Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
53. Momen Tak Terduga


__ADS_3

Melihat respon Nuna yang menunduk dalam membuat Bian menyesali kata-katanya. Ia tak sadar jika kalimatnya bisa saja menyakiti hati perempuan itu


"Kata-kataku terlalu meyakitkan. Maaf jika aku melukai hatimu. Lihat aku, Nuna." Bian memberanikan diri untuk menyentuh dagu Nuna dengan lembut dan ia dongakkan wajah ayu wanita itu.


Disaat wajah Nuna menghadap pria itu air mata yang sejak tadi berusaha untuk ia tahan justru malah keluar begitu saja. Ia buru-buru menghapusnya agar tak terlihat oleh Bian.


"Kenapa kamu melakukan ini? Seragu itu kamu sama perasaan aku? Kalau kamu yakin sama perasaan aku, kamu nggak akan begini. Kamu tahu aku, kan?"


Keduanya terbawa oleh suasana yang entah kenapa mendadak menjadi hening dan mendukung mereka untuk bicara yang lebih intim. Tangan Bian masih berada di dagu wanita itu, pandangan mereka sama-sama terkunci. Entah sadar atau tidak, Bian sedikit demi sedikit mengikis jarak kepalanya dan Nuna. Semakin lama semakin dekat, hanya tinggal satu senti lagi kedua bibir manusia itu akan bertemu. Mata Nuna pun entah siapa yang menyuruh tiba-tiba ia pejamkan dengan perlahan dan


Huuuaaa


Terdengar tangisan Shanum yang tiba-tiba menggema. Kedua insan yang berasa di sofa itu terjingkat kaget. Keduanya sama-sama menjauh satu sama lain dengan salah tingkah. Mata Bian tertuju pada lantai atas dengan tatapan mengumpat pada Bianca yang bisa-bisanya mengintip aktivitasnya. Bianca seketika melipir pergi setelah keberadaannya diketahui oleh sang Kakak.


Hening untuk beberapa detik.


"Bian, boleh aku pulang sekarang?"


"Kenapa buru-buru, nanti aja sekalian jemput Cashel, kan. Dari pada bolak-balik. Lagian obrolan kita belum selesai."


"Apalagi yang perlu kamu tahu dari aku?"


"Perasaan."

__ADS_1


"Aku nggak ada perasaan sama kamu."


"Oh, ya? Kalau begitu kenapa kamu menghindar setelah kita ketemu?"


"Pertemuan kita yang pertama itu kamu membawa anak. Aku mengira bahwa anak yang kamu bawa itu adalah anakmu, otomatis aku mengira bahwa kamu udah nikah. Itu nggak akan baik untuk hubunganmu dan juga istrimu kalau kita tetap berteman baik. Biar bagaimanapun seorang laki-laki dan perempuan itu tidak bisa dikatakan hanya berteman."


"Kan kamu nggak ada perasaan. Kenapa harus menghindar? Harusnya sih santai aja. Sama kayak kita awal-awal kenal dulu, kamu kenal sama aku di saat kamu udah punya suami, tapi kita masih bisa berteman, kan? Kenapa sekarang tidak berlaku buat aku? Yakin nggak ada perasaan? Lagipula kalau perempuan dan laki-laki nggak bisa dikatakan hanya teman, lalu maunya bagaimana?"


Merasa kesabarannya diuji oleh pria itu,  Nuna menatap Bian dalam dan sekali lagi mengucapkan bahwa ia sama sekali tidak ada perasaan padanya.


"Terus kenapa mau ke sini kalau nggak ada perasaan? Kalau nggak ada perasaan mah, ya udah seharusnya kamu nggak usah peduli sama kesehatan aku. Mau aku sembuh atau tidak itu bukan jadi urusanmu."


"Aku melakukan ini untuk Bianca. Bukan kamu."


"Serius? Kamu ke sini bukan karena tahu kalau aku belum menikah? Kamu yakin alasanmu ke sini untuk Bianca."


Bian menarik salah satu sudut bibirnya. Hal itu membuat Nuna merasakan perasaan tak enak. Entah ada apa hati Nuna mengatakan harus melarikan diri dari sana. Ia menghitung dalam hati hingga hitungan ke tiga dan secepat mungkin ia berlari dari sana.


Bian yang terkejut dengan tindakan Nuna sedikit linglung. Namun, untunglah linglung nya itu tidak berlangsung lama dan segera mengejar langkah wanita itu dengan langkah lebar.


Hanya butuh beberapa detik saja, Bian sudah bisa mengejar langkah Nuna dan mencekal tangan wanita itu. Ia tarik tangan itu dengan kencang hingga tubuh Nuna berbalik dan menubruknya. Memang itu yang diharapkan Bian. Tubuh mereka bertabrakan dan Bian yang tak mampu berdiri seimbang akhirnya menjatuhkan diri di lantai. Dan apa yang ada dalam pikiran Bian kini benar-benar terjadi. Sungguh luar biasa bukan?


Entah untuk ke berapa kalinya mereka kembali hening di bawah tatapan yang sama-sama terpaku. Telinga mereka seakan hanya bisa mendengar senandung lagu yang pas untuk suasana dan posisi mereka saat ini.

__ADS_1


"Apa kamu tidak bisa belajar dari apa yang sudah terjadi, Nuna? Selama kita kenal, sudah berapa kali kita dipisahkan? Tapi ujung-ujungnya tetap ketemu, kan? Tidak belajar dari itu? Mau berapa lama lagi kamu menghindar dari aku? Apakah lima tahun kurang panjang bagimu?"


Bian mengucapakan kalimat yang cukup dalam itu dalam bisikan. Selain itu tangannya juga tak mau diam memanfaatkan situasi seperti ini. Ia berpikir kapan lagi akan menemui momen seperti ini.


Merasa harus memanfaatkan momen dengan baik, dengan pikiran nakalnya tangan pria itu menjelajah bibir mungil Nuna. Setelah beberapa saat, Nuna terbawa suasana dan saat itulah ia memajukan kepala Nuna untuk lebih dekat dengannya.


Tak peduli waktu dan suasana rumah yang bisa saja penghuni lain berlalu lalang, keduanya terhanyut dalam sebuah sentuhan panas. Nuna yang awalnya tak menyambut kedatangan bibir Bian lama-lama tergoda juga.


"Menikahlah denganku, Nuna."


Mendengar kalimat ajakan dari Bian membuat wanita itu tersadar posisinya yang masih berada di atas tubuh Bian. Ia segera bangkit dengan kegugupannya. Apalagi mengingat apa yang mereka lakukan barusan membuat Nuna ingin sekali menghilang. Seandainya saja ia punya kemampuan itu, mungkin sudah ia gunakan sejak tadi tanpa harus menunggu momen seperti ini.


"Aku pergi dulu, Bian." Nuna bergegas bangkit dan pergi dari sana meninggalkan Bian yang masih duduk bersila di lantai dekat pintu utama. Untuk kali ini, pria itu membiarkan Nuna pergi, tapi tidak untuk lain kali.


Sementara itu, Nuna masih saja tak bisa melupakan kejadian barusan. Lintasan-lintasan pergerakan bibirnya dan Bian masih saja menari di pelupuk mata dan melekat dikepalanya. Ia sampai menepuk dahinya berkali-kali lantaran ingatannya yang tak mau pergi.


Merasa sebentar lagi Cashel pulang sekolah, ia memiih untuk singgah di cafe yang jaraknya tak jauh dari sekolah anaknya. Ia masih punya sepuluh menit lagi untuk bersantai di sana. Ia baru sadar ternyata saat di rumah Bian, ia menghabiskan waktu yang cukup lama.


Dalam kesendirian, Nuna tenggelam dalam lamunan. Pikirannya kini menjadi berpikir keras. Apa yang harus ia lakukan untuk menjawab ajakan Bian? Ia merasa sia-sia sudah waktu lima tahun untuk pergi dari kehidupan laki-laki itu.


Sungguh ia merasa dilema dengan keadaan ini. Tak bisa dipungkiri ia menaruh hati pada Bian. Siapa yang tidak jatuh hati dengan sikap Bian yang begitu peduli dengan orang lain dibalik sosoknya yang dingin. Ia rasa tidak ada wanita yang akan menolak pesona laki-laki tampan itu. Tapi di sisi lain ia juga sadar diri dengen statusnya.


"Permisi, ini pesanannya."

__ADS_1


"Ah, iya terima kasih."


Nuna tersenyum ramah pada waiters yang mengantarkan segelas Choco chip ice blend yang ia pesan. Perut waiters yang sedikit buncit mengingatkannya pada dirinya sendiri tujuh tahun lalu.


__ADS_2