Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
55. Lampu Hijau


__ADS_3

Semarah apa pun Bian pada Nuna, pria itu tetap saja tak bisa merubah perasaannya. Rasa sayang dan cinta yang sudah bersarang sepertinya sudah tidak bisa diganggu gugat dengan perintilan amarah yang sudah memuncak.


Sudah enam bulan dari pertengkarannya dengan Nuna saat di toko milik wanita itu. Meski ia sudah tidak lagi mengejar atau menampakkan diri di hadapan Nuna, nyatanya rasa sayangnya masih tetap sama. Hal itu dibuktikan Bian dengan mengawasi Nuna dari kejauhan.


Ia tak pernah lelah membuntuti wanita itu setiap Cashel pulang sekolah. Usaha untuk memenangkan hati Nuna kini ia ganti dengan metode membawa namanya dalam sepertiga malam. Ia memang bukan orang yang paham dan pandai agama, tapi setidaknya ia paham bagaimana cara meminta yang baik pada Tuhan. Entah itu meminta dijauhkan atau didekatkan.


Terkadang ingin sekali rasanya ia ke rumah Nuna tanpa sepengetahuan wanita itu, tapi ia sendiri tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk bertandang ke rumahnya tanpa sepengetahuannya. Bicara dari hati ke hati dengan kepala dingin dengan kedua orang tuanya sepertinya akan lebih membuahkan hasil.


Hingga akhirnya pikirannya itu ia laksanakan hari ini, dihari minggu yang cukup panas di jam yang masih sepuluh pagi, ia membelah jalanan yang cukup ramai karena banyak orang yang menghabiskan sisa hari liburnya.


Ia terdiam sejenak di jalanan yang tak jauh dari rumah Nuna. Ia mengamati rumah itu apakah ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tak berselang lama, Cashel keluar rumah dan berlarian menuju jalan. Ia tak tahu anak kecil itu mau ke mana, mungkin saja berlari menuju rumah temannya.


Bian membuka pintu dan mencegat Cashel saat anak itu hampir mendekati mobilnya. Anak itu seketika berhenti dan menatap Bian dengan tatapan serta raut wajah bertanya-tanya. Nampaknya ia sudah lupa dengan wajah Bian.


"Cashel lupa sama Om? Ini Om Bian, yang pernah antar kamu ke sekolah pasa tas kamu tertinggal di restoran Om."


Hanya butuh waktu beberapa detik saja, Cashel sudah mengingat pria itu. Hal sederhana itu nyatanya membuat Bian bahagia.


"Kamu mau ke mana? Ibu ada di rumah?"


"Ibu lagi di toko."


"Di rumah ada siapa?"

__ADS_1


"Kakek sama Om Nizar."


"Mau antar Om ke rumah nggak? Om mau main. Oh, ya Om ada sesuatu buat kamu. Sebentar." Bian melipir sebentar ke mobil dan membawa tas berukuran sedang. Ia sudah lama mempersiapkan itu memang untuk anak yang sempat ia dekap saat bayi.


"Itu apa Om?"


"Hadiah buat anak sholeh. Nanti aja dibuka di rumah, sekarang biar Om yang bawa, berat." Bian menggandeng tangan anak kecil itu lalu berjalan kembali ke rumah. Pemandangan itu pantas sekali disebut dengan sebutan hubungan antara ayah dan anak.


"Om habis marahin Ibu waktu itu nggak pernah datang lagi. Aku sampai lupa sama wajah Om."


Pertanyaan dari Cashel membuat langkah Bian terhenti dan berlutut di depan anak itu.


"Kok kamu masih ingat kalau Om pernah marahin Ibu?"


"Soalnya Om buat Ibu nangis terus, Ibu jadi ngelamun dan sedih setelah Om marahin."


"Om marah karena Ibu nakal. Sama kayak kamu, kalau kamu nakal Ibu pasti marah, kan? Tapi marahnya pasti nggak lama. Kira-kira kalau ada yang marahin Cashel pas Cashel nakal itu sayang atau nggak sama Cashel?"


Anak itu berpikir sejenak, "Sayang. Kata Ibu kalau Ibu lagi marahin aku karena aku salah, nakal, atau susah dibilangin, itu karena Ibu peduli sama aku."


"Nah itu tahu. Berarti kalau Om marahin Ibu. Om..."


"Sayang sama Ibu?"

__ADS_1


"Anak pintar," puji Bian seraya mengusap puncak kepala anak itu. "Ya udah sekarang kita pulang," imbuhnya.


Kedua laki-laki berbeda generasi itu melanjutkan langkah untuk mencapai rumah. Obrolan ringan dan pertanyaan seputar sekolah Bian tanyakan pada anak itu. Ia berharap langkah awal ini membawanya ke perubahan yang ia inginkan.


Begitu sampai rumah, Cashel berlari ke dalam dan memanggil kakeknya. Tak perlu menunggu lama, Bian sudah melihat Pak Lukman dan cucunya berjalan menemuinya.


Senyum ramah yang menyambut kedatangannya membuat Bian lega lantaran pria itu tak berubah. Dan ia lagi-lagi berharap ini adalah jalan untuk membuat ia diterima di keluarga sederhana itu.


"Silakan masuk, Nak."


Bian masuk dan mendudukkan diri di sofa bermotif bunga itu. Cashel sejak tadi bergelayut di lengan Pak Lukman, pria itu sempat meminta cucunya untuk pergi bermain, namun dengan cepat Bian mengatakan ingin melakukan pendekatan dengan anak tujuh tahun itu. Agar tak mendengar obrolan orng dewasa, akhirnya Bian memberinya tas yang tadi ia bawa. Mainan dan beberapa buku dongeng pasti akan membuat Cashel tetap di rumah tanpa mendengar obrolannya.


"Kamu terlihat berbeda dari tujuh tahun yang lalu."


"Alhamdulillah, Pak. Tuhan membuat saya berubah dalam keuangan."


Dari obrolan sederhana itu, mengalirlah obrolan-obrolan ringan lainnya. Pak Lukman masih tetap sama ramah dan baiknya dari tujuh tahun yang lalu. Dari obrolan itu Bian akhirnya tahu kenapa Nuna beserta keluarga yang lain menghilang.


Alasan yang klise dan alasan yang sama yang pernah dilontarkan Nuna sepertinya memang menjadi alasan yang memang satu-satunya menjadi penghalang.


"Sebenarnya Bapak dan Ibu sudah menasehati Nuna untuk tidak bersikap seperti ini karena ini sama saja tidak menghargai kebaikan yang sudah pernah kamu berikan, tapi kembali lagi Nuna yang menjalani ini. Jadi Bapak dan Ibu tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti apa maunya. Bapak harap kamu mengerti dengan apa yang Nuna rasakan. Dia pasti sangat tidak percaya diri dengan statusnya single parent yang ia sandang."


"Saya sangat mengerti dengan statusnya, Pak. Itulah sebabnya saya masih memperjuangkan dia. Saya ingin dia tahu kalau cinta saya ini bukan dari apa-apa yang dia punya. Apa pun yang ada di diri Nuna, saya suka saya cinta. Saya tidak akan berani bicara seperti ini jika perasaan saya bertahan sementara. Tapi ini sudah terhitung dari lima tahun yang lalu, Pak. di saat Nuna pergi bekerja untuk merubah nasibnya. Saya sudah punya perasaan itu, bahkan saya sudah berniat untuk datang kemari sebelum Nuna pergi. Tapi dia tidak mengizinkan saya. Jadi akhirnya saya putuskan untuk menuruti dia dan menunggu sampai dia pulang. Tapi saya nggak menyangka kalau kepulangannya justru membawa perubahan seperti ini. Bahkan di saat semuanya sudah benar-benar berubah di mata saya, entah kenapa perasaan saya tidak bisa pergi. Jadi maksud saya ke sini saya berniat ingin melakukan pendekatan dengan Chasel, barangkali melalui dia saya bisa mendapatkan hati Nuna. Tapi saya melakukan itu ingin mendapatkan izin dari Bapak dulu, jika Bapak mengizinkan saya akan meneruskan usaha saya, saya akan teruskan. Tapi jika tidak, saya akan mundur. Yang terpenting sekarang bagi saya adalah restu dari Bapak dan Ibu, untuk Nuna saya yakin saya bisa untuk memenangkan hatinya."

__ADS_1


"Kalau Bapak sama Ibu serahkan semuanya sama Nuna. Nuna yang menjalaninya, tapi kalau secara pribadi Bapak sangat merestui jika kamu ada niat baik untuk menikahi anak Bapak. Bapak juga laki-laki, jadi Bapak mengerti apa yang kamu rasakan. Dulu Bapak juga susah banget dapetin Ibu. Asal kamu tahu, perempuan itu memang begitu. Kalau ditanya cinta apa nggak sama seseorang gitu, pasti jawabannya tidak. Padahal hatinya berkata lain. Nanti akan Bapak bantu."


Senyum bersyukur beserta kelegaan muncul begitu saja di bibir Bian. Tak ada yang tahu betapa bahagianya ia mendapat lampu hijau dari Pak Lukman untuk menikahi anaknya. Pikiran dan hatinya merasakan kelegaan dan merasakan bebannya berbulan-bulan belakangan terangkat separuhnya.


__ADS_2