
Dentingan waktu yang yang berjalan membawa Nuna dan Bu Ningsih kembali terpisah. Sesuai keinginan Nuna yang ingin di jemput sore hari saja. Pukul empat sore, Bian sudah berada di rumah Bu Ningsih untuk melenyapkan rindu yang rupanya sudah menumpuk meski hanya terpisah jarak setengah hari saja.
"Bu, jangan sungkan untuk hubungi aku jika ada apa-apa, ya. Telepon kalau kangen. Anggap aku anak Ibu."
"Makasih Nuna. Terima kasih karena masih sudi anggap wanita ini ibumu. Pasti Ibu akan sering telepon kamu, Ibu akan bilang kalau ada apa-apa. Hati-hati di jalan, ya. Jaga kesehatan."
Sedikit berat untuk melepas Nuna pulang. Biar bagaimanapun, selama ini Bu Ningsih tidak pernah di rumah sendirian, beliau selalu berdua dengan Arga, selalu ada yang menemani dirinya setiap saat. Pasti akan berat memulai hari tanpa Arga lagi untuk selamanya.
Keluarga kecil yang baru memulai kisah bahtera rumah tangga itu akhirnya pulang dengan sedikit menyisakan kesedihan. Melihat Bu Ningsih yang tersenyum dengan mata berkaca-kaca membuat ada sudut hati Nuna yang merasa sakit.
Mobil Bian melaju dengan kecepatan sedang. Ia meminta sang supir untuk pelan-pelan saja karena tiba-tiba merasa rindu dengan suasana jalanan yang sering ia lewati saat ke kedai. Kedai sederhana yang sekarang sudah ia hibahkan ke orang yang lebih membutuhkan itu nampak ramai pengunjung. Ia mengulum senyum tipisnya saat melihat kedai yang rupanya tidak ada yang berbeda sejak ia tinggalkan.
"Cashel, lihat deh. Itu kedai Ayah dulu. Waktu kamu masih di dalam perut, Ibu sama Ayah kerja bareng di sana. Nggak luas sih, tapi tempatnya penuh kenangan. Awal Ayah kenal Ibu, ya di tempat itu. Mana Ibu mukanya melas banget minta kerjaan ke Ayah."
Plak!
"Jangan di dramalisir! Mukaku nggak se melas itu sampai kamu harus pasang wajah yang begitu," protes Nuna kesal lantaran ia merasa Bian melebih-lebihkan.
__ADS_1
Bian hanya tertawa kecil melihat respon Nuna yang di rasa justru membuat ia gemas. Akhirnya perjalanan itu diisi dengan cerita Cashel dan Bian bergantian. Bian menceritakan bagaimana perjalanan ia mengenal Nuna hingga sekarang, sementara Cashel menceritakan setengah hari ini saat bersama dengan Bu Ningsih. Sedangkan Nuna hanya diam menatap interaksi keduanya yang sukses membuat ia tak mau berpaling dari laki-laki yang saat ini duduk di sampingnya.
Begitu sampai rumah, Cashel langsung diantar ke kamarnya. Kamar yang sudah dihias Bian dengan dekorasi superhero yang Cashel sukai, semuanya serba spiderman. Anak kecil yang baru tahu kemegahan rumah Bian itu hanya mampu berdecak kagum. Kamar yang luasnya seperti ruang tamu di rumah ibunya membuat Cashel benar-benar tak bisa mengungkapkan apa pun selain senyuman.
"Ada yang Cashel nggak suka? Coba tunjuk, nanti biar Ayah ganti."
"Mas, jangan ajarkan anak nggak bersyukur dengan apa yang sudah kita punya dan kita beri untuk dia. Kita mampu melakukannya, tapi sebaiknya kita ajarkan dia untuk tidak terlalu mendongak ke atas juga."
"Kita bisa ajarkan itu dengan cara lain, nggak semua hal bisa di pukul rata. Kalau masih dalam batas kewajaran, kita berikan, masih bermanfaat buat dia, kita kasih. Kita jangan ajarkan anak untuk hanya mengerti dengan kondisi, tapi ajarkan juga cara mengasihi keluarganya nanti. Apa yang kita tunjukan ke anak, nanti akan ditiru juga sama dia ketika dewasa. Kalau dia dapat sesuatu yang indah, keindahan itu pasti akan diturunkan juga nanti sama keluarganya."
Nuna hendak buka suara kembali, namun ibu jari Bian mengusap pelan pipi chubby wanita itu dan seakan mengerti dengan isyarat tersebut, Nuna hanya mengangguk kecil dan menutup mulutnya.
"Gimana? Ada yang nggak disukai Cashel?"
"Nggak ada. Aku suka semuanya. Apa pun yang dikasih dari Ayah aku suka. Makasih sudah memberiku kamar sebesar ini. Banyak mainan juga." Refleks anak kecil itu memeluk Bian erat.
"Iya, Sayang. Di sini ada meja belajar juga, bukan hanya mainan. Janji belajar yang rajin, ya. Nggak harus juara satu, dua, atau tiga. Yang penting Cashel harus rajin belajarnya biar bisa jadi orang yang sukses."
__ADS_1
"Iya, Ayah. Aku akan belajar dengan rajin. Aku boleh nggak kalau nanti kapan-kapan aku bawa temen-temen sekolah aku main ke sini. Ke kamar aku boleh nggak."
"Cashel, ja...." Ucapan Nuna terhenti karena jari telunjuk Bian yang terangkat. Wanita itu kembali terdiam hanya dengan tatapan hangat dari suaminya.
"Boleh, Sayang. Ajak main aja kalau mau. Sekarang Cashel istirahat. Udah malam, pasti cape, kan tadi habis main seharian sama nenek Ningsih, pulangnya belanja. Besok Cashel sekolah." Pria itu lalu mengecup singkat kening dan kedua pipi anak kecil itu dan memintanya untuk berbaring di ranjang. Nuna melakukan hal yang sama lalu keduanya pergi dari kamar yang ukurannya cukup besar untuk seorang anak berusia delapan tahun.
"Mas, apakah yang kamu kasih ke Cashel ini nggak berlebihan?" tanya Nuna duduk di ranjang kamar barunya.
"Berlebihan gimana? Mas ngasih buat anak Mas. Bukan anak orang."
"Mas, tapi nyatanya dia anak...."
"Anakku, Cashel anakku. Dia satu paket sama kamu. Mas jadiin kamu istri, bukan kamu aja yang Mas jadiin keluarga, Cashel, Ayah, Ibu, Nizar, bakan Bu Ningsih, yang mungkin kalau kamu anggap dia Ibu, Mas juga akan menganggap dia sebagai Ibu. Yang itu artinya, apa pun yang kamu milikin, Mas akan bersedia memilikinya juga. Begitu juga sebaliknya, paham, kan? Sekarang Mas mau ngomong sama kamu. Malam ini kita harus selesaikan bagaimana caranya kita mendidik anak, dia mau sekolah di mana nantinya, gimana caranya kita bersikap di depan anak, apa yang harus kita hindari di depan anak. Semuanya harus kita bicarakan sekarang. Biar apa? Biar nggak kayak tadi. Mas mau ini kamu nggak setuju."
"Penting banget?"
"Penting dong, Sayang. Kalau kita nggak sejalan cara mendidik anak dan hal yang lainnya kita akan bersitegang terus di depan dia. Contoh kecilnya tadi, Mas nawarin untuk ganti dekorasi kamu langsung menyanggah dengan jangan mengajarkan anak ini itu. Cashel yang semula sebenarnya ingin mengganti dekorasi, dia nggak jadi mengutarakan pendapatnya karena sanggahan kamu tadi. Ini hanya contoh kecil dan masih terjadi satu atau dua kali, tapi kalau keterusan dia nanti bingung mau nurut yang mana. Ayah atu ibunya? Di dalam hatinya dia inginkan ganti dekorasi, tapi kamu nggak izinin. Kalau itu terus terjadi nanti lama-lama dia nggak akan bisa mengutarakan pendapatnya di depan banyak orang. Dia jadi nurut terus sama kita. Jangan kayak gitu, dia laki-laki, dia harus bisa mengambil keputusan. Paham, kan?"
__ADS_1
"Aku nggak salah nikah kali ini." Jawaban dari Nuna yang tidak nyambung membuat Bian menarik kepala Nuna dan ia bawa tubuh wanita itu berada di bawah selimut yang sama dengannya. Pembicaraan penting yang katanya harus diselesaikan malam ini nyatanya hanya bualan saja.