Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
33. Pamit


__ADS_3

Dan semenjak hari itu, Nuna sudah jauh lebih baik. Meskipun tak bisa dipungkiri ada beberapa momen yang membuat ia teringat dengan segala hal yang menyangkut dengan Arga. Bukankah itu hal yang seharusnya dimaklumi? Melupakan rasa cinta pada seseorang tidak secepat ketika kita jatuh cinta, bukan? Namun, meskipun begitu, Nuna tak terlau larut dalam ingatan masa lalunya, ia sudah lebih pandai mengelola emosi dan perasaan.


Tak terasa hari ini Cashel sudah berusia 40 hari. Selama di rumah itu, Nuna hanya di rumah dan menyibukkan diri dengan sang anak. Sesekali ia membantu ibunya membuat cake dan jajanan kering yang dijual kembali di kedai Bian.


Lalu bagaimana hubungan Nuna dan Arga? Tidak ada apa pun dalam hubungan mereka. Penandatanganan surat cerai adalah terakhir kali mereka bertemu. Berkomunikasi melalui telepon atau berkirim pesan pun tidak.


Lalu bagaimana dengan Bian? Hubungan mereka masih sama, namun tidak dengan perasaan Bian. Semakin hari pria itu semakin ingin dekat dengan Nuna. Ia bahkan nyaris setiap hari berkunjung ke rumah, rasanya berkirim pesan saja ia takut cukup. Bahkan tak hanya dengan Nuna, Bian juga cukup dekat dengan Cashel, bayi yang semakin hari semakin gembul itu kini juga mengalihkan perhatiannya.


"Bu, aku mau ke kedai Bian boleh, ya? Bosan di rumah terus, sekalian aku mau bilang kalau besok kita pulang."


Ya, meskipun sebenarnya ia merasa berat meninggalkan tempat ini, ia harus tetap pergi untuk ketenangan hidupnya sendiri. Ia tak mungkin terus menerus di sini dengan ibunya dan meninggalkam ayah dan juga adiknya yang tentu saja masih butuh sang Ibu.


"Uang yang dari Ayah kemarin jangan lupa dibawa kasih ke Bian."


"Iya, ini udah aku bawa."


Nuna lalu segera berangkat ke kedai, ia menumpangi ojek online untuk sampai di sana. Perjalanan awal terasa biasa saja bagi Nuna, tapi entah kenapa semakin dekat dengan kedai Bian, hatinya semakin berat dan perasaannya tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda, entah rasa apa ia sendiri tak bisa mendeskripsikan dengan kata apalagi kalimat.


"Terima kasih, ya, Pak," ujar Nuna menyodorkan satu lembar uang.


Nuna berhenti sejenak di depan kedai itu. Ia menatap tempat yang ternyata tak berubah, semua masih sama, bahkan tempat itu juga masih ramai. Setelah beberapa saat terdiam di depan, ia mengayunkan kakinya ke kedai.


Seperti sudah mengetahui kedatangan wanita itu, Bian yang sedang sibuk melayani pelanggan memintanya masuk dan menunggu di pantry, padahal Nuna baru saja menginjakkan kakinya di lantai dekat etalase. Wanita itu hanya tersenyum kecil menanggapi Bian yang sibuk sendiri.


"Minuman apa yang harus aku buat? Akan aku buatkan."


"Udah kok. Udah selesai, kamu duduk aja dulu, ini sedikit lagi selesai."

__ADS_1


Nuna menurut saja, ia akhirnya membawa kakinya ke pantry. Ia baru menyentuh pintu dan siap akan mendorongnya sebelum ada pertanyaan yang tiba-tiba terlontar untuknya.


"Mbak istrinya Mas Bian, kan ya? Katanya baru melahirkan, ya Mbak. Kok anaknya nggak dibawa."


Nuna mengernyit bingung, sedetik kemudian ia teringat wanita ini adalah wanita yang pernah mengira bahwa ia adalah istri Bian. Dan bagaimana bisa wanita itu hingga kini masih salah paham?


"Siapa yang bilang saya melahirkan?"


"Mas Bian, saya beberapa hari yang lalu nanya kenapa kok sendirian lagi. Katanya Mbak nggak bisa bantu habis lahiran."


Sebelum wanita itu bicara lebih panjang, Bian datang dengan membawa pesanan wanita itu. Wanita muda yang cukup akrab dengan Bian karena terlalu sering makan di sana membuat Bian memperlakukannya seperti teman, bukan hanya pelanggan.


"Makan dan bayar. Hanya itu tugas pembeli," ujar Bian lalu berjalan menuju tempat Nuna berdiri dan memutar tubuh wanita itu lalu mendorongnya masuk ke pantry.


"Jangan di dengar apa kata perempuan tadi. Dia langganan dan agak banyak bicara, jangan dipikirkan. Apa yang membuat Ibu Cashel ini datang ke sini?" Bian bertanya sebelum menenggak segelas air putih.


Mendengar kata pamit membuat Bian terbatuk lantaran tereedak minuman. Ia melangkah duduk di dekat Nuna dengan tatapan bertanya.


"Maksudnya gimana? Mau pindah rumah? Udah nggak betah, nggak nyaman? Mau rumah yang gimana biar aku carikan. Mau dekat sini?" Bian mencerca berbagai pertanyaan seakan ia lupa dengan rencana ayah Nuna yang akan membawa mereka pulang ketika Cashel sudah berusia 40 hari.


Nuna masih diam, ia meneliti wajah Bian dan pancaran mata yang dalam. Ada ketulusan dalam mata pria itu. Dan melihat mata itu entah kenapa membuat hatinya sedikit tergelitik.


"Aku mau pulang, Bian. Aku nggak bisa di sini terus. Aku nggak bisa sendirian di sini tanpa Ibu. Sedangkan Ayah dan adikku juga butuh Ibu. Mau nggak mau aku harus pulang."


"Pulang?" ulang Bian begitu lirih nyaris tak terdengar.


Entahlah, ada sesuatu yang seperti diambil paksa oleh ucapan Nuna. Ada sesuatu yang seperti menyakiti hatinya.

__ADS_1


"Dan ini, Ayah nitip sesuatu buat kamu. Katanya makasih udah..."


"Kapan? Kapan mau pulang?"


Pertanyaan dari Bian membuat Nuna kembali menurunkan amplop berisi uang untuk mengganti biaya rumah sakit Nuna dan bantuan lainnya.


"Besok."


"Kenapa mendadak sekali? Kenapa nggak bilang dari jauh-jauh hari? Ada apa? Kenapa mendadak?" Bian mengulang-ulang pertanyaan seakan ia tak terima dengan kepergian wanita itu.


"Untuk alasan aku udah bilang tadi, kan? Aku nggak ada niat untuk kasih tahu mendadak. Aku siapnya baru sekarang. Maaf ini terlalu mendadak untukmu. Maafkan Aku."


Mereka saling tatap dalam keheningan untuk sesaat. Membiarkan pandangan mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Tersadar bahwa ia tidak bisa meninggakan Cashel terlalu lama, Nuna kembali menyodorkan amplop yang ia bawa.


"Apa?"


"Titipan dari Ayah."


Bian menerima amplop itu dan membukanya. Melihat lembaran uang berwarna merah dan biru dalam jumlah lumayan banyak membuat Bian seketika meletakkan kembali benda itu ke telapak tangan Nuna.


"Aku nggak mau. Simpan saja uangnya."


"Bian, jangan biarkan kami menanggung dosa dengan tidak membayar hutang."


"Baik. Aku terima uang ini, uang ini udah jadi milik aku, kan? Uang ini jadi hak aku dan aku bebas mau kasih ini ke siapa pun. Aku kasih uang ini buat Cashel. Buat kebutuhan dia, dia nggak boleh kekurangan apa pun. Gimana? Bisa diterima?"


Siapa yang tidak terharu bila di posisi Nuna? Wanita yang masih ada rasa sensitif perasannya itu seketika meluruhkan air matanya. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa untuk membalas kebaikan yang Bian berikan. Rasanya apa pun yang ia lakukan tidak cukup untuk membalas jasanya.

__ADS_1


Entah terbawa suasana atau bagaimana, Bian menghapus air mata Nuna yang terjun bebas. Merasakan sentuhan fisik dari pria itu membuat Nuna tak mampu membendung perasaannya. Ia tiba-tiba memeluk Bian dengan erat dan menumpahkan air matanya di dada lebar pria 30 tahun itu.


__ADS_2