuah kejahatan sebesar ini kamu anggap kebohongan kecil? Kamu yang aku jadikan tempat masa depanku, tapi kamu juga yang menghancurkan diriku dan masa depanku. Kita pisah setelah kamu melahirkan jika memang kamu anggap kesalahan yang kamu lakukan ini kesalahan kecil." Arga melewati kedua wanitanya begitu saja.

__ADS_1


Dada Nuna terasa bergemuruh hebat, detakan jantung yang cepat seakan terasa akan membunuhnya saat itu juga. Pisah hanya karena ia tak jujur soal ia bekerja? Sungguh ini tidak masuk akal.


"Mas," kata Nuna setelah tersadar dari lamunannya. Ia membalikkan badan hendak menyusul suaminya yang baru saja membanting pintu kamar. Namun, tangannya yang dicekal oleh Bu Ningsih memaksanya untuk berhenti melangkah.


"Nggak bisa dengar tadi? Sepertinya kehadiranmu sekarang tidak diinginkan oleh anak saya. Dan akan lebih baik jika kamu juga sadar diri, Nuna. Menjauh dari anak saya, jangan dekat-dekat! Kamu hanya membuatnya marah, itu tidak baik untuk kesehatannya. Mulai sekarang sadari posisimu. Setelah kamu melahirkan, kamu bukan lagi istri dari anak saya. Anggap saja selama sembilan bulan nanti, anak saya sedang sedekah sama wanita yang memang membutuhkan sedekah."


"Sedekah? Tanpa mengurangi rasa hormat aku ke Ibu, apakah pantas kata sedekah diperuntukkan untukku? Aku istrinya dan sedang mengandung anaknya. Bagaimana Ibu mengatakan apa yang dia berikan nanti adalah sedekah untukku?"


"Kamu nggak ngerti apa pura-pura nggak ngerti? Sudah jelas tadi yang dikatakan anak saya, bahwa kamu dan Arga akan pisah setelah melahirkan. Kebohongan yang kamu anggap kecil, nyatanya besar untuk Arga."


Tatapan Bu Ningsih semakin terlihat tajam dan kejam. Tentu saja Nuna tidak terima dengan apa yang ia dengar. Kesalahan yang ia lakukan tidak sebesar dampak dari kebohongannya ini. Bagaimana bisa Arga memberinya konsekuensi yang tidak seimbang?


"Ibu jangan senang dulu, Bu. Aku masih punya kesempatan kurang lebih enam bulan untuk membuat Mas Arga percaya lagi sama aku. Kita nggak tahu apa yang terjadi di masa depan. Jadi cukup jalani saja dan jangan membayangkan hal yang belum tentu terjadi. Jangan terlalu bahagia atau sedih dengan apa pun yang Ibu dengar hari ini."


Dasar wanita tidak tahu diri, kita lihat saja nanti siapa yang akan memegang kendali Arga.


Nuna mendapati suaminya yang berbaring dengan tubuh tertutup selimut. Wanita itu berjalan pelan dan duduk di samping Arga yang berbaring membelakangi pintu.


Seakan tahu apa yang dilakukan Nuna, Arga membuka suara, "Jangan ajak aku bicara apa pun. Aku ingin tidur."


Nuna menelan ludahnya hampa, ia bangkit dari duduknya dan membaringkan tubuh di samping suaminya. Di waktu bersamaan, Arga memindahkan posisi tubuhnya menjadi menghadap pintu alias membelakangi Nuna. Wanita itu hanya merespon dengan tangisan tertahan.


Selama menikah, semarah apa pun Arga, tak pernah lelaki itu tidur dengan membelakanginya. Wanita itu menangis dalam diam entah hingga jam berapa. Yang ia tahu, ia baru saja memejamkan mata ketika terdengar suara adzan subuh.

__ADS_1


Aktivitas Nuna selalu sama setiap harinya. Pekerjaan rumah tetap ia yang kerjakan, meski pekerjaannya itu diakui oleh Ibu mertuanya jika beliau yang mengerjakan. Nuna sudah tak ambil pusing soal itu.


Arga datang ke meja makan saat Nuna menyiapkan masakannya ke meja.


"Baru aku mau bangunkan, kamu mau makan dulu apa mandi dulu?"


Alih-alih menjawab pertanyaan istrinya, Arga justru berteriak memanggil ibunya.


"Aku mau makan masakan Ibu aja," ujar Arga setelah ibunya datang. Ia lalu pergi setelah mengatakan itu.


"Masih percaya bisa merebut kembali kepercayaan Arga? Kalimat yang kamu berikan kemarin seharusnya jangan kamu ucapkan pada saya, tapi ucapkan dan tekankan pada dirimu sendiri." Bu Ningsih menyunggingkan senyum di salah satu sudut bibirnya.


Nuna hendak menjatuhkan air matanya ketika pintu terdengar di ketuk. Ia membersihkan cairan bening yang di ujung matanya dan berjalan ke pintu utama.


"Selamat pagi, Mbak. Benar ini rumahnya Mbak Nuna Kumala Sari?" tanya seorang gadis yang berpakaian rapi.


"Ah iya, ada apa, ya?"


"Aku mau mengembalikan ini, aku Bianca Mbak. Adiknya Mas Bian. Dia nyuruh aku buat kembalikan ini ke rumah Mbak." Bianca menyodorkan tas ukuran sedang berwarna pink.


"Ya ampun. Aku benar-benar melupakannya. Terima kasih, ya dan sampaikan maaf ku sama Bian. Maaf kalau aku sudah merepotkan. Sekali lagi terima kasih, mau masuk?"


"Ah nggak, Mbak. Lain kali aja, aku harus kuliah. Permisi."

__ADS_1


__ADS_2