
Nuna mengerjap saat ia merasakan lelah di lehernya. Dengan setengah memaksakan diri, ia perlahan membuka mata dan mendapati Bian yang belum tersadar. Matanya terasa panas menangisi pria yang ketulusannya sebenarnya nampak nyata meski ia terus menyangkal.
Tidur semalaman dengan posisi duduk membuat badannya terasa pegal. Disaat menatap Bian, ia teringat bahwa ponsel pria itu ada padanya. Ia mengambil beda pipih itu dari tasnya dan ia perhatikan cukup lama.
Sopan nggak, ya aku buka-buka HP nya. Nggak-nggak, lebih baik jangan.
Nuna yang berkeinginan untuk membuka ponsel Bian urung dan ia letakkan di laci nakas yang berada di dekat ranjang.
"Lama banget tidurnya. Lagi cape sama aku? Maaf, ya. Aku jahat sama kamu, ya. Aku tinggal sebentar nggak apa-apa, ya. Nggak lama, nanti aku balik lagi."
Nuna memaksa dirinya yang tak bersemangat untuk berjalan keluar. Saat menutup pintu, ia melihat Bianca dan suaminya yang duduk dengan bersusah hati.
Sempat terjadi obrolan antara mereka sebelum akhirnya Nuna pamit pulang untuk mengurus Cashel bersiap sekolah.
Dan semenjak hari itu tiga hari berturut-turut, Nuna pulang pergi rumah sakit. Bian sudah melewati masa kritisnya, namun belum sadarkan diri hingga sekarang. Wanita itu sudah merasa lelah harus membagi waktu di dua tempat dan dua orang.
Kini ia sadar sepenuhnya dengan perjuangan yang Bian lakukan. Ini ia baru mondar-mandir ke sana dan kemari, belum menjadi Bian yang harus menunggu selama bertahun-tahun, belum lagi ia sedikit mengabaikan perasaan laki-laki itu meski ia sendiri sebenarnya tidak ingin.
"Mbak, maaf aku merepotkan kamu sekali."
"Iya nggak apa-apa, lagian kalau nggak kita siapa lagi yang jaga? Udah sana kamu pulang, nanti anak kamu nyariin."
Seperti biasa, Nuna akan membuka obrolan yang ringan dan sederhana seakan Bian tak sedang tidur.
"Bian, kamu bangunnya kapan? Cashel udah kangen katanya sama kamu. Nanti sepulang sekolah dia mau ke sini. Bangun, ya."
__ADS_1
Nuna bicara seraya sedikit terkantuk-kantuk. Kurang istirahat dan badan lelah membuat ia berpikir tak apa jika ia tidur sejenak pagi ini. Seperti hari sebelumnya, ia merebahkan kepalanya di samping lengan Bian. Membuat posisi yang nyaman dan memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama bagi Nuna untuk masuk ke alam mimpi.
Disaat Nuna sedang nyenyak-nyenyaknya dan terbuai sekaligus terlena di alam mimpinya, Bian menggerakkan jarinya dan dalam waktu bersamaan ia berusaha untuk membuka mata. Pelan namun pasti kedua bola mata pria yang beberapa hari ini terpejam itu sedikit demi sedikit terbuka.
Setelah kesadaran Bian benar-benar kembali penuh, ia sadar dengan kehadiran Nuna. Napas yang terdengar teratur membuat laki-laki itu menyadari bahwa Nuna tertidur.
Untuk beberapa saat ia memperhatikan wajah Nuna yang sebenarnya tak terlihat dengan jelas. Memahami bahwa wanita itu sedang lelah, ia terdiam dan sama sekali tak bergerak agar Nuna tak terganggu tidurnya, namun sayangnya keinginan itu hanya bertahan sementara. Dengan pelan ia mengangkat tangannya lalu mengelus pelan kepala wanita ibu satu anak itu.
Untuk beberapa saat Nuna tak sadar, hal itu membuat Bian gemas dan memperdalam elusannya. Tak berselang lama, tangan Nuna meraih tangan Bian dan tanpa disadari ia genggam dan ia jadikan bantal. Laki-laki itu hanya merespon dengan sedikit tawa yang tak terdengar. Bian dengan sedikit memaksakan menggerakkan tubuhnya untuk miring menghadap Nuna. Ia perhatikan lagi wajah lelah itu dengan seksama. Ia merasa ini adalah kesempatan langka.
Kenapa harus dalam keadaan seperti ini kamu perlihatkan perasaan kamu, hm?
Seakan terganggu dengan kalimat yang Bian ucapkan dalam hati, Nuna mengerjapkan mata. Sadar bahwa tangannya seperti sedang menggenggam sesuatu, ia seketika mengangkat kepalanya. Dan akhirnya, tatapannya justru bertemu dengan mata Bian yang juga sedang menyorotnya. Untuk sesaat Nuna seperti sedang linglung dan terpaku dengan sorot mata Bian.
"Bian, sejak kapan kamu bangun? Kenapa nggak bangunin aku? Aku panggil dokter sebentar." Nuna hendak beranjak, namun tangannya ditarik pelan oleh Bian. Ia lalu menggeleng pelan pertanda melarang wanita itu untuk melakukan keinginannya.
"Dokter harus tahu, Bian."
"Udah aku nggak apa-apa. Kamu di sini aja. Udah berapa lama aku tidur."
"Lebih dari tiga hari, jangan begini tidurnya. Baru sadar jangan banyak tingkah." Nuna membenarkan tubuh Bian yang miring.
"Maunya banyak sayang?"
"Jangan mulai. Kamu tahu? Aku kesal sama kamu, Bian."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kenapa harus ada sandiwara-sandiwara begitu? Aku tahu semuanya sekarang. Lita udah cerita. Total sekali sandiwaranya." Nuna berkata dengan wajah kesal.
"Siapa yang buat aku begitu, ha? Tapi aku berhasil, kan? Sekarang kamu cemburu, kan sama Lita?"
"Jelas aku cemburu, Bian. Kita sering Jalan bareng, kamu juga sering bilang kalau kamu mau seriuslah, kamu mau nikahin aku lah, kamu mau ini, itulah. Tapi sekalinya kamu ketemu sama Lita kamu posting di sosial media. Siapa yang nggak kesel coba? Yang kamu ajak nikah siapa, yang kamu ajak serius siapa, tapi yang kamu pamerin siapa?"
Bian hanya mengatupkan mulutnya mendengar ocehan Nuna. Rupanya Apa yang ia lakukan membuat wanita itu benar-benar terbakar cemburu.
"Sekarang kamu udah tahu kenyataannya, kenapa masih marah?"
"Ya meskipun aku tahu kenyataannya, tapi kamu nggak pernah posting foto aku sama Cashel. Kita sering jalan bareng nggak pernah, kan kamu posting kayak gitu? Yang namanya diperjuangkan kayak gitu, kayak gitu sayang beneran, mau serius beneran. Udahlah kamu tuh nyebelin."
Janji-janji yang Nuna ucapkan ketika Bian kritis nampaknya ia lupakan begitu saja. Ia yang seringkali mengatakan pada Bian untuk segera bangun dan melakukan apa pun yang ia minta kini justru ia ajak untuk adu mulut.
"Coba sini dengerin aku dulu, kenapa aku ngelakuin itu. Janji setelah kamu dengerin apa yang aku jelasin, kamu jangan baper. Janji nggak baper, ya," goda Bian seraya menarik tangan Nuna untuk duduk di ranjang.
Wanita itu menurut. Ia duduk di ranjang, namun masih memasang wajah kesal. Meskipun Bian menggenggam tangan wanita itu dengan lembut dan mesra, Nuna masih tak merubah raut wajahnya. Ia tak peduli hatinya yang kini sedang jumpalitan.
"Lihat aku." Bian mengarahkan wajah Nuna ke arahnya.
"Aku nggak pernah posting kamu, Cashel, foto kita bertiga, karena aku nggak mau orang lain juga menikmati kecantikan yang kamu punya. Foto kamu itu cuman buat aku, buat aku seorang. Aku nggak mau dengan seringkali aku memposting kebahagiaan kita, kebersamaan kita, akan menjadi banyak orang yang tahu bahwa aku punya wanita yang cantik dan semua orang bisa menikmati kecantikanmu. Aku nggak mau itu. Buat aku, foto-foto kamu yang aku punya, ya, itu cuman buat aku. Aku nggak mau berbagi sama yang lain. Gimana? Masih kurang paham, masih marah? Bahasa sederhananya kamu itu spesial buat aku. Yang namanya orang spesial itu nggak akan dibagi sama siapa-siapa."
Beberapa detik berlalu, Bian hanya menahan tawa melihat pipi Nuna yang memerah.
__ADS_1