
"Apa? Jadi Lia pernah aborsi?" Bu Ningsih menunjukkan keterkejutannya keesokan harinya.
Lia sudah di operasi dan kini wanita itu sudah tak memiliki rahim. Hilang dan pupus sudah harapan untuk memiliki anak kandung.
Arga hanya diam, tak menanggapi keterkejutan ibunya. Ia tak tahu kenyataan yang mana yang membuat kehidupan dan hatinya menjadi kepingan. Entah kenyataan yang harus ia akui bahwa ia tak akan punya anak lagi jika terus bertahan dengan Lia. Atau ia merasakan hancur ketika mendengar Lia pernah aborsi? Ia baru saja ditampar oleh kenyataan. Ia menikahi wanita yang rupanya tidak jauh lebih baik dari Nuna. Bahkan mantan istrinya itu jauh lebih baik dibanding istrinya sekarang.
"Terus ini gimana selanjutnya? Apa yang akan kamu lakukan? Kamu nggak akan punya anak lagi kalau kamu mempertahankan Lia."
"Haruskah Ibu menanyakan hal itu sekarang? Ibu, aku baru saja kehilangan anak dan harapan untuk memiliki anak. Kenapa Ibu menanyakan hal ini sekarang? Tidak bisakah Ibu membiarkan aku bernapas sebentar?"
Bu Ningsih seketika bungkam. Entahlah, ia merasa kesal dan sedikit kecewa mendengar Lia yang keguguran beserta rahimnya diangkat, ditambah lagi aborsi yang pernah dilakukan oleh menantunya membuat beliau memandang Lia sebelah mata. Kekaguman yang berada di puncak kepala seakan-akan menyusut dengan perlahan.
Hari demi hari terus dilewati, tak terasa dua tahun sudah Arga dan Lia menjadi sepasang suami istri tanpa harapan memiliki seorang anak. Tak ada niatan juga bagi Arga untuk berpisah yang kedua kalinya dengan wanita yang kini menyandang status istri itu. Entahlah, ia sendiri sudah lelah dengan kehidupannya dan akhirnya memilih untuk pasrah.
Sempat terlintas dan diutarakan ingin mengadopsi anak, namun sangat istri yang belum bersedia dan seperti sedang terpukul dengan keadaannya membuat Arga urung menindaklanjuti keinginannya.
Di saat seperti ini, Arga tiba-tiba merindukan sang anak yang dibawa oleh mantan istrinya. Dua tahun yang sudah lewat membuatnya membayangkan anaknya pasti sedang berlarian dengan ibunya.
__ADS_1
Lama memikirkan anaknya membuat Arga menimang-nimang ponselnya dan ingin sekali menghubungi Nuna. Namun, di sisi lain ia juga ragu dan takut jika kekecewaan yang ia dapatkan. Ia khawatir penolakan adalah hal pertama yang ia terima meskipun hanya ingin sekedar untuk bertemu dengan anaknya.
Apa aku langsung ke rumah dia aja, ya? Kayaknya nggak apa-apa kalau aku lihat anakku sendiri dari jauh. Aku masih belum ada nyali untuk bertemu secara langsung.
Mendapatkan ide yang cukup brilian untuk mengobati rasa rindu yang menggebu membuat Arga tak ingin buang waktu. Ia segera meninggalkan rumah dengan menumpangi kuda besi yang sebenarnya penuh dengan kenangan bersama Nuna.
Bibir Arga full senyuman sepanjang perjalanan. Ia berharap besar bisa melihat anaknya meski jarak jauh. Tak apa meskipun tak bisa menyentuh kulitnya, tak masalah ia tak bisa memakai suaranya hanya untuk sekedar menyapa. Baginya melihatnya saja nampaknya akan membahagiakan.
Motor Arga berhenti tak jauh dari rumah yang dulu Nuna tempati. Ia menyipitkan mata dan menajamkan penglihatan demi melihat sang anak.
Arga masih setia di sana hingga menghabiskan puluhan menit. Entah sudah berapa menit yang ia habiskan hanya untuk duduk di atas motor seraya pandangan yang tak lepas dari rumah yang sebenarnya pintu terbuka, tapi tak ada orang yang berkeliaran keluar rumah.
"Rumah itu kosong lama. Itu pintunya kebuka kayaknya yang punya rumah lagi bersih-bersih karena rumahnya laku terjual."
"Dulu ada yang nempatin, kan? Dua orang wanita sama satu bayi baru lahir. Mungkin Ibu tahu ke mana perginya, atau tahu ke mana meraka pindah." Arga berusaha bersikap tenang meskipun dirinya begitu terkejut.
"Oh itu nggak lama tinggal di sini, nggak sampai dua bulan udah pindah, tapi saya juga nggak tahu pindahan ke mana."
__ADS_1
Rontok sudah hati Arga. Senyum yang sempat menghiasi bibir seketika sirna. Tak mau usahanya sia-sia, ia memberanikan diri untuk menghubungi Nuna. Sudah dua tahun ini nomer Nuna tak tersentuh olehnya. Ia tak tahu apakah nomer yang ia punya ini masih aktif atau tidak. Ia nekat saja menghubungi karena memang tak ada jalan atau pilihan lain.
Nafas kelegaan tiba-tiba Arga keluarkan ketika mendengar nada sambung di seberang sana. Tak berselang lama, suara sahutan dari Nuna terdengar di telinga Arga.
"Iya halo," sapa Nuna.
Untuk sesaat Arga terdiam, ia seperti sedang mengumpulkan kata agar menjadi sebuah kalimat yang layak untuk diutarakan pada mantan istrinya.
"Halo Nuna, ini aku Arga. Aku ingin bicara sebentar, apa aku mengganggu waktumu?"
"Bicaralah."
"Aku hanya ingin tahu kamu sekarang tinggal di mana? Apa aku boleh menemui anakku sebentar? Kalau kamu nggak mengizinkan aku untuk menemuinya, biarkan aku melihat dari jauh."
"Anakku? Aku tidak salah dengar, kan? Anak yang sedang bersamaku sekarang bukan anakmu. Dia anakku. Ada badai apa sampai kau tiba-tiba menghubungiku? Terjadi sesuatu dengan istrimu? Ish itu bukan urusanku. Aku tidak akan pernah mengizinkan kau bertemu dengan anakku."
"Tapi aku ayahnya."
__ADS_1
"Kau memang ayahnya, aku tidak bisa mengubah darah daging ataupun darah yang mengalir di tubuhnya. Tanpa kau beritahu pun aku juga tahu. Sepertinya kau harus ingat apa yang kau lakukan dan apa yang kau berikan padaku saat anakku masih di dalam perutku. Ingatlah itu setiap kali kau ingin menemuinya. Jika kau mengingatnya, aku yakin kau akan malu untuk melakukan ini."
Sambungan telepon terputus setelah itu. Arga sungguh tak diberi kesempatan untuk bicara dan mengemukakan keinginannya lebih panjang. Ia sudah tahu pasti tidak akan mudah untuk menemui Nuna apalagi anaknya. Ia juga sadar bahwa kesalahannya terlalu besar untuk dimaafkan. Tapi setidaknya memberikan ia kesempatan untuk menebus kesalahan dengan sesekali bertemu atau memberinya nafkah bukanlah sebuah kesalahan.